by

Muhamad Andrian*: Pemerintah Gandeng UMKM Yang Terdampak Covid 19

-Opini-14 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dimasa pandemi covid 19 banyak sektor yang terdampak. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan mulai dari physical distancing, PSBB hingga penerapan new normal.

Implikasinya, ialah untuk mengurangan interaksi secara langsung dan mengurangi keramaian agar tidak terjadi penularan, seperti pengalihan kegiatan belajar mengajar sekolah yang dilakukan lewat online, pusat perbelanjaan, rumah ibadah, restoran, tempat hiburan, hingga transportasi publik.

Banyak sekali sektor yang terkena imbas Covid 19, mulai dari industri besar hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

UMKM di Indonesia mempunyai kontribusi yang sangat penting untuk keberlangsungan perekonomian. selama ini sektor UMKM merupakan pengerak prekonomian indonesia.

Selain itu juga UMKM membantu penyerapan tenaga kerja dan berperan aktif dalam pendistribusian pembangunan.

Hal ini bisa dimengerti karena sektor UMKM beragam usaha. Transformasi pun dilakukan agar bisa bertahan.

Banyak sekali pelaku UMKM yang terimbas pandemi. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah usaha mikro 62.106.900, usaha kecil 757.090, usaha menengah 58.627 dan usaha besar berjumlah 5.460 unit. Dari jumlah tersebut 98% usaha pada level mikro atau sekitar 63 juta terkena dampak.

Sebelum Covid 19, UMKM berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian indonesia. Ekonomi Indonesia 80% ditopang oleh konsumsi dalam negeri. UMKM juga mampu menyerap lebih dari 96% dari total 170 juta tenaga kerja. Asosiasi UMKM Indonesia pada 2019 mencatat kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 65% atau kisaran Rp 2.394,5 triliun.

Berbagai perubahan pun dilakukan di masa pandemi ini mulai dari cara komunikasi, pola kerja, hingga dinamika tim internal berubah.

Begitu juga pola perilaku konsumen bisnis, banyak juga konsep baru yang diterapkan. Kondisi ini menuntut para pelaku UMKM untuk cepat tanggap dalam merespons perubahan. Namun, di tengah perubahan itu, bisa dibilang banyak hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita ambil dalam mempertahankan operasional bisnis dalam situasi sulit ini.

Kalo kita perhatikan dampak pandemi pada bisnis, sebenarnya ada sebagian bisnis yang naik melesat. Atau sebaliknya, jauh menurun dan terpaksa tiarap. Jadi, intinya kita harus belajar untuk siap menghadapinya. Sekalipun pada hal-hal yang mungkin diluar dugaan. Tetapi kita harus jeli melihat dan memprediksi bisnis kita kedepanya terhadap lingkungan dan faktor yang akan mempengaruhi.

Namun, bisa juga mencoba skenario terburuk atau mencoba hal-hal baru sebagai bagian dari membangun ketahanan bisnis. Seperti hal mencoba menerapkan sistem strategi digitalisasi yang saat ini penting sekali untuk keberlangsungan bisnis yang dijalani.

Perlu di ketahui pendorong utama ketahanan bisnis di era baru yang disebut new normal, ialah melek terhadap teknologi dan bergerak di dunia digitalisasi. Tetapi masih ada di antara pelaku UMKM saat ini yang belum menerapkan strategi ini di dalam bisnisnya.

Pemasaran produk UMKM yang sudah terjun ke dunia digital masih bisa dibilang masih sangat minim jumlahnya, baru mencapai 8 juta UMKM atau 13% dari seluruh jumlah UMKM.

Maka dari itu Kementerian Koperasi berharap kepada UMKM untuk bisa go digital agar bisa tetap bertahan, dan bisa bersaing dengan brand besar dan memperatahankan perekonomian agar tetap bisa berputar.

Bahkan di cina ada produsen perangkat Apple yang sementara memutuskan beralih menjadi produsen masker. Akibat tingginya permintaan mengakibatkan kekurangan pasokan masker di seluruh dunia.

Maka dari itu perusahaan Foxconn menargetkan produksi dua juta masker per hari pada akhir bulan untuk membantu menanggulangi penyebaran virus corona.

Dalam perang melawan epidemi ini, “semakin sigap kita mencegah virus, maka semakin banyak nyawa yang kita selamatkan” kata Foxconn di platform media sosial WeChat. dilansir dari situs berita BBC News. Selain memproduksi perangkat iPhone, Foxconn juga merupakan produsen elektronik terbesar di dunia, seperti membuat komponen produk elektronik termasuk iPad, PlayStation, dan Kindle

Perusahaan manufaktur prangkat Apple meminta izin kepada pihak berwenang untuk memulai kembali operasional pabrik yang ditutup. Dikhawatirkan penutupan pabrik dan pembatasan perjalanan perusahaa ini akan berdampak besar pada pasokan barang di seluruh dunia.

Kemampuan menyesuaikan atau bahkan mengubah model bisnis dengan sangat cepat, adaptasi mengatasi hal-hal tidak terduga, dan memiliki rencana fleksibel terbukti akan membuat usaha yang di jalankan bisa bertahan dan lebih tangguh dari pada yang lain. Seperti yang dilakukan pabrik manufaktur perangka Apple di China, perusahaan Foxconn ini mengubah model bisnis nya sementara menjadi pembuat masker.

Untuk memperkuat UMKM lokal di tengah new normal. Bisa juga dengan gerakan membuat hastag #BanggaProdukLokal, mulai mengkampanyekan oleh para influencer, kalangan artis yang memiliki banyak pengikutnya, juga didampingi oleh pemerintah guna mendorong perkembangan UMKM agar terus maju dan bersaing dengan brand besar, bukan hanya semata karena dampak pandemi, tapi memang sudah waktunya UMKM lebih maju dan merambah jalur digital guna mengembangkan usahanya.

Adapun langkah-langkah pemertintah untuk menyelesaikan permasalahan UMKM yang terpuruk di masa pandemi ini, Pertama, mendorong 98% para pelaku UMKM ini untuk masuk ke dalam kelompok miskin baru. Karena untuk mendapatkan bantuan sosial. Ujar Pak Teten Masduki selaku menteri koperasi dan UKM saat ini.

Kedua, penundaan pembayaran cicilan dan bunganya hingga 6 bulan, karena sebagian besar pelaku UMKM masih mengalami masalah dalam pengelolaan keuangan. Sampai akhirnya tidak sanggup membayar cicilan dan bunganya.

Kementrian koperasi dan UKM sediakan pembiayaan, agar mereka masuk dalam program restrukturisasi penundaan cicilan 6 bulan. Pajak disubsidi, diharapkan arus kasnya bisa teratasi,”

Ketiga, memberikan pembiayaan UMKM melalui kredit usaha rakyat (KUR). Teten mengaku masih ada Rp 129 triliun dari 190 triliun anggaran KUR yang ada.

“Berharap jumlah yang disalurkan cukup sebagai modal. Bahkan Rp2,7 triliun masih ada untuk disalurkan ke 266 koperasi yang mengalami hal serupa. Dengan bunga 3% selama 20 bulan,” kata Teten.

Kebijakan keempat adalah mendorong pemerintah agar memprioritaskan belanja produk UMKM. Bahkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), telah menjalin kerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM.

Anggaran belanja pemerintah tahun 2020 ada sekitar Rp735 triliun. Kerjasama ini akan segera diluncurkan. Jika BUMN dan pemerintah belanja dari UMKM, maka ada realisasi baru sebesar 29 triliun baru.

Kelima, pelaku UMKM harus bisa cepat berinovasi dan beradaptasi dengan market baru. Sehingga diperlukan pengadaan pelatihan digital marketing bagi UMKM, serta adanya jalinan kerjasama dengan sektor usaha besar agar UMKM terus berkembang.

Sayangnya, yang masuk hanya 13%, atau 8 juta pelaku usaha yang masuk ke digital. Sisanya 87% yang masih belum terjun ke dunia digital.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 akan tetap ada dalam jangka lama dan tidak bisa diperkirakan kapan akan berakhir. Yang pasti kita lakukan adalah memantau penyebaranya lewat data yang tersedia.

Setidaknya kita bisa terus disiplin menerapkan pola hidup sehat dan menaati protokol kesehatan yang dianjurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam menghadapi gaya hidup baru.

Di sisi lain, Setidaknya new normal ini bisa menjadi harapan dan peluang baik untuk para pelaku UMKM dan brand lokal untuk bankit dan maju. Sudah saatnya UMKM Indonesia menjadi raja di negeri sendiri.[]

*Mahasiswa STEI SEBI, Depok

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =

Rekomendasi Berita