Perbedaan Teknologi Sekuler vs Islam: Antara Eksploitasi Profit dan Kemaslahatan Umat

Opini431 Views

Penulis: Diah Pipit | Muslimah Pemerhati Umat

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di tengah gemerlap inovasi modern yang sering diagungkan sebagai puncak peradaban manusia, kita harus bertanya: apakah teknologi benar-benar netral, atau ia mencerminkan ideologi yang melahirkannya?

Teknologi yang lahir dari peradaban sekuler—khususnya kapitalisme—cenderung menjadi alat eksploitasi yang menghancurkan keseimbangan sosial dan lingkungan, sementara teknologi Islam dirancang untuk kemaslahatan umat, mengintegrasikan ilmu dengan tauhid.

Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tapi filosofis: sekuler memisahkan agama dari kehidupan, membiarkan profit menguasai, sedangkan Islam menjadikan teknologi sebagai ibadah yang mendatangkan berkah.

Studi sejarah dan literatur membuktikan pola ini, di mana Barat sekuler mengalami kemajuan materiil tapi dengan biaya mahal, sementara Golden Age Islam menghasilkan inovasi yang berkelanjutan dan inklusif.

Mari kita telusuri teknologi di peradaban sekuler, yang didominasi kapitalisme sejak Revolusi Industri. Di Barat, perkembangan teknologi sering didorong oleh kebutuhan pasar bebas, di mana inovasi seperti mesin uap abad 18, listrik abad 19, komputer abad 20, hingga AI abad 21, semuanya lahir untuk memaksimalkan profit.

Namun, dampak negatifnya terhadap masyarakat dan lingkungan tak terelakkan: urbanisasi massal menyebabkan kemiskinan kota, polusi dari limbah industri merusak ekosistem, dan otomatisasi menciptakan pengangguran struktural.

Kapitalisme sekuler, dengan fokus pada kompetisi tanpa batas, membuat teknologi menjadi “pedang bermata dua”—membawa kemajuan tapi juga krisis lingkungan seperti pemanasan global dari emisi fosil, serta masalah sosial seperti technostress, hilangnya privasi melalui surveillance capitalism, dan ketidaksetaraan digital.

Sebagai contoh, teknologi militer seperti bom atom di abad 20, yang lahir dari persaingan kapitalis, bukan hanya menghancurkan nyawa tapi juga memperburuk konflik global.

Di era sekarang, perusahaan Big Tech mengontrol data untuk keuntungan, memperlemah otonomi manusia dan memperdalam polarisasi sosial, di mana teknologi bukan melayani, tapi menguasai.

Ini karena sekularisme memisahkan etika spiritual dari inovasi, membiarkan kapitalisme menjadikan teknologi sebagai alat akumulasi kekayaan, bukan kesejahteraan bersama.

Sebaliknya, teknologi di peradaban Islam, khususnya selama Golden Age (abad 8-14 M), lahir dari motivasi ilmu untuk kemaslahatan umat dan mendekatkan diri kepada Allah. Inovasi seperti aljabar oleh Al-Khwarizmi, yang menjadi dasar komputasi modern, digunakan untuk perhitungan zakat dan astronomi ibadah; rumah sakit modern oleh Al-Razi menyediakan pengobatan gratis bagi semua; serta astrolabe untuk navigasi yang meningkatkan perdagangan adil tanpa eksploitasi.

Muslim engineers mengembangkan energi terbarukan seperti hydropower, tidal power, dan windmills horizontal untuk irigasi dan pabrik, mencegah kelaparan melalui sistem pertanian canggih seperti crop rotation dan irigasi yang berkelanjutan.

Inovasi seperti optik oleh Ibn al-Haytham (Al-Haytham) merevolusi ilmu pengetahuan, sementara peta akurat dan obat-obatan dibagikan secara bebas, bukan dimonopoli.

Dampak sosialnya positif: teknologi Islam mendorong inklusi, seperti universitas degree-awarding yang terbuka untuk semua, dan menghindari degradasi lingkungan karena prinsip Islam melarang israf (pemborosan) dan memerintahkan keadilan sosial tanpa riba.

Bahkan di era Ottoman, teknologi terus berkembang untuk umat manusia, bukan untuk kolonialisme seperti di Barat.

Perbedaan mendasar terletak pada fondasi ideologi – di masyarakat sekuler Barat, teknologi berkembang melalui kompetisi kapitalis yang sering mengabaikan etika, menyebabkan ketidaksetaraan dan kerusakan, sementara di Islam, ilmu adalah amanah dari Allah, diintegrasikan dengan syariah untuk kebaikan bersama.

Barat mewarisi kemajuan dari Islam tapi memutuskannya dari akar spiritual, sehingga meski maju secara materiil, masyarakatnya mengalami krisis moral dan lingkungan.

Islam tidak menolak teknologi modern—sebaliknya, ulama seperti yang di Muslim world membedakan teknologi yang sesuai syariah dari yang destruktif. Namun, tanpa Khilafah, umat Islam tertinggal karena kolonialisme Barat yang menghancurkan institusi ilmiah Muslim.

Kapitalisme di setiap abadnya hanya melahirkan berbagai jenis generasi yang absurb yang terus mengalami kemunduran pemikiran dan kerusakan mental, antara lain sebagai berikut (tech-labs.com 23/3/2023):

Pertama, generasi yang lahir di abad 18 M, disebut sebagai “Generasi Revolusi Industri” (lahir sekitar 1700-1800), memiliki karakteristik tradisional dan agrarian awalnya, tapi kemudian adaptif terhadap perubahan industri, meski ditandai dengan ketahanan rendah terhadap eksploitasi dan kurangnya akses pendidikan, membuat mereka rentan terhadap manipulasi kapitalis.

Kedua, generasi di abad 19, sering disebut “Generasi Victorian” atau “Generasi Hilang” (lahir sekitar 1800-1900), dicirikan oleh nilai-nilai moral ketat di permukaan tapi hipokrit, ambisius dalam karir industri, dan rentan terhadap depresi akibat perang dan kemiskinan, meski mereka mulai menuntut hak buruh.

Ketiga, generasi yang lahir di abad 20 mencakup Silent Generation (1928-1945: disiplin, setia, tapi konservatif), Baby Boomers (1946-1964: optimis, kerja keras, tapi materialistis), dan Gen X (1965-1980: independen, skeptis, adaptif teknologi tapi rentan burnout (kondisi psikologis di mana seseorang mengalami kelelahan emosional, fisik, dan mental yang ekstrem, sering disertai cynisme terhadap pekerjaan, penurunan produktivitas, dan perasaan tidak berdaya—biasanya akibat tekanan berkepanjangan tanpa istirahat yang cukup). Gen X juga kerap dijuluki sebagai Sandwich Generation

Keempat, generasi di abad 21 meliputi Millennials (1981-1996: tech-savvy (mahir teknologi), value-driven (didorong oleh nilai-nilai), tapi rentan anxiety (rentan terhadap kecemasan), Gen Z (1997-2012: digital native (terampil mencari informasi secara instan, multitasking di app dan media sosial ), aktivis sosial, dan isolasi emosional (kesepian emosional), dan Gen Alpha (2013-sekarang: AI-dependent, kreatif, tapi potensi overstimulated).

Berbeda dengan kapitalisme, Islam melahirkan Generasi Emas, atau lebih dikenal sebagai Zaman Keemasan Islam, merujuk pada periode kemakmuran ilmiah, budaya, dan ekonomi dalam peradaban Islam yang berlangsung sekitar abad ke-8 hingga ke-14 Masehi.

Masa ini ditandai dengan kemajuan pesat di berbagai bidang seperti matematika, kedokteran, astronomi, filsafat, dan seni, terutama di bawah Kekhalifahan Abbasiyah dengan pusat di Baghdad.

Faktor pendukungnya meliputi terjemahan karya-karya Yunani kuno, dukungan dari khalifah seperti Harun al-Rashid, serta semangat pencarian ilmu sesuai ajaran Islam, yang membuatnya menjadi era di mana umat Muslim memimpin dunia dalam inovasi dan pengetahuan.

Perbedaan ini membuktikan bahwa teknologi sekuler adalah jebakan yang menghancurkan peradaban dari dalam, sementara Islam menawarkan model holistik di mana inovasi menjadi sarana taqwa.

Sudah saatnya umat Muslim bangkit, kembali ke akar Islam untuk mengembangkan teknologi yang berkah, bukan kutukan. Dengan islam, kita bisa merebut kembali kejayaan Golden Age. Wallahu a’lam bishowab.[]

Comment