One Piece dan Potret Ketidakadilan: Kemerdekaan yang Masih Tersandera

Opini1010 Views

 

Penulis: Yuri Ayu Lestari, S.Pd | Aktivis Dakwah dan Pemerhati Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, publik dibuat geger dengan munculnya bendera bergambar tengkorak ber-topi jerami—ikon bajak laut dari serial populer One Piece—yang berkibar di berbagai kota.

Bukan perompak yang mengibarkannya, melainkan seniman, pelajar, dan aktivis. Tujuan mereka sederhana tapi sarat makna: menyampaikan keresahan, mengingatkan bahwa di balik gegap gempita kemerdekaan, masih ada jerat ketidakadilan yang mencekik rakyat.

Reaksi pemerintah dan sebagian anggota DPR pun keras. Ada yang menilai aksi ini bentuk pembangkangan dan ancaman terhadap wibawa negara. Bahkan, tuduhan provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa pun muncul.

Namun, banyak juga yang melihatnya sebagai ekspresi kebebasan berpendapat. Komnas HAM mengingatkan, selama tak merusak simbol negara, respons terhadap aksi seperti ini sebaiknya tak berlebihan.

Pertanyaannya, mengapa selembar kain bergambar tengkorak bisa memicu perdebatan nasional? Jawabannya ada pada pesan yang dikandungnya.

Simbol Kekecewaan, Bukan Upaya Makar

Mengibarkan bendera bajak laut One Piece di momen kemerdekaan bukanlah seruan kudeta. Itu adalah simbol kekecewaan, semacam surat terbuka yang diterbangkan di udara: “Kami mencintai negeri ini, tapi kami tak rela melihatnya terus dikuasai segelintir orang yang mementingkan diri sendiri.”

Aksi ini menandai adanya jurang yang makin lebar antara rakyat dan para penguasa. Bendera itu tidak menolak merah putih, tapi menuntut agar nilai kemerdekaan dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya kalangan elit yang duduk nyaman di kursi kekuasaan.

One Piece, Cermin Realitas Negeri

Bagi penggemar One Piece, ceritanya berpusat pada kru Topi Jerami yang berpetualang melawan kekuasaan korup dan menyelamatkan kaum tertindas. Pemerintah dunia dalam kisah itu penuh intrik, kolusi, dan manipulasi—cerminan yang tak sepenuhnya berbeda dari kenyataan di sini.

Secara formal, Indonesia memang merdeka. Tapi bagi banyak rakyat, kemerdekaan itu terasa semu. Kebijakan sering berpihak pada elite, sementara rakyat berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kapitalisme: Mesin yang Memperlebar Kesenjangan

Akar masalah ini terletak pada sistem yang menopang cara negara berjalan: kapitalisme. Sistem ini menempatkan keuntungan segelintir orang di atas kepentingan bersama. Hasilnya? Kesenjangan sosial yang makin menganga.

Pejabat dan pengusaha menikmati kemewahan—rumah megah, mobil mahal, liburan mewah—sementara jutaan rakyat terjebak kemiskinan struktural: pekerjaan tidak tetap, biaya kesehatan tinggi, harga pangan yang terus merangkak naik. Semua ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang menjadikan uang dan kekuasaan sebagai raja.

Seperti di dunia One Piece, di mana kota dekat pusat kekuasaan hidup makmur sementara pulau terpencil merana, di Indonesia pun hal serupa terjadi. Sumber daya alam dieksploitasi, namun penduduk lokal tetap miskin.

Kesenjangan yang Terasa Sehari-hari

Contoh nyatanya terlihat jelas:

1. Nelayan kalah bersaing dengan ikan impor murah.

2. Petani kehilangan lahan akibat proyek dan investasi yang tak memberi ganti rugi layak.

3. Buruh bekerja belasan jam dengan upah pas-pasan, sementara harga kebutuhan pokok terus naik.

4. Lulusan perguruan tinggi terjebak dalam pekerjaan kontrak tanpa kepastian.

Sementara itu, pesta dan perayaan berjalan meriah di lingkaran elite. Mereka bicara soal “pertumbuhan ekonomi”, padahal yang tumbuh hanya grafik, bukan kesejahteraan rakyat.

Kesadaran yang Perlu Terarah

Bendera One Piece yang berkibar adalah sinyal bahwa rakyat mulai sadar ada yang salah. Tapi kesadaran ini perlu diarahkan. Masalah kita bukan sekadar soal individu atau kebijakan, melainkan sistem yang menopangnya.

Kapitalisme adalah buatan manusia, penuh celah dan bias kepentingan. Selama sistem ini berdiri, wajah penguasa boleh berganti, tapi penderitaan rakyat tetap sama.

Islam: Solusi Menyeluruh

Islam hadir bukan hanya untuk mengatur ibadah, tetapi juga sebagai sistem hidup yang komprehensif. Di dalamnya ada aturan ekonomi, politik, hukum, dan sosial yang berpihak pada keadilan. Zakat, larangan riba, distribusi kekayaan, dan perlindungan terhadap yang lemah adalah fondasi yang mampu mengikis kesenjangan.

Dalam Islam, pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa yang mencari keuntungan pribadi. Amanah kekuasaan dijalankan dengan prinsip takwa, bukan ambisi kelompok.

Dari Simbol ke Perubahan Nyata

Mengibarkan bendera One Piece bisa memicu diskusi, tapi perubahan memerlukan aksi nyata: edukasi, dakwah, dan pembentukan komunitas yang sadar pentingnya mengganti sistem yang menindas.

Kemerdekaan sejati bukan hadiah tahunan yang dirayakan dengan kembang api, melainkan keadaan yang harus diperjuangkan setiap hari. Selama logika kapitalisme menguasai, kemerdekaan akan tetap menjadi milik segelintir orang.

Kita mungkin tak akan menemukan Luffy di dunia nyata, tapi kita bisa menjadi rakyat yang berani menuntut keadilan—bukan dengan pedang, melainkan dengan kesadaran, persatuan, dan perjuangan terarah.

Doa untuk Negeri

Semoga Allah menjaga negeri ini, menganugerahkan pemimpin yang adil, dan menyatukan hati rakyat untuk menegakkan kebenaran demi kemakmuran bersama.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي بَلَدِنَا، وَاجْعَلْهُ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَّاءً رَخَاءً، وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ

“Ya Allah, berkahilah negeri kami ini, jadikanlah ia aman dan tenteram, murah rezeki, dan limpahkanlah kepada penduduknya rezeki dari segala penjuru.”[]

Comment