Pendidikan Karakter, Solusi Kekerasan Antarpelajar?

Opini1616 Views

 

Oleh: Uthe Setya, Jembrana-Bali

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Lembaga pendidikan seharusnya adalah tempat yang membuat orang tua tenang karena menjadi tempat lanjutan setelah anak dirasa cukup mendapatkan pendidikan di dalam rumah. Lembaga pendidikan juga akan menjadi tempat bersosialisasi anak-anak yang paling menonjol untuk mengenal lingkungan di luar rumahnya.

Namun belakangan ini, justru rasa cemas mulai menghantui para orang tua dengan maraknya perundungan anak di beberapa lembaga pendidikan. Sebagaimana yang telah diberitakan dalam waktu berdekatan adalah tewasnya pelajar asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang mengalami kekerasan fisik, mental, dan juga s3ksu4l. Kasus ini diduga karena pelaku terpengaruh video pornografi yang ditontonnya (Kompas.com 24/7).

Di tempat lain pun, yang membuat orangtua semakin was-was ketika ada peristiwa perundungan yang terjadi di lingkungan ponpes. Masih di Tangerang juga, seorang santri berusia 15 tahun tewas dianiaya temannya. Ada pula peristiwa yang terjadi di ponpes ternama di Jawa Timur, pada tanggal 6 September 2022 lalu.

Sungguh peristiwa di atas tidak dapat dipungkiri atau ditutupi dari telinga masyarakat. Hal ini juga telah membuat para orang tua mulai takut karena perundungan sudah masuk hingga lingkungan pondok pesantren. Padahal ponpes sudah menjadi harapan besar bagi para orang tua untuk menjadi tempat yang aman bagi anaknya untuk menimba ilmu dan memiliki lingkungan Islam yang baik, termasuk para guru, santri dan civitas ponpes lainnya.

Munculnya berita-berita kekerasan antar pelajar membuat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, angkat bicara. Menurutnya, perlunya diterapkan pendidikan karakter di level keluarga (rumah) dan juga di sekolah (murid hingga guru). Pendapat ini sebenarnya disesuaikan dengan kurikulum terbaru tahun ini yaitu kurikulum merdeka.

Dalam kurikulum merdeka disebutkan ada 6 poin yang harus diajarkan, yaitu beriman serta bertakwa pada Tuhan, berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis dan kreatif, gotong royong, dan berkebhinekaan global. Kurikulum ini jika ditelaah dapat diartikan bahwa seharusnya tiap individu pelajar, para guru di sekolah dan juga orang tua di rumah bersama-sama mengusahakan terwujudnya pelajar yang berkarakter mulia.

Mari kita lihat poin pertama dalam isi kurikulum di atas, disebutkan bahwa jelas adanya kaitan antara iman dan takwa, yang mana iman tercetus daripada rukun iman dan tentu akan menjadi satu rangkaian yang tidak bisa terpisah.

Iman ini adalah cara kita untuk sadar bahwa Allah adalah pencipta alam semesta beserta isinya dan kehidupan ini berasal dari Allah. Ditambah lagi dengan ibadah yang menjadi visi misi kita sebagai hamba yang harus totalitas taat tanpa syarat pada segala aturan, baik itu larangan ataupun perintah yang Allah sampaikan melalui Al Qur’an dan sunnah RasulNya.

Oleh karena itu, dari keimanan dan ketakwaan inilah yang akan membuahkan karakter yang mulia. Membawa kaum muslim menjadi umat terbaik sebagaimana predikat yang diberikan oleh Allah. Dengan kata lain, tidak dapat kita pisahkan antara iman dan takwa dengan karakter yang mulia seperti yang biasa digaungkan oleh kaum sekuler. Yaitu dipisahkannya dunia dari agama.

Dalan Islam, pendidikan karakter ini tujuan akhirnya adalah menjadikan anak berkepribadian Islam yaitu seluruh perbuatannya, pemikirannya sesuai dengan akidah Islam. Keputusan apapun yang akan diambil senantiasa bersandar pada halal atau haramnya dalam Islam.

Karena saat ini kita masih hidup dalam sistem kapitalisme-liberal, maka pendidikan karakter sesuai Islam belum dapat kita wujudkan secara sempurna. Tetapi perlu diingat, sebagai orang tua dari para pelajar tentunya jangan lupa agar selalu terkoneksi pada Allah, bersungguh sungguh membentuk anak untuk terikat pada seluruh aturan Allah, lalu selalu perkuat hubungan orang tua pada anak.

Semoga kelak impian yang diupayakan oleh para orang tua supaya memiliki anak-anak yang menjadi pelajar berkarakter mulia dapat terwujud. Wallahu a’lam bi showab.[]

Comment