Padukan Science dan Ilmu Agama, Santri Ponpes Nuris Jember Ciptakan Mobil Listrik

Daerah, Jember573 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JEMBER – Seperti dilaporkan RRI Jember dan Detik.com, para santri Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember kembali mencatatkan prestasi yang membanggakan. Dari bengkel sederhana di lingkungan pesantren, lahirlah sebuah karya teknologi: mobil listrik berbasis Android yang dirancang dan dirakit sendiri oleh tangan-tangan muda para santri.

Karya ini diberi nama Nuris Smart Car (NSC) — sebuah inovasi yang bukan hanya menjadi kebanggaan pesantren, tetapi juga menegaskan bahwa dunia santri kini tak lagi identik semata dengan kitab kuning dan kajian fiqih. Dari ruang-ruang belajar yang biasanya dipenuhi suara lantunan ayat suci, kini bergema pula suara mesin, kabel, dan rancangan sirkuit.

Menurut laporan RRI Jember, mobil listrik buatan santri Nuris merupakan hasil pengembangan berkelanjutan sejak 2016. Saat itu, para siswa SMK Nuris berhasil menciptakan mobil mini tanpa bantuan tenaga ahli dari luar negeri. Kini, versi terbarunya sudah menggunakan tenaga listrik dan sistem kendali Android, bahkan sebagian diintegrasikan dengan panel tenaga surya.

Kendaraan mungil itu mampu melaju hingga kecepatan 40 kilometer per jam dan telah diuji di sekitar kompleks pesantren. Komponen dasarnya dirancang dari bahan lokal, sementara sistem kelistrikannya dirakit dengan ketelitian dan kreativitas khas santri.

“Awalnya kami hanya ingin belajar praktik otomotif,” ujar salah seorang santri perancang, seperti dikutip dari pesantrennuris.net. “Tapi ternyata, dari belajar itu lahirlah keyakinan bahwa kami pun bisa membuat karya teknologi yang bermanfaat.”

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Islam Jember, KH. Muhyiddin Abdusshomad, menegaskan bahwa pesantrennya tidak ingin mencetak santri yang hanya pandai membaca kitab, tetapi juga santri yang siap menghadapi tantangan zaman.

“Santri harus menjadi bagian dari kemajuan, bukan hanya penonton. Inovasi seperti ini menjadi bagian dari dakwah bil hal — dakwah melalui karya nyata,” tutur Kiai Muhyiddin.

Semangat ini sejalan dengan visi pesantren modern: mengintegrasikan keilmuan agama dan sains. Di bengkel sederhana itu, santri tidak sekadar memutar obeng dan menyolder kabel, tapi juga menanamkan nilai keikhlasan, kemandirian, dan tanggung jawab terhadap ilmu.

Sebagaimana diberitakan Detik.com, Wakil Presiden RI periode 2019–2024, KH. Ma’ruf Amin, pernah menyampaikan apresiasinya terhadap karya santri Nuris Jember. Ia bahkan menyebut mobil listrik tersebut berpotensi menjadi cikal bakal mobil nasional berbasis pesantren.

“Ini menunjukkan bahwa santri bukan hanya bisa mengaji, tapi juga bisa berinovasi. Santri punya daya cipta dan daya saing yang luar biasa,” ujarnya saat meninjau prototipe kendaraan karya santri itu beberapa waktu lalu.

Meski penuh semangat, tantangan tetap ada. Produksi mobil listrik Nuris masih berskala kecil dan belum siap untuk jalan raya. Dukungan dari pemerintah, industri otomotif, dan lembaga riset sangat dibutuhkan agar karya ini bisa berkembang lebih jauh.

Selain itu, para santri membutuhkan pendampingan teknis dan bisnis agar dapat mematenkan hasil karyanya, sekaligus mengembangkan unit produksi mandiri berbasis pesantren.

Namun demikian, semangat yang tumbuh di Nuris Jember menjadi simbol penting bahwa pesantren adalah ruang tumbuhnya inovasi dan kemandirian bangsa.

Kisah santri Nuris Jember adalah potret kecil dari kebangkitan dunia pesantren yang kini melangkah ke wilayah teknologi. Di tengah arus modernitas yang kadang melunturkan jati diri, para santri ini justru menunjukkan bahwa iman dan ilmu dapat berjalan seiring.

Di bawah sinar mentari Jember, di bengkel kecil yang tak seberapa luas, para santri itu sedang menyalakan masa depan. Dengan obeng di tangan kanan dan doa di tangan kiri, mereka membuktikan: dari pesantren pun, lahir mobil masa depan untuk negeri.[]

Comment