Momentum Isra’ Mi’raj, Saatnya Membumikan Aturan Samawi

Opini175 Views

Penulis: Fauziah, S.Pd | Pendidik dan Aktivis Dakwah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seperti dilaporkan Liputan6.com (10/1/2026), peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah. Peristiwa agung ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum spiritual yang sarat pesan peradaban bagi umat Islam.

Seperti diberitakan Detik.com (10/1/2026), berbagai tema kreatif kerap disiapkan masyarakat untuk memeriahkan Isra’ Mi’raj, mulai dari pengajian, tabligh akbar, hingga kegiatan sosial dan edukatif. Bahkan, sebagaimana diulas Tirto.id (11/1/2026), ceramah Isra’ Mi’raj kini sering dikemas dengan pendekatan komunikatif dan humor ringan agar pesan-pesan keislaman lebih mudah diterima oleh semua kalangan.

Di lingkungan pendidikan, sebagaimana dirilis Malangterkini.com (10/1/2026), peringatan Isra’ Mi’raj juga dimaknai sebagai sarana menanamkan nilai keimanan, akhlak, dan keteladanan Rasulullah SAW kepada para siswa melalui lomba dan kegiatan yang mendidik serta menyenangkan.

Namun demikian, peringatan bulan Rajab dan peristiwa Isra’ Mi’raj sering kali berhenti pada pemaknaan spiritual yang terbatas, yakni sekadar kisah perjalanan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha dan turunnya perintah shalat.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, Isra’ Mi’raj terjadi tidak lama sebelum Baiat Aqabah Kedua, sebuah peristiwa politik strategis yang menjadi pintu masuk tegaknya masyarakat Islam di Madinah.

Di titik inilah Isra’ Mi’raj sesungguhnya bukan hanya peristiwa ruhani, tetapi juga gerbang perubahan ideologis dan sosial umat. Shalat yang diperintahkan dalam Isra’ Mi’raj bukan sekadar ibadah mahdhah, melainkan simbol ketaatan total kepada hukum Allah.

Dalam berbagai hadits, menegakkan shalat dimaknai sebagai menegakkan hukum Allah dalam kehidupan, baik secara personal maupun sosial.

Realitas hari ini menunjukkan umat Islam hidup dalam tatanan global yang didominasi sistem sekuler dan kapitalistik. Pasca runtuhnya Turki Utsmani lebih dari satu abad lalu, umat kehilangan institusi yang secara menyeluruh menerapkan syariat Islam. Sistem demokrasi kapitalisme yang bertahan hingga kini kerap melahirkan krisis multidimensi—ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial, konflik kemanusiaan, bahkan kerusakan lingkungan.

Ditinggalkannya hukum Allah bukan sekadar persoalan teologis, tetapi berdampak nyata pada kehidupan manusia.

Sejarah mencatat, runtuhnya Turki Utsmani menjadi titik balik lahirnya berbagai penjajahan, termasuk tragedi kemanusiaan di Palestina—negeri yang menjadi saksi perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Hingga kini, penderitaan umat Islam juga terus terjadi di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina selatan.

Momentum Rajab dan Isra’ Mi’raj semestinya menggerakkan kesadaran umat untuk kembali menjadikan hukum Allah sebagai pedoman hidup. Membumikan hukum dari langit bukan berarti mengabaikan nilai kemanusiaan, melainkan justru menghadirkan keadilan, persatuan, dan rahmat bagi seluruh alam.

Seruan untuk persatuan umat, pembelaan terhadap kaum tertindas, dan upaya mengembalikan kemuliaan Islam harus ditempatkan dalam kerangka dakwah yang bijak, beradab, dan penuh tanggung jawab. Sejarah para pemimpin besar Islam—dari Khulafaur Rasyidin hingga Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih—menunjukkan bahwa kemuliaan Islam lahir dari keimanan, ilmu, dan kepemimpinan yang adil.

Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan cermin masa depan. Ia mengingatkan umat bahwa kebangkitan sejati hanya mungkin terwujud ketika nilai-nilai ilahi kembali membumi dalam kehidupan pribadi, sosial, dan peradaban. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment