by

Pelita Umat Sang Pemberani, Kini Telah Pergi

-Opini-50 views

 

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag, Penulis dan pemerhati kebijakan publik

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Rasulullah Saw. bersabda,  “Sesungguhnya Allah SWT tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR Bukhari).

Lagi, negeri ini berduka khususnya umat Islam. Ulama sang pelita umat yang sangat berani menyuarakan kebenaran dan lantang membela syariah telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalnya ustadz Tengku Zulkarnain masih menyisakan duka, dikabarkan ustadz berdarah Melayu itu meninggal dunia karena terpapar covid-19.

Sejak 2 Mei 2021 dinyatakam positif covid-19 dan dirawat di RS Tabrani, Pekanbaru, Riau. Pada tanggal 10 Mei, kondisi beliau menurun hingga pihak RS memasangkan ventilator. Namun, Allah berkehendak lain memanggilnya di bulan suci nan mulia, bulan Ramadan. Allah terlampau sayang pada beliau hingga dipanggil sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang di bulan Ramadan.

Meninggal dalam kondisi sakit dan di bulan suci, tak semua bisa merasakan ini. Terlebih, beliau seorang ulama yang selalu membela agama-Nya pasti Allah pun sangat sayang padanya. Dalam kesempatan apapun, beliau selalu melawan pemikiran dan kebijakan yang keliru dalam pandangan syariah. Usia yang tak lagi muda tak membuatnya surut dalam berdakwah membela syariah.

Vokal dalam berdakwah, baik lisan maupun tulisan. Di sosmed sering menyuarakan kebenaran, membela kepentingan umat dan mencerahkan umat dengan gaya penjelasannya. Lantang dan berani menjadi ciri khasnya. Ulama yang berdarah Melayu ini patut menjadi teladan bagi umat Islam dalam berdakwah.

Kematian itu dekat dan pasti, bagian dari kehendak-Nya pada siapapun hamba-Nya. Bukan menyalahkan takdir atas kematian ulama yang menjadi salah satu penyebab diangkatnya ilmu.

Hal ini harus menjadi renungan dan perhatian bagi umat Islam, agar meneladani dan belajar dari sang pelita umat. Agar saat mereka tiada, umat bersiap menggantikan posisinya menjadi lentera dan pelita umat menuntun dan membela umat.

Ya, regenerasi itu perlu dalam kehidupan. Jika dalam sebuah keluarga saja diharapkan ada keturunan yang lahir menjadi generasi baru apalagi dalam agama harus ada penerus para ulama. Umat sangat membutuhkan ulama, ibarat berjalan di kegelapan maka ulama adalah lentera bagi umat. Lebih dari itu, ulama adalah pewaris para nabi sebagaimana sabda Rasul Saw.: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Nabi diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam di muka bumi, mendakwahkannya dan menuntun umat. Risalah ini agar tidak terputus dan tetap sampai kepada umat membutuhkan orang yang menyampaikannya yaitu para ulama. Ulama sebagaimana digambarkan di dalam firman-Nya orang yang takut kepada Allah (QS. Fathir: 32).

Umat butuh dituntun oleh orang yang memiliki rasa takut kepada Allah sehingga dorongannya hanya taat dan patuh pada Sang Pencipta. Memjaga dan memuliakan ulama bagian dari adab di dalam Islam, karena ulama adalah orang yang memiliki ilmu. Maka, sering-sering lah mendekat pada ulama agar mendapatkan ilmu dan keberkahan.

Saat ini di dalam tubuh umat Islam terpecah, ada yang istikamah membela Islam. Namun, ada pula yang menyerang ajaran Islam. Pemikiran-pemikiran yang ‘nyeleneh’ semakin banyak, seolah-olah berasal dari Islam padahal bukan. Bermunculan ulama-ulama suu’ yang bergandengan dengan penguasa, membela kebijakan yang kurang memperhatikan kepentingan rakyat.

Maka, umat membutuhkan ulama yang lurus dalam memahami ajaran Islam dan membela kepentingan rakyat. Agar umat tidak tersesat oleh pemahaman yang menyesatkan. Parahnya, pemahaman yang menyesatkan itu mengatasnamakan pemahaman Islam progresif dan moderat yang membuat Islam lebih maju menurut mereka. Padahal, ide tersebut hanya mengaburkan pemahaman Islam dan membuat umat semakin bingung.

Di akhir zaman serba fitnah, umat bagai memegang bara api jika ingin istikamah mengamalkan ajaran Islam. Umat yang berusaha konsisten dengan ajaran Islam yang benar bagaikan orang asing. Sementara umat yang bergandengan dengan orang kafir dianggap biasa, bahkan toleransi bagi sebagian umat Islam hanya berlaku bagi non muslim.

Jika tak ada ulama yang lurus dalam kondisi seperti itu, maka umat akan tersesat. Jika tak ada aktivitas amar makruf nahi munkar, maka kemungkaran akan semakin merajalela. Jika umat melilih berdiam diri tidak menggantikan posisi ulama saat ulama tiada, maka ajaran Islam akan disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Renungkan sabda Baginda Nabi Saw.:

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’). Allahu A’lam bi ash Shawab.[]

 

Comment

Rekomendasi Berita