Perbaiki Sholatmu, Maka Alloh Akan Memperbaiki Hidupmu

Opini66 Views

 

Penulis: Amir Kumadin | Alumni IAIN Walisongo Semarang, Direktur Penerbit Intuisi Press, Penulis Lebih dari 15 Judul Buku

 

RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA — Slogan “Perbaiki Sholatmu, Maka Alloh Akan Memperbaiki Hidupmu” belakangan ini viral dan kerap digaungkan di berbagai ruang, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, tak jarang slogan tersebut disikapi secara sinis, dianggap sebagai ungkapan tautologis—nyaring di permukaan, namun hampa makna.

Padahal, jika dicermati secara mendalam, slogan ini justru mengandung makna yang sangat luas, utuh, dan komprehensif. Ia bukan sekadar kalimat indah yang mudah diucapkan, melainkan pesan spiritual yang menuntut pemahaman, kesungguhan, dan pengamalan nyata.

Lalu, apa yang dimaksud dengan sholat yang baik dalam konteks ini? Tentu bukan sekadar “baik” secara umum, melainkan benar sejauh kemampuan dan pengetahuan yang dapat dijangkau, baik menurut ilmu fikih maupun pemahaman hakikat.

Mari kita telaah satu per satu. Untuk dapat melaksanakan sholat, seseorang wajib melalui tahapan awal berupa bersuci (thaharah). Hal ini mencakup bersuci dari hadats kecil maupun hadats besar. Pemahaman tentang tata cara membersihkan diri setelah buang air kecil dan besar, mandi janabah, mandi haid, serta mandi nifas harus benar sesuai tuntunan. Di sinilah titik awal memperbaiki sholat dimulai.

Tahap berikutnya adalah memahami dan melaksanakan wudhu dengan baik dan benar. Sholat tidak dapat dinilai sah tanpa wudhu. Karena itu, jika sholat ingin dikerjakan secara benar dan sah, maka wudhu sebagai syarat utama pun harus dilakukan dengan benar. Memperbaiki sholat berarti memulai dari perbaikan wudhu.

Dua tahapan tersebut merupakan syarat mutlak sebelum sholat dilaksanakan. Sholat yang dilakukan tanpa thuma’ninah saja tidak sah, apalagi jika dikerjakan tanpa thaharah yang benar. Dalam hal ini berlaku kaidah ushul fikih: Al-wasaa-ilu lahaa ahkaamul maqaashid (sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuan) dan Maa laa yatimmul waajibu illaa bihii fahuwa waajib (sesuatu yang menjadi syarat sempurnanya kewajiban, maka ia pun menjadi wajib).

Selanjutnya, bacaan dalam sholat perlu diperbaiki. Ini berarti seseorang harus kembali belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar melalui tahsin dan tajwid. Sebab, sholat tanpa bacaan Surah Al-Fatihah tidaklah sah.

Pemahaman tentang syarat, rukun, wajib, dan sunnah dalam sholat juga menjadi keharusan. Rukun dan wajib sama-sama wajib, namun kewajiban rukun berada di atas kewajiban wajib.

Gerakan dan posisi tubuh dalam sholat pun harus diperhatikan. Misalnya, saat ruku’, posisi kaki seharusnya tegak lurus, telapak tangan bertumpu pada lutut, serta punggung dan kepala sejajar lurus—kecuali ada uzur seperti sakit atau keterbatasan fisik.

Sholat hendaknya tidak dilakukan tergesa-gesa, baik karena urusan dunia maupun karena kebiasaan. Bacaan sholat perlu disempurnakan.

Dalam sujud, misalnya, bacaan “Subhaana Rabbiyal A’laa wa bihamdih” dibaca dengan jelas dan penuh kesadaran, bukan sekadar gumaman yang tidak bermakna, kecuali pada kondisi tertentu dalam sholat sunnah.

Memahami dan menghafal arti bacaan sholat menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan kekhusyukan dalam sholat.

Sholat perlu ditegakkan tepat waktu. Ketika adzan berkumandang, bersegeralah bersiap. Bahkan tanpa uzur, seseorang seharusnya sudah bersiap 10 hingga 15 menit sebelum waktu sholat.

Bagi laki-laki, sholat berjamaah lima waktu secara konsisten, baik di masjid maupun musholla, merupakan bagian penting dalam upaya memperbaiki sholat.

Sholat-sholat sunnah, baik qabliyah, ba’diyah, maupun sunnah mutlak lainnya, juga perlu dibiasakan sebagai pelengkap dan penyempurna sholat wajib.

Pemahaman tentang hakikat, visi, dan tujuan sholat tidak boleh diabaikan. Hal ini telah dibahas secara lebih mendalam dalam tulisan lain, seperti Jangan Sampai Sholat Anda Hanya Menyembah Tikar Sembahyang dan Sholat 24 Jam Sehari Semalam.

Seiring dengan itu, akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari juga harus terus diperbaiki. Indikator sholat yang baik dan benar adalah ketika sholat tersebut mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, baik dalam diri maupun dalam kehidupan sosial.

Keempat belas poin di atas merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Inilah substansi dan konteks sejati dari slogan “Perbaiki Sholatmu, Maka Alloh Akan Memperbaiki Hidupmu.”

Ketika sholat telah ditegakkan dengan baik dan benar, maka dengan izin-Nya, Alloh Rabbul ‘Aalamiin akan menolong, membimbing, dan menyelamatkan hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[]

Comment