Pelemahan Rupiah dan Gagalnya Sistem Melindungi Rakyat

Opini39 Views

Penulis: Vera Selpia | Tenaga Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Sebagaimana ditulis tempo.co⁠ (2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah hingga sempat menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS. Kondisi ini tentu bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, melainkan persoalan yang dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.

Ketika rupiah melemah, harga bahan baku, energi, dan berbagai kebutuhan ikut meningkat. Akibatnya, biaya hidup rakyat pun semakin berat.

Sebagaimana ditulis bbc.com⁠ (2026), tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi situasi global yang tidak stabil. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sangat mudah terdampak gejolak dunia. Ketika situasi global memanas, rakyat kembali menjadi pihak yang paling merasakan akibatnya.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat kecil harus berjuang lebih keras demi memenuhi kebutuhan hidup. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara penghasilan sebagian besar rakyat tidak mengalami peningkatan. Tidak sedikit masyarakat akhirnya bergantung pada pinjaman online demi bertahan hidup.

Sebagaimana dilansir bisnis.com⁠ (2026), total pinjaman pinjol masyarakat Indonesia mencapai Rp98,54 triliun dan meningkat 25 persen pada Januari 2026. Fakta ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi telah mendorong masyarakat masuk dalam jeratan utang.

Kesulitan serupa juga dialami para nelayan. Sebagaimana dilansir rri.co.id⁠ (2026), nelayan Pantura mengeluhkan hasil tangkapan yang menurun serta sulitnya memperoleh solar subsidi.

Bahkan, sebagaimana ditulis detik.com⁠ (2026), sejumlah nelayan di Pati melakukan aksi protes karena harga BBM yang mereka beli disebut naik hingga empat kali lipat. Kenaikan biaya operasional membuat para nelayan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Namun, di tengah beratnya kondisi rakyat, pemerintah justru menyampaikan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar sehingga pelemahan rupiah dianggap tidak terlalu berdampak langsung.

Sebagaimana ditulis kompas.com⁠ (2026), pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Sebab faktanya, meskipun rakyat tidak bertransaksi menggunakan dolar, pelemahan rupiah tetap memengaruhi harga kebutuhan yang mereka beli setiap hari.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi hari ini belum mampu memberikan perlindungan nyata kepada rakyat. Ketergantungan terhadap dolar dan pasar global membuat ekonomi dalam negeri mudah terguncang. Saat krisis terjadi, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling terbebani.

Islam memiliki cara pandang berbeda dalam mengatur kehidupan ekonomi. Dalam Islam, pemimpin adalah ra’in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung) bagi masyarakat. Karena itu, negara tidak boleh membiarkan rakyat menghadapi kesulitan hidup sendirian.

Rasulullah saw. bersabda: “Imam adalah ra’in dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya imam itu adalah junnah (perisai)…” (HR. Muslim).

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa pemimpin dalam Islam wajib menjaga dan melindungi rakyat dari berbagai kesulitan hidup, termasuk persoalan ekonomi.

Islam juga memiliki aturan ekonomi yang bertujuan menjaga kestabilan serta memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi secara adil. Salah satu mekanisme yang ditawarkan Islam adalah penggunaan mata uang berbasis emas dan perak yang dinilai lebih stabil dan tidak mudah dipengaruhi gejolak pasar. Islam juga melarang riba yang selama ini menjadi sumber berbagai persoalan ekonomi.

Allah Swt. berfirman: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).

Selain itu, negara wajib menjaga distribusi kekayaan agar tidak hanya beredar di kalangan tertentu saja. Dalam Nidzamul Iqtishadi fil Islam dijelaskan bahwa sistem ekonomi Islam dibangun untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Karena itu, persoalan ekonomi yang terus berulang tidak cukup diselesaikan dengan kebijakan sementara. Dibutuhkan solusi yang mampu menyentuh akar persoalan. Islam menawarkan aturan kehidupan yang menyeluruh, termasuk dalam bidang ekonomi, agar kesejahteraan rakyat benar-benar dapat terwujud.[]

Comment