Penulis: Nurul Latifah, S.Ag. | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Baru-baru ini publik digemparkan oleh kabar seorang ibu yang bunuh diri setelah terlebih dahulu meracuni dua anaknya. Tragedi ini diduga dipicu depresi akibat tekanan ekonomi dan persoalan rumah tangga. Kasus tersebut menambah daftar panjang aksi bunuh diri yang melibatkan anak sebagai korban.
Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Bareskrim Polri menunjukkan, angka bunuh diri meningkat tajam dalam lima tahun terakhir, dengan kenaikan mencapai 60 persen. Tahun 2022 tercatat 887 kasus, naik menjadi 1.288 kasus pada 2023, dan 1.023 kasus pada 2024. Hingga Mei 2025, jumlahnya sudah mencapai 600 kasus.
Fakta di lapangan bisa jadi lebih mengkhawatirkan. Indonesian Association for Suicide Prevention (INASP) memperkirakan tingkat underreporting mencapai 300 persen—jauh di atas rata-rata dunia yang hanya 0–50 persen.
Salah satu faktor dominan adalah jerat kemiskinan. Komnas Perempuan bahkan menyebut kemelaratan kerap menjadi pemicu filisida maternal, yaitu ibu yang tega mengakhiri hidup anaknya karena tak sanggup melihat penderitaan mereka.
Bunuh Diri, Perbuatan Tercela
Islam dengan tegas melarang bunuh diri. Allah SWT berfirman:
“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (QS. an-Nisa [4]: 29).
Rasulullah SAW juga memperingatkan:
“Siapa saja yang melakukan bunuh diri dengan sesuatu, ia akan diazab dengan sesuatu itu pada Hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Larangan ini sejatinya bentuk kasih sayang Allah dan Rasul-Nya, agar umat terhindar dari azab yang pedih. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa orang tua tidak boleh membunuh anak karena takut miskin. Semua ini menunjukkan betapa Islam menjaga martabat hidup manusia.
Meneladani Rasulullah SAW dalam Mensejahterakan Umat
Bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, semestinya menjadi momentum muhasabah. Nabi diutus untuk membawa risalah Islam yang menenteramkan, menegakkan negara dan masyarakat di atas akidah yang kokoh. Dari keyakinan itulah lahir sikap tawakal, optimisme, dan keteguhan menghadapi ujian hidup.
Beliau sendiri mencontohkan kesabaran dalam keterbatasan, bahkan sering menahan lapar dengan mengganjal perut menggunakan batu. Meski demikian, beliau tetap menekankan pentingnya bekerja keras dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain.
“Seandainya salah seorang di antara kalian mengambil seutas tali, lalu memikul kayu bakar di atas punggungnya untuk dijual, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain.” (HR. al-Bukhari).
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepedulian sosial. Beliau mengecam keras seorang Muslim yang hidup kenyang sementara tetangganya kelaparan.
“Tidak beriman kepada diriku siapa saja yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.” (HR. ath-Thabrani).
Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW
Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW menjadi teladan dalam mengurus umat. Beliau menegaskan bahwa pemimpin adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka.
“Pemimpin manusia (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas mereka.” (Muttafaq ‘alayh).
Beliau juga memperingatkan para pejabat agar tidak menutup diri dari rakyatnya.
“Siapa pun pemimpin yang menutup pintunya bagi orang miskin, Allah akan menutup pintu langit bagi kebutuhannya.” (HR. at-Tirmidzi).
Kemiskinan, kesenjangan sosial, dan gelombang keputusasaan yang kita hadapi hari ini sejatinya buah dari diterapkannya sekularisme dan kapitalisme.
Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, membuat manusia kehilangan keyakinan akan pertolongan Allah, enggan bertawakal, dan hanya bersandar pada sesama manusia. Sementara kapitalisme melahirkan kesenjangan, eksploitasi, individualisme, dan hilangnya semangat tolong-menolong.
Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan keteladanan nyata dalam membangun masyarakat sejahtera, berlandaskan iman dan kepedulian sosial, dengan negara sebagai pengayom kehidupan umat. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]









Comment