Muslim Arbi: Gula Rakyat dan Garam Impor Derita Petani Cirebon

Berita1483 Views
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Semestinya, ketika Presiden Joko Widodo menunjuk Enggartiasto Lukito, dari partai Nasdem sebagai Mentri Perdagangan yang menggantikan Mendag yang dikembalikan sebagai Kepala BKPM, Thomas Lembing, itu memberi manfaat bagi petani di Cirebon. Petani tebu rakat yang memproduksi gula rakyat maupun petani garam yang memproduksi garam. 
Tapi, rupanya naiknya Enggar panggilan akrab Mendag, politisi Nasdem ini, sangat diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi petani (tebu dan garam) untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Malah sekarang mengambil tindakan yang membuat daftar panjang derita rakyat. Padahal saat Pilpres, waktu itu Joko Widodo yang kini sudah duduk di kursi empuk presiden berjanji untuk sejahtrakan petani. Seperti tertera dalam daftar janji-janji Pilpres 2014 itu. 
Tidak tahu, apa yang ada di benak Enggar sebagai Mendag, dengan melakukan penyegelan gula produksi rakyat dan impor garam itu sebagai realisasi dari janji-janji manis Presiden Joko Widodo? Rasa nya tidak. Karena Jokowi panggilan populer mantan Wali Kota Solo berjanji untuk sejahterakan petani. Lalu kenapa Mentri Perdagangan sakiti petani? Enggar sendiri yang sendiri yang tahu jawaban nya..
Enggar itu putera kelahiran Cirebon, beretnis Tionghoa. Yang melarat dan menderita adalah para petani tebu dan garam dari kaum pribumi. Jangan sampai dalam kasus tebu dan garam rakyat ini berimbas kepada konflik sosial Pri – Non Pri. Dan melahirkan perseteruan anti Cina. Kelihatan ada yang salah dalam tata kelola gula dan tebu rakyat dan garam iImpor yang menghancurkan produksi rakyat.
Di saat aksi demo Petani tebu di depan istana kemarin (28/8), terlihat dengan marah dan kesalnya para petani demonstran melemparkan gula impor di jalan depan istana. Kemarahan petani tebu ini adalah simbol perlawanan rakyat dari petani tebu yang sudah sangat muak terhadap penguasa yang di tunjukan di depan istana, akibat ulah Mendag. Protes serupa dilakukan oleh Alumni IPB yang peduli terhadap nasib petani tebu dan gula mereka.
Akan halnya terkait, importasi gula dan garam dalam hal ini, terlihat kuatnya lobby pengusaha impor dalam meloloskan importasi baik gula mapun garam. Ini dapat diduga karena melalui importasi para importir mudah bermain karena keluarnya izin impor tidak gratis. Konon di internal Kemendag juga para stafnya mengeluh karena semua decesion impor diputuskan mentri. 
Langkah Mendag, Enggar membuka kran impor gula dan garam yang menimbulkan gejolak di masyarakat itu  apakah karena ada kewajiban setor kepada partai yang tidak bisa dielakkan? Sehingga harus membuka kran impor?
Jika, karena kepentingan partai lalu ada kewajiban yang harus disetor, maka itu adalah pengkhianatan kepada rakyat dan konstitusi. Presiden Joko Widodo perlu pertimbangkan ulang posissi di kabinet. 
Bila Jokowi tidak lakukan itu, maka bisa dikatakan ada unsur kesengajaan yang dilakukan terhadap masyarakat Cirebon, khususnya petani tebu dan garam. Apakah penilaian publik seperti itu yang di kehendaki? Wallahu a’lam.[]
Penulis adalah koordinator INDAG WATCH

Comment