Palestina dan Penderitaan Makin Menjadi, Butuh Islam Sebagai Solusi

Opini876 Views

 

Penulis: Nana Juwita Hasibuan, S.Si | Aktivis Dakwah dan Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Siapa pun yang masih memiliki hati nurani akan meneteskan air mata ketika melihat bagaimana penderitaan umat Islam di Palestina, hingga hari ini Palestina masih menjadi sasaran genosida penjajah Zionis Yahudi, bahkan bayi-bayi yang tidak berdosa pun menjadi sasaran Zionis. Bagi Zionis, dosa mereka adalah karena mereka bayi Muslim keturunan Palestina.

Zionis juga menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh secara pelan-pelan generasi Palestina. Mereka membunuh tak kenal waktu, di hari raya yang sejatinya Rakyat Palestina merasakan bahagia, zionis tetap menumpahkan darah.

Sementara penderitaan umat Islam Palestina makin menjadi, bentuk pertolongan yang dilakukan oleh umat Islam hanya sebatas memberi bantuan finansial, bahan makanan, obat-obatan, dan yang lainnya. Mirisnya bantuan yang diberikan oleh umat Islam pun belum tentu sampai ke wilayah Palestina. Begitu kejamnya Israel sehingga bantuan kemanusiaan pun diblokir.

Ini lah bukti bahwa untuk menolong warga Palestina bukan hanya sekedar mengirim bantuan atau pun doa semata, tapi dibutuhkan peran negara. Terlebih negeri-negeri Muslim yang bertetangga dekat dengan Palestina. Karena untuk membebaskan Palestina dari genosida oleh zionis in membutuhkan adanya kekuatan fisik yang setara dengan apa yang dimiliki zionis.

Mirisnya, negara-negara besar dunia seolah diam, sebut saja Mesir. Bahkan para penguasa muslim juga tidak mampu berbuat apa-apa selain mengecam. Hingga saat ini belum ada yang berani mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah. Mereka diam meski rasa kemanusiaan seolah telah hilang. Padahal menolong saudara seiman itu adakah fitrah manusia yang harus dikedepankan terlebih yang menjadi korban adalah anak – anak an bayi yang tak berdosa.

Sejarah menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab, Palestina merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Islam, dilanjutkan oleh Shalahuddin Al-Ayubi yang juga mampu mempertahankan tanah Palestina.

Palestina wajib dibela oleh umat Islam karena sebagai tanah suci, tempat para Nabi lahir dan juga merupakan kiblat pertama umat Islam. Jika non muslim saja tergerak untuk membela warga Palestina, lalu bagaimana dengan umat Islam saat ini? Para penguasa negeri Muslim tidak berdaya menghadapi kekuatan dan pengaruh besar zionis, karena didukung oleh Amerika dan sekutunya.

Masyarakat sipil Tunisia yang tergabung dalam aksi Global March to Gaza yang diikuti oleh 1.000 aktivis mencoba bergerak dari negara-negara Afrika Utara untuk memberi dukungan pada warga Palestina, dengan tujuan menuntut penghentian segera pengepungan yang tidak adil di Palestina.

Namun demikian, aksi ini tidak mampu menembus blokade yang dilakukan oleh tentara Mesir. Otoritas Mesir telah menahan dan mendeportasi puluhan aktivis kemanusiaan yang berencana mengikuti aksi long-march untuk menembus Jalur Gaza.

Di antara mereka yang ditahan, merupakan warga negara dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Prancis, Spanyol, Aljazair, dan Maroko.

Global March for Gaza merupakan upaya kedua yang dilakukan aktivis internasional untuk menembus Jalur Gaza pada bulan ini. Sebelumnya, kapal Madleen berusaha menembus wilayah Palestina melalui jalur laut dengan membawa bantuan juga sempat ditahan oleh pihak israel seperti dikutip republika.co.id (12/06/25).

Di satu sisi, Global March for Gaza merupakan bentuk tumbuhnya rasa kemanusiaan dari non muslim yang menyebabkan mereka tergerak datang untuk menolong umat Islam Palestina, walaupun upaya mereka mengalami kegagalan.

Di sisi lain telah hilang rasa kemanusiaan dalam diri umat Islam dan penguasa negeri-negeri Muslim saat ini, menunjukkan matinya sifat dasar manusia. Ini adalah ekses nasionalisme sempit dan kapitalisme yang mengagungkan nilai materi serta rasa superior disertai dengan kebencian pada manusia lainnya.

Kekejaman nyata tak mengusik nurani para pemimpin muslim. Nasionalisme yang lahir dari pemikiran Barat pun menjadi penghalang untuk bersikap adil pada muslim Palestina. Bahkan untuk masuk ke jalur Gaza pun dibutuhkan izin negara tertentu, hingga terkesan dihalang-halangi.

Aksi yang dilakukan non muslim ini patut diapresiasi, di saat umat Islam hanya diam. Sementara tak ada seorang penguasa negeri muslim pun yang membebaskan Palestina dengan kekuatan senjata, meski sudah ada seruan jihad. Karena jihad tak mungkin terwujud tanpa adanya seruan negara. Model negara hari ini tak mungkin menyerukan jihad, apalagi mereka justru bergandengan tangan dengan penjajah zionis.

Seruan jihad dari kelompok umat Islam tidak akan memiliki arti dan kekuatan. Seruan jihad dapat diimplementasikan secara menyeluruh melalui simbol kepemimpinan Islam global.

Untuk tujuan tersebut, maka umat islam harus berjuang menegakkan sebuah kepemimpinan Islam global di bawah satu bendera tauhid dengan meninggalkan kapitalisme dan sekularisme yang selama ini mengatur kehidupan kaum Muslim.

Sejatinya umat membutuhkan sebuah kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten dalam menyerukan Islam sebagai problem solving yang tengah melanda umat Islam saat ini. Jamaah ini kelak membangun kesadaran umat, menunjukkan jalan yang benar.

Umat sudah seharusnya menjawab seruan ini dan mendukung jamaah dakwah tersebut, untuk berjuang bersama menjemput pertolongan Allah Swt.

Saatnya kita menyadari bahwa umat Islam akan terus terjajah ketika tidak menjadikan Islam sebagai solusi untuk mengatasi segala persoalan, termasuk masalah Palestina. Zionis kuat karena disokong oleh negara super power, sedangkan umat Islam terpecah belah dengan sekat nasionalisme sehingga hilang persatuan di kalangan mereka yang berdampak lemahnya negeri-negeri muslim. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari Tsauban, dia berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”. Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian.” Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian.”(HR. Abu Dawud No. 4297).

Hadits tersebut menjelaskan bahwa, ketika umat Islam meninggalkan ketakwaan kepada Allah Swt, mereka lebih cinta pada dunia serta takut pada kematian, maka saat itulah musuh-musuh Allah Swt akan berupaya untuk menggoyahkan umat Islam.

Hal pertama yang disampaikan Nabi Saw dalam hadits tersebut, bermakna bahwa bangsa-bangsa kafir berkumpul dan bersatu melawan umat Islam. Bangsa-bangsa kafir itu, diibaratkan seperti sedang berkumpul di sekitar meja hidangan, lalu memperebutkan makanan yang ada di meja hidangan tersebut. Ini isyarat betapa mudahnya musuh-musuh menggoyahkan umat Islam.

Ketika seorang sahabat bertanya apakah perebutan oleh kaum kafir terhadap umat Islam itu dikarenakan jumlah umat Islam sedikit. Nabi Saw menjelaskan bahwa justru sebaliknya, bahwa jumlah umat Islam sangat banyak, tetapi seperti buih yang mengapung.

Ini artinya, ambisi kaum kafir terhadap umat Islam bukan karena jumlahnya yang sedikit, melainkan karena jumlahnya yang banyak tetapi lemah, yakni penakut dan begitu kerasnya perpecahan yang ada di tengah umat Islam.

Apakah umat masih berharap pada kapitalisme sekuler, yang secara nyata tidak akan mungkin berpihak pada umat Islam Palestina? Siapa lagi yang akan menolong Palestina jika bukan umat Islam? Non muslim saja tergerak karena naluri kemanusiannya, lalu di manakah umat Islam seluruh dunia berada? Tidak malukah kita kepada non Muslim yang lebih peduli terhadap Palestina? Wallahu a’lam bishawab[]

Comment