Penulis: Lisa Herlina | Aktivis Dakwah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebagaimana diberitakan Sumut.kemenag.go.id pada 18 Februari 2026, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi menghadiri pelantikan Pengurus Daerah Persatuan Islam Istri (Persistri) Kabupaten Dairi pada Ahad (15/02/2026).
Dalam kesempatan itu, Kepala Seksi Bimas Islam H. Lindung Kaloko menegaskan bahwa perempuan memiliki potensi sentral dalam pembinaan keluarga dan masyarakat.
Melalui organisasi Persistri, diharapkan lahir gerakan yang menyejukkan, memperkuat keluarga sakinah, serta menumbuhkan semangat keagamaan yang moderat dan inklusif.
Pernyataan tersebut sekaligus mengingatkan kita bahwa perempuan, khususnya para ibu, memegang peran strategis dalam membangun peradaban melalui keluarga.
Namun dalam realitas hari ini, peran tersebut kerap menghadapi tantangan besar akibat dominasi sistem kehidupan modern yang berorientasi materialistik.
Tekanan Sosial dan Pergeseran Peran Ibu
Tidak dapat dipungkiri, sebagian perempuan masa kini berada dalam pusaran budaya instan yang dibentuk oleh sistem kapitalisme.
Dalam sistem ini, ukuran keberhasilan sering kali diukur dari citra, pencapaian materi, serta pengakuan publik. Akibatnya, peran syar’i perempuan sebagai ummun wa robbatul bayt—ibu sekaligus pengatur urusan rumah tangga—perlahan mengalami degradasi makna.
Di era digital, tekanan itu semakin nyata. Media sosial menciptakan standar kehidupan yang sering kali tidak realistis. Para ibu muda dituntut tampil sempurna dalam berbagai aspek: mengasuh anak dengan ideal, menjaga penampilan, aktif secara sosial, bahkan sukses secara ekonomi.
Standar tersebut kerap dibangun melalui citra para selebritas atau figur publik yang ditampilkan secara glamor.
Ketika realitas kehidupan tidak mampu memenuhi standar tersebut, sebagian ibu justru terjebak dalam rasa bersalah yang berkepanjangan. Komentar negatif dari warganet, perbandingan sosial, hingga tuntutan pencitraan digital dapat memicu tekanan psikologis yang tidak ringan.
Pada titik ini, sebagian perempuan menjadi gagap menghadapi perubahan teknologi, sementara sebagian lainnya terjebak dalam budaya pencitraan yang tanpa disadari mengikis peran strategisnya sebagai pendidik generasi.
Karena itu, perempuan membutuhkan asupan informasi yang sehat dan perspektif yang jernih agar tidak mudah terjebak dalam narasi pemberdayaan yang justru menjauhkan mereka dari peran fitrahnya dalam membangun keluarga dan generasi masa depan.
Kapitalisme dan Tantangan Pemikiran
Selama sistem kapitalisme masih mendominasi tata kehidupan global, berbagai program pemberdayaan perempuan akan terus bermunculan dengan perspektif yang sering kali terlepas dari nilai-nilai agama.
Dalam praktiknya, sebagian narasi tersebut tidak sekadar mendorong kemandirian ekonomi, tetapi juga membangun paradigma baru yang menempatkan peran domestik perempuan sebagai sesuatu yang kurang bernilai.
Di sisi lain, wacana moderasi beragama juga sering disalahpahami. Islam memang mengakui adanya pluralitas atau keragaman dalam kehidupan manusia, termasuk perbedaan agama.
Namun pengakuan terhadap realitas keragaman tersebut tidak berarti menyamakan seluruh ajaran agama.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 256).
Dalam ayat lain disebutkan,
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).
Sementara itu Allah juga menegaskan,
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali Imran: 85).
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam menghormati keberagaman, namun tetap menegaskan prinsip akidah yang jelas. Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam pemahaman toleransi yang melampaui batas hingga mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil.
Peran Strategis Ibu dalam Islam
Dalam perspektif Islam, peran ibu sangat fundamental dalam membentuk karakter generasi. Rumah tangga menjadi tempat pertama di mana nilai-nilai keimanan, akhlak, dan pemikiran Islam ditanamkan. Karena itu, seorang ibu memegang amanah besar sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.
Islam tidak melarang perempuan untuk berkarya di luar rumah. Seorang perempuan boleh bekerja selama kebutuhan keluarga tetap terpenuhi dan tanggung jawab domestik tidak diabaikan.
Dalam hukum Islam, bekerja bagi perempuan hukumnya mubah (boleh), sedangkan mengurus rumah tangga dan mendidik anak merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.
Keluarga yang sakinah lahir dari ibu yang menghiasi dirinya dengan ilmu, keimanan, serta tsaqafah Islam.
Ia menanamkan akhlak mulia kepada anak-anaknya, membangun pemahaman agama yang benar, sekaligus menjaga keluarga dari berbagai pemikiran yang dapat melemahkan akidah.
Tidak berlebihan jika para ulama menyebut bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Dari tangan seorang ibu lahir generasi yang kuat iman, jernih pemikiran, dan kokoh kepribadiannya.
Islam sebagai Solusi Problematika Perempuan
Islam telah menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia. Setiap pengorbanan seorang ibu dalam mengurus rumah tangga bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Keringat, kelelahan, bahkan kesabaran dalam mendidik anak menjadi amal yang berpahala besar.
Di sisi lain, Islam juga membuka ruang bagi perempuan untuk berkarya. Sejarah mencatat sosok Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah SAW, sebagai saudagar sukses yang mendukung perjuangan dakwah Islam dengan seluruh kemampuan dan hartanya.
Khadijah bekerja bukan sekadar mengejar materi, tetapi menjadikan Islam sebagai poros kehidupannya. Seluruh aktivitasnya diarahkan untuk meraih ridha Allah SWT.
Konsep inilah yang membedakan paradigma Islam dengan gagasan pemberdayaan ala Barat yang sering kali menempatkan kebebasan individu sebagai tujuan utama.
Dalam Islam, kebebasan tetap berada dalam koridor syariat dan orientasi kehidupan diarahkan kepada ibadah serta keselamatan dunia dan akhirat.
Karena itu, upaya menjaga akidah umat—termasuk para ibu dan generasi muda—menjadi agenda penting yang tidak bisa diabaikan. Tantangan pemikiran yang datang dari berbagai arah harus dihadapi dengan ilmu, kesadaran, dan keteguhan iman.
Para ibu memiliki peran besar untuk menjadi benteng pertama dalam menjaga identitas Islam di tengah keluarga.
Dengan meneladani Rasulullah SAW dan para sahabat, mereka dapat menjadi garda terdepan dalam membangun generasi yang beriman, berakhlak, dan berpegang teguh pada ajaran Islam. Wallahu a’lam bisshawab.[]









Comment