Jika tidak, ini adalah kegagalan Presiden dan Kapolri dan juga Ka BIN dalam menjaga ke amanan dan keselamatan masyarakat. Mengingat peran Dr Hermansyah dalam kasus yang di tuduhkan kepada HRS, maka kejadian ini tidak bisa berdiri sendiri.
Polisi jangan terburu buru simpulkan ini kasus kriminal biasa. Cuma senggolan mobil di tol. Kenapa senggolan mobil lalu di dalam mobil sudah di sediakan golok dan sebagainya sebagai alat pembacok? Apakah semua pengendara mobil di tol sehari harinya bawa golok dan senjata tajam?
Sudah sedemikian parahkah perasaan rasa keamanan masyarakat terancam sehingga setiap keluar rumah dan masuk tol harus bawa senjata tajam? Dan apakah setiap senggolan di tol harus dihadapi dengan cara bacok-bacokan? Lalu apa peran polisi dan polisi lalu lintas yang sering patroli di jalan raya dan di tol?
Rasanya polisi terlalu cepat simpulkan bahwa kejadian pembacokan Dr Hermansyah, Ahli IT angakatan 89 ini adalah kriminal biasa dan sekedar sebuah kejadian senggol mobil biasa di jalan Tol.
Jika, Polisi belum lakukan pengusutan secara maksimal sudah menyimpulkan bahwa peristiwa pembacokan ini kriminal biasa, masyarakat dan publik sangat kecewa dengan kinerja dan kerja polisi sebagai penanggung jawab rasa keamanan dan kenyamanan masyarakat. Demikian juga Presiden hanya puas dengan penjelesan kepolisian soal pembacokan yang terlihat sadis itu, sebagai kriminal biasa.
Maka sebagai penanggung jawab keamanan dan ketentraman tertinggai, Presiden dianggap gagal dalam kasus ini. Apalagi posisi Dr Hermansyah dalam kapasitas sebagai pakar IT yang sudah berikan bantahan soal chat palsu terkait dengan tuduhan kepada Habib Rizieq.
Dan, jika Polisi dan Presiden pun hanya batasi peristiwa pembacokan ini pada kriminal biasa, maka patut diduga ini adalah upaya perlindungan terhadap motif sebenarnya dalam kejadian pembacokan ini. Dan upaya kriminalisasi dalam kasus chat palsu habib Rizieq akan tetap d jadikan amunisi oleh penguasa untuk hancurkan nama baik Habib.
Oleh karena itu Presiden wajib perintahkan Kapolri dan juga BIN untuk tangani kasus pembacokan ini secara serius dan penuh tanggung jawab. Kenapa Badan Intelejen Negara (BIN) disebut? Karena BIN disebut-sebut dalam kasus Chat Mesum itu. Ada pesan yang tertangkap dalam kasus pembacokan Pakar IT ini, “Herman, kau jangan macam-macam halangi kami, di habisi kau”.
Jika gagal mengungkap dan membuka motif pembacokan ini dan hanya dilokalisasi sampai pada kriminalisasi biasa, maka Presiden, Kapolri dan Kepala BIN, wajib mundur karena dipandang gagal lindungi masyarakat.[]















Comment