Nasionalisme  Penghambat Solidaritas Global bagi Palestina

Opini840 Views

 

Penulis: Ihta Tiana S. Pi | Pendidik dan Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gerakan Global March to Gaza yang sedang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah menjadi sorotan dunia internasional sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina (khazanah,14/06/2025).

Munculnya gerakan Global March to Gaza (GMTA) bukan sekadar aksi solidaritas, tetapi cerminan dari kemarahan dan kepedulian mendalam umat Islam atas penderitaan yang terus-menerus dialami rakyat Gaza. Gerakan ini menunjukkan bahwa umat telah sampai pada titik jenuh dan menyadari bahwa penderitaan di Palestina bukan hanya soal kemanusiaan, tetapi persoalan politik global yang sangat kompleks.

Fakta bahwa begitu banyak orang dari berbagai negara bersatu dan berupaya menembus blokade, menjadi sinyal kuat bahwa umat tidak lagi menaruh harapan pada lembaga-lembaga internasional seperti PBB, Liga Arab, atau bahkan pada para penguasa negeri-negeri Muslim yang selama ini bersikap pasif, bahkan cenderung mendukung penjajahan secara tidak langsung.

Seorang pejabat Mesir menyatakan, pemerintah setempat telah mendeportasi lebih dari 30 aktivis di hotel dan Bandara Internasional Kairo.

Pejabat itu menyebut para aktivis dideportasi karena “tidak mengantongi izin yang diperlukan.

“Pemerintah Mesir secara terbuka menentang blokade Israel di Gaza dan mendesak gencatan senjata segera. Namun, Kairo juga getol membungkam pembangkang dan aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik Mesir-Israel (kompas TV, 12/06/2025)

Tertahannya para aktivis kemanusiaan di perbatasan Rafah adalah bukti nyata bahwa segala bentuk aksi kemanusiaan akan selalu dibatasi dan digagalkan selama sistem politik dan batas negara bangsa tetap berdiri kokoh.

Perbatasan Rafah, yang dijaga ketat oleh pemerintah Mesir, bukan hanya simbol dari pembatasan fisik, tetapi juga simbol dari sekat ideologis dan politis yang memisahkan kaum Muslimin.

Ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan kurangnya bantuan, melainkan adanya sistem yang menghalangi persatuan dan solidaritas umat secara politik dan militer.

Hambatan terbesar bukan datang dari luar umat, melainkan dari dalam: yakni nasionalisme dan konsep negara bangsa yang telah ditanamkan penjajah untuk memecah belah umat Islam.

Paham nasionalisme ini telah meracuni pola pikir umat dan penguasanya. Ia telah mengikis rasa persaudaraan Islam dan mematikan nurani para penguasa serta militer negeri-negeri Muslim. Mereka yang seharusnya menjadi pelindung umat justru menjadi pelayan kepentingan penjajah.

Mereka menutup perbatasan, membatasi bantuan, bahkan menjaga keamanan penjajah demi mempertahankan kekuasaan mereka yang bergantung pada restu negara-negara adidaya, khususnya Amerika Serikat. Demi kekuasaan yang semu, mereka rela mengorbankan nasib saudara seiman yang disiksa dan dibantai di Gaza.

Karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk memahami dengan jernih bahwa nasionalisme dan konsep negara bangsa adalah dua instrumen utama yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kekuatan umat.

Sejarah mencatat bagaimana penjajah memecah belah wilayah kekuasaan Islam pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, membagi-baginya menjadi negara-negara kecil yang lemah dan mudah dikendalikan.

Dari sisi pemikiran, nasionalisme menumbuhkan sikap individualisme bangsa dan melemahkan ikatan ukhuwah Islamiyah, padahal umat ini adalah satu tubuh yang seharusnya bergerak bersama di bawah satu kepemimpinan.

Oleh sebab itu, perjuangan membebaskan Palestina tidak cukup hanya dilakukan lewat jalur kemanusiaan atau diplomasi internasional.

Perjuangan tersebut harus bersifat politik ideologis, dengan arah yang jelas: menghapus sekat-sekat negara bangsa, dan mengembalikan satu kepemimpinan politik Islam yang menyatukan seluruh umat dalam satu tubuh, yaitu kepemimpinan Islam global.

Hanya dengan kekuatan politik dan militer yang bersatu, umat Islam dapat benar-benar membebaskan Palestina dan seluruh negeri Islam lainnya dari penjajahan.

Untuk itu, menjadi sangat mendesak bagi umat untuk memberikan dukungan kepada gerakan politik ideologis Islam yang konsisten menyerukan dan memperjuangkan tegaknya kembali kepemimpinan Islam secara global.

Gerakan ini tidak tunduk pada batas negara, tidak takut pada tekanan kekuasaan, dan tidak tergoda oleh kompromi politik dengan penjajah.

Hanya melalui gerakan inilah perubahan hakiki dapat terwujud dan penderitaan umat, khususnya di Palestina, dapat diakhiri dengan solusi Islam yang menyeluruh. Wallahu ‘alam bishowab.[]

Comment