Penulis: Aidil Afdal, S.IP | Ketua Umum Lembaga Monitoring Hukum dan Keuangan Negara
Tukang Kayu di Pinggir Jalan Sukahati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Tidak semua perjalanan tampak gemerlap, namun sering kali justru dari jalan yang sunyi itulah lahir keteladanan. Itulah yang saya tangkap dari kisah hidup sosok yang akrab disapa Mas Bro Bogor Raya.
Sebagian orang menjulukinya “pengangguran banyak acara”. Sebutan yang terdengar sinis, bahkan meremehkan.
Padahal, di balik label itu, ia adalah seorang tukang kayu yang tekun, penggiat bantuan hukum bagi masyarakat kecil, sekaligus pencinta mobil tua yang setia merawat karya klasik penuh kesabaran.
Bagi saya, julukan itu tidak adil. Ia bukan pengangguran, melainkan pribadi yang bekerja dengan cara yang sering luput dari pengakuan publik.
Ia menangani persoalan hukum masyarakat kecil—sering kali tanpa bayaran layak—sembari membuat mebel berkualitas dengan nilai seni tinggi. Dari kursi, lemari, hingga ukiran kayu, semua dikerjakan dengan ketelitian dan rasa tanggung jawab.
Mas Bro berasal dari sebuah kampung kecil di Jawa Tengah. Ia datang ke kota dengan mimpi sederhana – belajar ekonomi dan hukum agar kelak tak menjadi korban ketidakadilan sistem. Mimpi itu tidak datang tanpa cibiran. Logat Jawa yang kental, penampilan yang bersahaja, dan status ekonomi keluarga sering menjadikannya bahan ejekan. “Anak kampung mau jadi pengacara?” begitu kata yang kerap ia dengar.
Namun ia memilih diam dan bekerja. Ia membiayai kuliahnya sendiri dengan menjadi tukang kayu dan mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan. Ketika rasa tertinggal datang, air mata hanya jatuh di atas sajadah. Pesan orang tua dan neneknya sederhana namun kuat: pendidikan adalah jalan perubahan nasib.
Di sela kuliah, ia memperkaya diri dengan membaca di perpustakaan dan mengikuti seminar gratis. Ketika mendampingi buruh dan pedagang kecil dalam persoalan hukum, ia tak berhenti pada pembelaan kasus semata.
Ia mengajarkan keterampilan membuat peralatan kayu, agar mereka memiliki bekal tambahan untuk bertahan hidup. Bagi saya, inilah makna kepedulian yang sesungguhnya: memberi kail, bukan sekadar ikan.
Kini, lebih dari 27 tahun ia menetap di Bogor. Namanya mulai dikenal, bukan karena sensasi, tetapi karena kepercayaan. Beberapa kasus yang ia tangani memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Meski hidup sederhana, ia tetap bersyukur. Ia masih bisa membantu keluarga di kampung, menyokong pendidikan kerabat, dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Ia tinggal di rumah sederhana di pinggir Jalan Sukahati, yang sekaligus menjadi bengkel dan etalase mebel buatannya. Hidupnya bersahaja: nasi dengan sambal buatan sendiri, ponsel lama yang masih berfungsi, dan prinsip hidup yang teguh—tidak mau mengubah jati diri demi diterima lingkungan tertentu.
Dari perjalanan hidupnya, saya menarik beberapa pelajaran penting:
– Tetap konsisten meski tak diperhatikan.
– Fokus memperbaiki diri, bukan membuktikan diri.
– Tenang saat orang lain panik.
– Produktif ketika banyak orang memilih mengeluh.
– Tak mengejar pengakuan, namun hasil kerja tak bisa diabaikan.
– Disiplin meski tak ada yang mengawasi.
Menjadi diri sendiri di dunia yang gemar meniru.
Kisah ini bukan untuk mencari pujian, apalagi sensasi. Ia adalah pengingat bahwa hidup kadang terasa sunyi dan tidak adil. Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk menempatkan orang pada posisi yang layak.
Jika kita ingin dihargai, mulailah dari satu hal paling mendasar: mendisiplinkan diri sendiri.[]









Comment