Palestina dan Fajar Kebangkitan Umat di Depan Mata

Opini1236 Views

 

 

Penulis: Meli Yuliani | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sejak pecahnya konflik antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023, kekerasan yang terus berlanjut telah merenggut ribuan nyawa tak berdosa.

Data dari otoritas kesehatan Gaza mencatat bahwa jumlah korban tewas di Jalur Gaza telah mencapai 56.412 jiwa, sementara 133.054 lainnya mengalami luka-luka.

Terbaru, serangan yang kembali dilancarkan oleh Zionis Israel menyebabkan 81 warga Palestina gugur dan 422 orang lainnya terluka. (CNBCIndonesia.com, 29-06-2025)

Di tengah tragedi ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan telah mencapai kesepakatan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk melakukan gencatan senjata di Gaza.

Kesepakatan ini diberitakan oleh Israel Hayom dan dikutip oleh Republika.co.id pada 27 Juni 2025. Namun, langkah ini masih jauh dari harapan rakyat Palestina yang menginginkan kemerdekaan sejati dan penghentian total penjajahan.

Konflik yang semakin membara, ditambah perang yang melibatkan Iran, mengungkap satu kenyataan pahit: tidak ada satu pun negara Muslim yang benar-benar serius memberikan pertolongan berarti bagi rakyat Gaza.

Di saat penderitaan di Gaza terus memuncak, sebagian penguasa Muslim justru menyerukan solusi dua negara—narasi lama yang terus digaungkan namun terbukti tidak menyentuh akar masalah.

Sejarah mencatat bahwa Israel dan sekutunya, Amerika Serikat, tidak pernah sungguh-sungguh menginginkan kemerdekaan Palestina. Sebaliknya, rakyat Palestina yang memiliki hati tulus dan semangat perjuangan tak akan menyerahkan sejengkal pun tanah kaum Muslimin kepada penjajah.

Mereka tidak akan mengkhianati amanah perjuangan para syuhada dan jejak para pemimpin Islam terdahulu yang telah mengorbankan segalanya untuk membebaskan tanah suci itu.

Selama penjajahan masih berlangsung, pembantaian akan terus terjadi. Namun demikian, perlawanan demi mempertahankan tanah kaum Muslimin pun tak akan pernah padam.

Umat Islam harus sadar bahwa satu-satunya solusi hakiki untuk mengakhiri penderitaan di Gaza adalah dengan hadirnya kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan kekuatan umat dan memimpin perjuangan dengan visi yang jelas dan benar.

Seruan untuk menegakkan sistem kepemimpinan Islam global bukanlah upaya mengabaikan penderitaan Gaza, melainkan solusi jangka panjang yang menyeluruh. Selama puluhan tahun, solusi dua negara telah ditawarkan—namun realitasnya, penderitaan tak kunjung usai dan kedamaian tak kunjung tiba.

Tragedi di Gaza semestinya menjadi momen muhasabah kolektif bagi umat Islam: sudah saatnya meninggalkan ketergantungan pada solusi Barat yang hanya memperpanjang derita.

Solusi sejati terletak pada tegaknya satu kepemimpinan Islam global, warisan Rasulullah ﷺ yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, sebagai jalan bagi umat untuk bangkit dari keterpurukan menuju kebangkitan hakiki.

Oleh karena itu, kini saatnya umat memberikan dukungan penuh dan terlibat aktif dalam perjuangan menegakkan kepemimpinan Islam global melalui dakwah ideologis—sebagai bentuk nyata pembelaan terhadap Palestina dan langkah strategis menyelamatkan umat dari cengkeraman sistem kapitalisme yang menindas dan melemahkan.Wallahu a’lam bish-shawab. []

Comment