Pemuda Gaza: Selembar Nyawa, Sejuta Perlawanan

Opini425 Views

 

Penulis: Ummu Alhanira | Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di tanah yang nyaris kehilangan namanya, di antara puing sekolah dan sisa doa dari masjid yang hancur, pemuda Gaza tetap berdiri tegak. Satu nyawa yang terus berjuang, membawa gelombang perlawanan yang tak pernah padam.

Sejak serangan dahsyat Israel kembali meluluhlantakkan Gaza pada Oktober 2023, dunia menyaksikan genosida terbuka. Lebih dari 60 ribu warga Palestina gugur, seperempatnya generasi muda—mereka yang seharusnya menjadi pilar masa depan. Sedikitnya 18.885 di antaranya adalah anak dan remaja. Data ini dihimpun dari laporan Al Jazeera dan The Editor pada 2025.

Di balik angka-angka itu tersimpan kisah pilu: pemuda yang gugur melindungi adiknya, pelajar yang syahid dengan seragam sekolah, mahasiswa yang tertimbun reruntuhan kampus. Sekolah dan universitas menjadi sasaran, tempat pengungsian dihancurkan, rumah sakit pun tak luput. Tak ada tempat aman—bahkan untuk sekadar menghirup udara.

Tak hanya menjadi korban perang, ribuan pemuda Gaza ditahan tanpa proses hukum, disiksa fisik dan mental, dijadikan tameng manusia. Israel bukan hanya menghancurkan tubuh mereka, tetapi juga merenggut martabat, potensi, dan harapan masa depan.

Namun di tengah kehancuran, tumbuh kekuatan yang melampaui logika: keteguhan iman, kepercayaan pada janji Allah, dan semangat jihad yang tak tergoyahkan.

Sumber Kekuatan

Pemuda Gaza berdiri kokoh karena keyakinan kepada Allah. Mereka bukan sekadar bertahan hidup, tetapi yakin kematian di jalan yang benar adalah kemenangan.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.” (QS Ali Imran:169).

Bagi mereka, syahid adalah pintu menuju kemuliaan. Kesadaran bahwa dunia mungkin diam, namun Allah melihat setiap tetes darah, menumbuhkan keberanian menghadapi tank, drone, dan tekanan global.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Keteguhan yang Menggerakkan Dunia

Kekuatan iman penduduk Gaza menggugah dunia. Video pemuda melantunkan ayat Al-Qur’an di tengah reruntuhan viral, menyentuh jutaan hati. Jurnalis dan ulama menyebut mereka generasi yang bukan hanya cerdas, tapi paham tujuan hidup. Hidup serba terbatas, namun penuh makna. Mereka memilih kehormatan.

Solidaritas global mengalir dari Istanbul, Jakarta, London, hingga Cape Town. Pemuda Gaza tak lagi sekadar korban, melainkan simbol keberanian dan keimanan di tengah kegelapan zaman.

Di antara reruntuhan, mereka menyusun batu menjadi mimbar kecil. Di ruang bawah tanah, mereka merekam suara harapan. Di dinding retak, tertulis: “Kami masih hidup. Kami tidak akan tunduk.”

Itulah wajah pemuda Gaza: sumber cahaya yang menolak punah. Setiap langkah menampar keheningan dunia. Mereka tak diciptakan untuk menyerah, tetapi untuk mengingatkan dunia arti keberanian.

Seruan Persatuan

Realitas hari ini menegaskan, sekadar kecaman dan doa tak cukup. Palestina mencerminkan kegagalan umat Islam yang terpecah dan tak mampu mengerahkan kekuatan untuk membebaskan tanah suci.
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR Bukhari dan Muslim)

Meninggalkan Gaza tanpa pertolongan berarti mengkhianati ukhuwah. Solusi strategis hanya lahir dari persatuan umat di bawah kepemimpinan tunggal yang mampu menggerakkan kekuatan nyata.

“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka wajib bagimu menolong mereka.” (QS Al-Anfal:72).

Di bawah kepemimpinan yang bersatu, darah pemuda Gaza tak sekadar dikenang, tetapi dibalas dengan pembebasan. Seperti sejarah pembebasan Al-Quds oleh Salahuddin, kekuatan terorganisir adalah kunci.

Satu nyawa yang rapuh, berjuta perlawanan yang membara. Gaza tidak menunggu belas kasihan, tetapi menanti kebangkitan umat dan langkah nyata yang membawa keadilan.[]

Comment