Penulis: Annida Amani, M.Si | Peneliti Bidang Fisika Instrumentasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ilmu adalah kemuliaan yang hakiki. Kemuliaan ini, sebagaimana diajarkan dalam Islam, tidak semestinya hanya tercermin dalam penguasaan pengetahuan semata yang berhenti pada kekayaan intelektual, tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata dan konstruktif. Ilmu, yang berasal dari Allah, merupakan alat dan sarana bagi makhluk-Nya yang berakal untuk memahami dunia dan dirinya, serta menjadi pendorong untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
> “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”
(QS. Ali Imran: 190–191).
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa ilmu tidak sekadar pengetahuan yang dikumpulkan dan diarsipkan, melainkan merupakan kesadaran dan pemahaman mendalam akan ciptaan Allah.
Karena itu, seorang Muslim sejatinya selalu mengaitkan perjalanan menuntut ilmu dengan kebesaran Tuhan. Pengetahuan menjadi kendaraan yang menghantarkannya pada kearifan dan kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta.
Buah dari ilmu bagi seorang Muslim adalah kebijaksanaan—yakni kemampuan mengambil keputusan yang tepat, berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan penilaian, yang semestinya dibingkai dengan kasih sayang dan tanggung jawab.
Dalam Islam, kesantunan adalah nilai utama yang harus dipegang teguh, tanpa mengorbankan substansi pembahasan. Ilmu harus dijaga dalam kualitas dan kedalaman, seraya kita tetap menjaga adab serta sikap saling menghormati. Keberagaman pendapat dan pemikiran dalam setiap disiplin ilmu adalah keniscayaan.
Namun, perdebatan yang tidak terkendali dan hanya memicu konflik tanpa arah justru kontraproduktif dan berisiko menyalahi spirit wahyu. Islam mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam debat yang didorong oleh ego atau kepentingan sesaat. Keberagaman justru harus menjadi kekuatan yang memperkaya pemahaman, bukan ajang untuk saling merendahkan.
Peran Intelektual Muslim dalam Merajut Narasi Ilmiah
Bagaimana seharusnya intelektual Muslim menyikapi keberagaman ini? Saat ini, umat Islam tidak kekurangan figur intelektual dari berbagai bidang—baik di ilmu dasar, ilmu terapan, sains teknologi, hingga humaniora. Ini merupakan anugerah besar yang mencerminkan potensi umat Islam dalam memahami dunia dan membangun peradaban ilmu.
Namun, jumlah yang banyak saja tidak cukup. Tanpa kerangka narasi besar yang menyatukan, kontribusi para intelektual akan tercerai-berai dan kehilangan dampak. Narasi tunggal bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan menyatukan arah.
Di sinilah negara memiliki peran strategis. Negara dengan sejarah panjang keberagaman pemikiran dan tradisi ilmiah, seyogianya mampu menyatukan arah perkembangan ilmu pengetahuan dalam bingkai nilai-nilai Islam yang universal.
Sayangnya, realitas saat ini menunjukkan bahwa arah kebijakan ilmiah di Indonesia masih terfragmentasi. Negara tampak lebih reaktif terhadap tren global daripada membangun arah strategis yang khas dan berakar pada identitas keislaman yang unik.
Di tengah kondisi ini, intelektual Muslim tidak boleh tinggal diam. Mereka harus bersatu, menyusun narasi ilmiah bersama, serta membangun fondasi pemikiran yang kokoh, relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap berpegang pada nilai-nilai luhur Islam.
Narasi inilah yang kemudian dapat menjadi dasar bagi kebijakan ilmu dan pendidikan nasional. Bagi intelektual Muslim, narasi ini bukan sekadar gagasan ilmiah hasil eksperimen, melainkan bagian dari identitas keislaman mereka.
Ilmu adalah amanah, yang harus diarahkan untuk kemaslahatan, kebijaksanaan, dan ketundukan kepada Allah. Intelektual Muslim meyakini bahwa akal adalah anugerah yang membawa rasa ingin tahu dan menjadi pendorong dalam menuntut ilmu serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dengan narasi yang jelas dan disepakati bersama, gerakan intelektual Muslim dapat diibaratkan seperti titik-titik dalam sebuah grafik dengan fungsi tertentu—yakni bergerak dalam lintasan yang terarah, terukur, dan menghasilkan dampak nyata.
Ilmu sebagai Cahaya Kebenaran
Pada akhirnya, ilmu adalah cahaya kebenaran yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya dengan cara yang benar, penuh adab, dan berlandaskan ajaran Islam. Narasi ilmiah yang dibangun semestinya menjadi jembatan untuk memahami dunia dan agama secara lebih mendalam, bukan menjadi pemicu perpecahan.
Kesantunan dalam perbedaan pendapat harus dijaga, dan perdebatan ilmiah harus tetap dalam koridor wahyu. Ketika negara akhirnya mengambil peran lebih aktif dalam merumuskan arah penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, masyarakat pun telah siap dengan pemikiran yang matang, terstruktur, dan berakar kuat pada nilai-nilai keislaman.
Inilah tugas kita sebagai intelektual Muslim: menjadi penjaga ilmu yang tidak hanya mencari kebenaran, tetapi juga menegakkan kesantunan dan integritas dalam setiap langkah pencarian itu.[]














Comment