“Monster Pabrik Rambut”, Horor Fantasy Retro Soroti Budaya Lembur

Hiburan16 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Rumah produksi Palari Films kembali menghadirkan film dengan pendekatan berbeda melalui Monster Pabrik Rambut, karya terbaru sutradara Edwin. Film horor fantasi retro tersebut mulai tayang serentak di bioskop Indonesia pada 4 Juni 2026.

Film ini dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, serta Kev. Berbeda dari film horor yang bertumpu pada unsur supranatural, Monster Pabrik Rambut menghadirkan teror yang lahir dari kehidupan para pekerja di lingkungan kerja yang penuh tekanan.

Latar cerita berpusat di sebuah pabrik rambut dengan suasana suram yang dipimpin Maryati, pemilik pabrik yang diperankan Didik Nini Thowok. Berbagai kejadian ganjil mulai muncul ketika para pekerja dipaksa terus bekerja tanpa waktu istirahat yang memadai.

Edwin mengatakan film ini mencoba menghadirkan sumber ketakutan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

“Ketegangan dan teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror,” kata Edwin.

Selain menawarkan unsur horor dan fantasi, film ini juga mengangkat kritik terhadap budaya kerja berlebihan atau hustle culture yang kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan. Melalui pengalaman para tokohnya, film ini menyoroti dampak tekanan kerja yang dapat menggerus kesehatan fisik, mental, dan hubungan keluarga.

Untuk memperkuat nuansa horor klasik Indonesia era 1980-an, Edwin memilih menggunakan teknik practical effect tanpa bantuan CGI. Bersama penata artistik Menfo Tantono, tim produksi menyulap studio PFN menjadi pabrik rambut lengkap dengan penggunaan rambut asli, manekin, prostetik, serta berbagai peralatan industri wig yang dirancang secara autentik.

Produser Meiske Taurisia mengatakan ide film ini berangkat dari pertanyaan sederhana tentang tekanan yang sering dialami pekerja di lingkungan kerja.
“Bagaimana bentuk monster di tempat kerja kamu?” ujar Meiske.

Tak hanya menarik perhatian di dalam negeri, film ko-produksi Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis ini juga telah menorehkan jejak di sejumlah festival film internasional.

Monster Pabrik Rambut menjalani pemutaran perdana dunia di Berlin International Film Festival dan turut diputar di Brussels Fantastic Film Festival serta Hong Kong International Film Festival. Film tersebut juga dijadwalkan tampil di Fantasia International Film Festival.

Dalam film ini, Rachel Amanda memerankan Putri, seorang perempuan yang kehilangan ibunya setelah bekerja tanpa henti selama beberapa hari. Peristiwa itu kemudian membuka misteri yang melibatkan sang adik, Ida, dan Bona, adik bungsu mereka yang memiliki kemampuan unik untuk meregenerasi bagian tubuhnya.

Rachel Amanda menilai tema yang diangkat film ini relevan dengan kondisi banyak pekerja saat ini.

“Sering kali lembur dan mengorbankan waktu bersama keluarga dianggap sebagai bentuk kerja keras. Film ini mengajak kita mempertanyakan apakah sistem kerja seperti itu benar,” ujarnya.

Sementara itu, Iqbaal Ramadhan menyebut karakter Bona sebagai sosok yang unik sekaligus merepresentasikan perlawanan terhadap tuntutan produktivitas yang berlebihan.

Dengan memadukan horor, fantasi, kritik sosial, dan visual retro yang kuat, Monster Pabrik Rambut menawarkan pengalaman sinematik yang berbeda.

Di balik ketegangan yang disajikan, film ini mengajak penonton merefleksikan realitas dunia kerja modern yang sering kali menuntut manusia melampaui batas kemampuannya.[]

Comment