Penulis: Wulan Amalia Putri, SST | Pekerja Sosial Dinas Sosial Kab. Kolaka
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Meriahnya perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia diwarnai pengibaran bendera One Piece. Aksi ini menuai beragam komentar: ada yang menolak, mendukung, bahkan mencoba menguak makna di balik berkibarnya simbol perjuangan bajak laut, Monkey D. Luffy dan kawan-kawan.
Sebagaimana ditulis Kompas.com (1/8/2025), anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo, menilai aksi tersebut sebagai bentuk pembangkangan terhadap negara. “Ini bisa masuk kategori tindakan makar. Tidak boleh dibiarkan dan harus ada penindakan tegas,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan.
Berbeda dengan itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani memandang pengibaran bendera tersebut sebagai ekspresi positif. Ia menyebut, “Saya kira itu ekspresi kreativitas, ekspresi inovasi, dan pasti hatinya adalah merah putih, semangatnya merah putih, bentuknya adalah syukur kepada Allah” (Wartalaor.com, 8/8/2025).
Oligarki Meresahkan
Kemunculan bendera bajak laut Topi Jerami di tengah momen sakral kemerdekaan menimbulkan beragam penafsiran. Simbol hitam dengan tengkorak dan topi jerami khas Luffy sejatinya bukan sekadar hiburan, melainkan mengandung filosofi kebebasan dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Mengutip Kompas.com, tengkorak dan tulang bersilang pada bendera Straw Hat Pirates merupakan elemen klasik Jolly Roger yang menandakan status bajak laut. Sementara topi jerami melambangkan impian, kebebasan, dan tekad, dengan ekspresi senyum yang mencerminkan semangat hidup sekalipun di tengah bahaya.
Namun, refleksi atas simbol itu menjadi relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa, dengan kekayaan hutan, laut, tambang, tanah, hingga energi, masih menyisakan ironi.
Data Tradingeconomics.com (Q1 2025) mencatat cadangan emas Indonesia sebesar 78,75 ton, menempatkan Indonesia di posisi pertama dunia. Dari sektor ESDM, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp269,5 triliun, sementara dari sektor perikanan tangkap, hingga 20 Desember 2024, capaian PNBP sebesar Rp966,02 miliar.
Namun, angka-angka besar ini tidak sepenuhnya dirasakan rakyat. Gurita oligarki menjerat, konsentrasi modal hanya berputar pada segelintir elit. Akibatnya, 8,57 persen masyarakat tetap hidup miskin.
Dampak kemiskinan meluas ke berbagai sektor. Simfoni PPA mencatat 15.120 kasus kekerasan anak sepanjang Januari–November 2023. Kementerian Kesehatan (1/7/2024) melaporkan 5,83 juta balita bermasalah gizi, dengan 220 ribu di antaranya memerlukan penanganan segera. Sementara Badan Pusat Statistik (2023) mencatat angka putus sekolah di jenjang SD sebesar 0,13 persen, SMP 1,06 persen, dan SMA 1,38 persen.
Ketidakadilan hukum juga menambah keresahan. Kasus Harvey Moeis yang merugikan negara Rp300 triliun hanya berujung vonis 6,5 tahun penjara. Sementara nenek Asyani dihukum karena mencuri tujuh pohon jati dengan vonis 1 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 1 hari kurungan (Kompas.com). Fenomena ini mempertegas adagium hukum: “tumpul ke atas, tajam ke bawah.”
Keadilan yang Hakiki
Pertanyaan pun muncul: apakah tepat keresahan sosial itu direpresentasikan dengan bendera One Piece? Sebab, simbol bajak laut membawa pesan kebebasan mutlak, yang jika tak terkendali justru melahirkan ketidakadilan baru.
Dalam Islam, keadilan sejati hanya milik Allah Swt. Firman-Nya: “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’am: 57).
Karena itu, pengelolaan harta publik, pemenuhan gizi anak, hak pendidikan, hingga perlindungan masyarakat, adalah amanah yang wajib dijalankan negara sesuai syariat.
Islam juga mengatur mekanisme koreksi terhadap penguasa. Khalifah Abu Bakar ra. berkata, “Jika saya baik, bantulah saya dan jika saya salah, luruskanlah. Taatilah saya selama menaati Allah dan Rasul-Nya.” Umar bin Khattab ra. bahkan meminta rakyatnya meluruskan jika ia bengkok dalam memimpin.
Sejarah mencatat, Umar ra. menyamar memantau rakyat hingga menemukan seorang ibu merebus batu untuk menenangkan anaknya. Umar memanggul sendiri gandum dari Baitul Mal untuk keluarga itu, seraya berkata kepada pengawalnya, “Apakah kamu akan memikul dosaku di Hari Kiamat?”
Inilah potret ideal kepemimpinan: kasih sayang yang dilandasi takwa. Allah Swt. berfirman, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah.” (QS. Ali Imran: 110). Wallahu a’lam bish-shawab.[]









Comment