RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) menggelar audiensi dengan Kedeputian II Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Perekonomian dan Pangan, di Ruang Rapat Pulau Naira, Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu lalu.
Pertemuan dipimpin Ketua Umum PB STII, Fathurrahman Mahfudz, didampingi Sekretaris Jenderal Didi M Rosidi, Wakil Ketua Umum Hilman Ismail Metareum, Ketua Green Z Milenial STII Ahmad Syarief Amrullah, sejumlah pengusaha pertanian asal Makassar, serta Ketua PW STII Jawa Tengah, Saparudin — seorang petani kopi yang telah mengekspor produknya ke Rusia dan sejumlah negara Eropa.
Delegasi diterima Tenaga Ahli Utama KSP Deputi II, Sukriansyah S Latief, mewakili Plt Deputi II KSP Bidang Perekonomian dan Pangan, Edy Priyono, yang sedang bertugas di luar kota.
Dalam paparannya, Fathurrahman menegaskan, STII memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perjalanan bangsa. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Mohammad Sarjan, Menteri Pertanian era 1950-an, serta Mayor KH Sholeh Iskandar, tokoh Hizbullah dan pendiri LVRI yang kini diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
“Warisan perjuangan para ulama dan petani dahulu menjadi fondasi moral perjuangan kami hari ini,” ujarnya.
Fathurrahman menambahkan, STII tidak hanya berpegang pada sejarah, tetapi aktif menjadi mitra strategis pemerintah, terutama dalam program Reforma Agraria. Melalui SK Menteri ATR/BPN RI 2025, STII dilibatkan dalam distribusi dan penyelesaian konflik lahan petani.
PB STII menggarap sejumlah program unggulan, mulai dari teknologi pertanian modern, urban farming di kawasan perkotaan, pengembangan UMKM pertanian, hingga perikanan dan peternakan berkelanjutan.
Salah satu capaian yang disoroti adalah penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian Pertanian Malaysia terkait ekspor Benih Trisakti Tani, yang membuka akses produk pertanian Indonesia ke pasar internasional.
STII juga membangun skema ekonomi kelembagaan melalui Badan Usaha Milik STII (BUMS) dan koperasi petani yang dikelola secara profesional.
Ketua PW STII Jawa Tengah, Saparudin, mengungkapkan tantangan yang dihadapi petani kecil di tengah dominasi investor yang berorientasi profit. “Petani kita tak butuh dikasihani. Mereka hanya perlu sistem yang adil, salah satunya lewat sistem resi gudang yang terbukti membantu stabilisasi harga,” katanya.
Ia mendesak negara lebih aktif mengadopsi dan menyebarluaskan sistem tersebut untuk memperkuat posisi tawar petani di pasar.
Menanggapi aspirasi tersebut, Sukriansyah S Latief menyampaikan apresiasi atas kiprah STII. Ia menilai organisasi yang berdiri sejak 26 Oktober 1946 ini memiliki akar historis, kekuatan massa, dan visi modernisasi pertanian yang sejalan dengan program pemerintah.
“Kami di KSP, khususnya Deputi II, sangat terbuka dan siap bersinergi. Visi Presiden dan Wakil Presiden dalam mewujudkan Asta Cita, khususnya di bidang ketahanan pangan, memerlukan mitra seperti STII,” ujarnya.[]









Comment