Optimisme Menatap Masa Depan Indonesia

Opini1217 Views

Penulis: Yakub F. Ismail | Direktur Eksekutif INISIATOR

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di tengah ketidakpastian global, ancaman perlambatan ekonomi dunia akibat konflik geopolitik, serta tekanan terhadap rantai pasok internasional yang kian mengkhawatirkan, Indonesia justru menatap masa depan dengan optimisme yang besar.

Melalui pidato Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, tampak bahwa Indonesia mampu tumbuh lebih kuat dan mandiri melalui strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang matang, serta penguatan pengelolaan sumber daya alam nasional yang produktif.

Menariknya, target pertumbuhan ekonomi dipatok pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027 sebagai langkah menuju target 8 persen pada 2029 mendatang.

Target tersebut tentu bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kepercayaan diri negara terhadap potensi besar yang dimiliki republik ini.

Di balik target tersebut, tersimpan harapan besar bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau penonton dalam lanskap ekonomi global. Indonesia harus mengambil peran sebagai kekuatan ekonomi baru yang mampu mengelola kekayaannya secara mandiri tanpa bergantung pada pihak mana pun demi kesejahteraan rakyat.

Refleksi Pidato Presiden

Jika disimak dengan saksama, pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI sejatinya menunjukkan arah besar kebijakan ekonomi Indonesia ke depan yang penuh optimisme.

Narasi besar dalam pidato tersebut adalah membangun kemandirian ekonomi nasional berbasis penguatan fiskal, optimalisasi sumber daya alam, dan peningkatan kekuatan ekonomi domestik.

Dalam paparannya, Presiden secara gamblang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027 sebagai fondasi penting menuju target ambisius 8 persen yang direncanakan terealisasi pada 2029.

Target tersebut bukan sekadar wacana tanpa pijakan. Hal itu mencerminkan keyakinan pemerintah bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kokoh untuk tumbuh lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan global.

Optimisme yang disampaikan Prabowo juga tidak dibangun di atas pendekatan populis semata demi menyenangkan hati rakyat.

Sebaliknya, semua itu disiapkan melalui strategi ekonomi yang disebut Prabowo sebagai kebijakan fiskal yang prudent (cermat) dan berkelanjutan.

Artinya, pemerintah tengah berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesehatan fiskal negara agar pembangunan tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga stabil dan berjangka panjang.

Pidato Presiden juga mencerminkan arah baru kebijakan pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Pemerintah menekankan pentingnya penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari sektor SDA agar manfaat kekayaan alam nasional dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat Indonesia.

Langkah tersebut direncanakan direalisasikan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA yang mewajibkan ekspor sejumlah komoditas strategis dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Sekilas, kebijakan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memperkuat kontrol terhadap rantai perdagangan komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan produk paduan besi.

Pesan yang dapat ditangkap dari pidato Presiden adalah bahwa pembangunan ekonomi nasional ke depan tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan angka semata, melainkan juga pada kedaulatan ekonomi dan keberpihakan terhadap kepentingan nasional.

Dasar Optimisme

Optimisme menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan esensi pidato Presiden tersebut. Melalui pidato yang penuh optimisme, Presiden mencoba meyakinkan rakyat agar percaya diri menatap masa depan bangsa.

Terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, Indonesia justru memiliki sejumlah sumber daya besar yang membuat prospek ekonominya tetap menjanjikan.

Pertama, kekuatan sumber daya alam Indonesia masih sangat melimpah, mulai dari sektor energi, pertambangan, perkebunan, hingga kelautan.

Indonesia juga dapat dikatakan sebagai salah satu negara dengan cadangan sumber daya terbesar di dunia. Potensi inilah yang kini mulai diarahkan pemerintah untuk memberikan nilai tambah lebih besar bagi ekonomi nasional.

Kedua, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan relatif kuat dibanding negara-negara yang tidak memiliki keunggulan serupa.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, konsumsi domestik menjadi bantalan penting ketika ekonomi global mengalami perlambatan. Banyak negara mengalami tekanan akibat tingginya ketergantungan terhadap ekspor, sementara Indonesia masih memiliki kekuatan konsumsi masyarakat sebagai penggerak utama ekonomi nasional.

Ketiga, bonus demografi menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk melompat menjadi negara maju.

Jumlah penduduk usia produktif Indonesia saat ini sangat besar. Kondisi tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan industri, serta peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Dalam konteks ini, target pertumbuhan ekonomi tinggi yang sedang dicanangkan pemerintah memiliki landasan yang kuat dan keterkaitan erat dengan upaya membuka ruang ekonomi baru bagi generasi muda Indonesia.

Karena itu, di tengah persaingan global yang kian ketat, Indonesia sejatinya memiliki peluang emas untuk tampil sebagai kekuatan ekonomi baru dunia. Kuncinya terletak pada tata kelola sumber daya dan kerja sama dalam membangun bangsa.[]

Comment