Oleh: Maziyatin Rokhisoh, S.Kom, Tenaga Pendidik SMAN 13 Berau
__________
RADARINDONESIANEWA.COM, JAKARTA — Teringat ceramah Almarhum K.H. Zainuddin MZ yang mengatakan, pada zaman dulu khususnya di daerah pelosok, penerangan rumah-rumah hanya menggunakan lilin dan lampu strongking karena tidak ada PLN masuk di daerah pelosok tersebut. Hampir setiap malam terdengar sahut-sahutan anak-anak sedang belajar mengaji dan shalawat.
Tetapi setelah PLN masuk ke daerah pelosok, penerangan di rumah-rumah sudah mulai menggunakan lampu listrik, tidak lagi menggunakan lilin maupun lampu strongking. Bahkan di setiap rumah sudah mulai sahut-sahutan mengencangkan volume lagu dangdutan.
Jika melihat pernyataan beliau artinya terjadi pergeseran gaya hidup karena telah terjadi perubahan zaman. Hal ini terjadi karena munculnya inovasi khususnya teknologi.
Inovasi ini tentunya membawa banyak perubahan. Terjadinya modernisasi di tengah masyarakat tak terelakan. Teknologi berkembang pesat. PLN mulai masuk ke desa sehingga memudahkan aktivitas sehari-hari masyarakat pedesaan.
Alat transportasi pun tidak ketinggalan. Dulu ketika masyarakat hendak berpergian hanya mengandalkan transportasi darat dan laut yang memakan waktu berhari-hari untuk mencapai daerah tujuan. Namun semenjak terjadi pembaharuan teknologi transportasi, muncul transportasi udara, jarak tempuh semakin singkat, hanya dalam hitungan jam bahkan menit sudah tiba di tempat tujuan.
Dunia pendidikan pun mulai mengalami inovasi. Pergeseran dan perubahan teknik serta model-model pembelajaran sudah sangat tampak. Hal itu kita sadari semenjak terjadi pergantian kurikulum. Mulai dari CBSA, KTSP, Kurikulum 13, dan Kurikulum Merdeka. Tentu saja perubahan kurikulum sangat berdampak dengan pola dan tata cara pembelajaran.
Saat ini, metode pembelajaran menggunakan teknik ceramah sangat sukar diterima oleh peserta didik. Kadang ketika kita menjelaskan dengan metode ceramah beberapa peserta didik kurang fokus apa yang pendidik sampaikan. Hal ini tentu saja menjadi PR tersendiri bagi para pendidik supaya bisa mengunakan teknik baru yang sesuai dengan karakter siswa.
Untuk mengatasi kesalahan dalam menggunakan teknik dan model pembelajaran, tentu perlu strategi tersendiri. Hal ini agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal, peserta didik antusias, sehingga target pembelajaran dapat tercapai.
Setelah diamati ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa sebagian peserta didik kurang fokus terhadap proses belajar mengajar.
Pertama, proses pembelajaran kurang menarik, sehingga peserta didik bosan dengan apa yang guru sampaikan. Kedua model pembelajaran yang disajikan guru kurang asyik dan tidak menyenangkan, akhirnya peserta didik menjadi malas belajar.
Lalu apa korelasinya dengan ceramah almarhum K.H. Zainuddin MZ?
Saat ini sudah mulai pergeseran zaman, tentu dunia pendidikan harus bisa menyesuaikan. Karena perubahan metode pembelajaran juga berpengaruh dalam menentukan berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar.
Jika zaman dulu teknologi masih sederhana, para pendidik menggunakan teknik atau model ceramah. Saat ini ketika teknologi semakin canggih para pendidik bisa menyesuaikan dengan menggunakan dengan teknik atau model yang baru, misalnya saja menggunakan gawai.
Karena keberadaan gawai saat ini, bukan sekadar alat komunikasi tetapi sudah merangkap sebagai alat dalam proses belajar mengajar.
Berawal ketika pandemi Covid-19 melanda negeri ini dan kegiatan belajar mengajar menggunakan sistem daring (dalam jaringan). Mau tidak mau baik peserta didik maupun pendidik menggunakan gawai untuk proses kegiatan belajar mengajar.
Hal ini juga didukung dengan semakin banyaknya platform yang menyediakan media pembelajaran. Seperti Quiziz, Jeruk.com, Ruang Guru, Quipper School, dan lain-lain. Dengan adanya platform- platform tersebut, guru dapat mudah mengembangkan model dan teknik pembelajaran dan menjadikan pembelajaran yang sangat menyenangkan. Tentu ini akan membantu guru saat proses mengajar.
Namun, sebagai pendidik, kita juga harus bijak memilih gawai sebagai sarana untuk kegiatan belajar mengajar. Anak-anak harus dipastikan amanah, memanfaatkan gawainya semata-mata untuk kegiatan belajar bukan untuk tujuan lain (main game, membuka situs terlarang, dsb).
Pendidik juga harus update dengan aplikasi yang digunakan oleh para siswa sehingga bisa tetap memantau aktivitas mereka di media sosial.
Selain itu pendidik harus mampu membangun rasa senang belajar dalam diri para siswa, bijak memanfaatkan gawai. Karena hal inilah yang akan memunculkan daya pikir yang kritis dan kreatif namun tetap santun, rendah hati dan humanis. Jangan sampai kedekatan mereka dengan gawai menyebabkan munculnya sikap menarik diri dari pergaulan di tengah masyarakat.
Pendidik juga tetap memantau para peserta didik supaya tidak kecanduan terhadap gawai.
Zaman telah berubah, teknologi semakin berkembang pesat, jika kita tidak mengikuti maka akan jauh tertinggal. Bukan tidak mungkin pendidik akan kekurangan wawasan literasi teknologi.
Namun kita juga harus ingat teknologi ibarat pisau bermata dua. Ada sisi positif dan negatif. Jika tidak bijak menggunakan maka bisa berpotensi menjadi bumerang.
Oleh karena itu harus ada komitmen antara pendidik dengan siswa agar bisa memanfaatkan gawai secara optimal untuk proses belajar mengajar. Sehingga bisa terhindar dari dampak negatif yang tidak diinginkan. [SP]









Comment