Nasionalisme, Tembok Penghalang Pembebasan Palestina

Opini1677 Views

 

Penulis: Maulidina Imas Ingkadijaya
Aktivis Islam

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Global March to Gaza adalah gerakan solidaritas umat Islam sedunia yang menunjukkan kemarahan atas genosida dan pembantaian yang terjadi di Palestina. Aksi ini berlangsung pada 12–13 Juni 2025 lalu, melibatkan aktivis dan masyarakat sipil dari berbagai negara dalam konvoi darat internasional menuju Gaza melalui perbatasan Tunisia, Libya, dan Mesir.

Namun, setibanya di checkpoint Ismailia, rombongan dihentikan aparat. Paspor mereka disita, lebih dari 200 peserta ditahan, bahkan sebagian dideportasi dari Bandara Kairo.

Mengutip Kompas.tv (12/06/2025), pemerintah Mesir dilaporkan mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan bahwa peserta Global March to Gaza harus terlebih dahulu memperoleh izin resmi. Mereka berdalih bahwa Mesir berhak mengambil tindakan demi menjaga keamanan nasional, termasuk mengatur pergerakan orang di wilayah perbatasan yang sensitif.

Tak hanya deportasi, militer Mesir juga memblokade para peserta yang telah mencapai Gerbang Rafah dengan penjagaan militer penuh. Tembok Rafah tak bisa ditembus, menegaskan adanya penghalang besar yang belum bisa dilampaui saat ini. Apa sesungguhnya tembok itu?

Fakta bahwa para aktivis tertahan dan tidak bisa menembus blokade Rafah menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan semata tidak cukup menyelesaikan krisis Gaza. Sebab, penghalang terbesar bukanlah militer, melainkan tembok nasionalisme dan sistem negara-bangsa (nation-state).

Paham nasionalisme dan konsep negara-bangsa adalah warisan para penjajah yang sengaja ditanamkan ke dalam benak umat Islam untuk memecah belah persatuan mereka. Akibatnya, para penguasa dan militer di negeri-negeri Muslim tak lagi peka terhadap penderitaan saudaranya sendiri.

Bahkan yang lebih menyakitkan, mereka justru menjalin kerja sama ekonomi dan politik dengan negara pembantai, demi meraih ridha dari adidaya yang menjadi sandaran kekuasaan mereka—Amerika Serikat.

Dari sisi pemikiran dan sejarah, nasionalisme dan konsep negara-bangsa terbukti berbahaya. Dua paham ini pula yang telah digunakan untuk menghancurkan Daulah Islamiyah di Turki dan memperpanjang penjajahan di negeri-negeri Muslim lainnya.

Inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah Mesir menutup akses dan memblokade aktivis Global March to Gaza. Mereka memilih menutup mata dan telinga terhadap tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Gaza.

Oleh karena itu, umat Islam perlu menyadari bahwa solusi bagi Palestina bukan sekadar aksi kemanusiaan, tapi harus berupa perjuangan politis: membongkar sekat-sekat nasionalisme dan mewujudkan kembali kesatuan umat dalam satu kepemimpinan politik Islam. Islam memandang seluruh kaum Muslim sebagai satu tubuh. Ketika satu bagian terluka, seluruh tubuh ikut merasakan derita. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga dan merasa panas.” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2585).

Saatnya umat bersatu dalam barisan perjuangan ideologis-politik yang konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina tanpa mengenal batas nasionalisme, dan mewujudkan kesatuan umat dalam naungan kepemimpinan Islam global dan menyeluruh. Wallahu a’lam.[]

Comment