RADARINDONESIANEWS.COM, BANDUNG — Bagi Luky, kecintaannya terhadap lingkungan hidup bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Benih kepedulian itu telah ditanamkan sejak kecil oleh kedua orang tuanya.
Sang ayah yang merupakan anggota TNI dan ibunya yang berprofesi sebagai bidan kerap mengajaknya menyusuri sawah, menikmati hamparan alam yang masih dipenuhi capung dan kunang-kunang.
“Dari kecil saya dikenalkan orang tua bagaimana sawah yang sehat itu. Saya jadi jatuh cinta pada lingkungan hidup,” ujar Luky melalui pesan WhatsApp, Senin (13/7/2026).
Kecintaan tersebut kemudian membawanya bergabung dengan sekolah pendaki gunung Wanadri. Meski tidak sempat menjadi anggota karena harus pulang merawat ayahnya yang terserang stroke, kecintaannya terhadap alam terus tumbuh.
Saat bekerja di industri semikonduktor di Batam pada akhir 1990-an, Luky aktif sebagai penyelam hingga menjadi dive master. Bersama komunitas penyelam, ia ikut membuat reef ball untuk memulihkan terumbu karang di kawasan Nongsa serta menanam hutan mangrove.
Perjalanan hidupnya semakin memperkaya pemahaman tentang kelestarian alam ketika terlibat dalam Ekspedisi 92 Pulau Terdepan Nusantara. Dari perjalanan tersebut, ia menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat lokal menjaga keseimbangan alam melalui kearifan tradisional.
“Di situlah saya belajar bahwa masyarakat lokal memiliki kebijaksanaan luar biasa dalam menjaga alam. Banyak hal yang akhirnya membekas dalam pikiran saya,” katanya.
Titik Balik Kehidupan
Tahun 2010 menjadi titik balik dalam hidup Luky. Ia didiagnosis menderita penyakit autoimun yang memicu stroke berulang hingga akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan kembali ke Bandung.
Di atas lahan milik keluarganya yang kini dikenal sebagai Rumah Kayu Permakultur, ia mulai mewujudkan cita-cita lama membangun rumah di pegunungan yang berdampingan dengan hutan dan aliran sungai kecil.
Menurut Luky, sakit yang dialaminya justru membuka jalan baru dalam kehidupannya.
“Satu pintu ditutup Allah, tetapi pintu lain dibuka. Saya menemukan tempat ini dan mulai serius belajar permakultur,” ujarnya.
Ia mengaku banyak belajar dari sejumlah tokoh, di antaranya almarhum Opa Felix yang tinggal selama enam bulan di rumahnya, serta Kang Deni Asyikien dari Kasepuhan Ciptagelar. Dari merekalah ia mempelajari dasar-dasar permakultur sebelum akhirnya memperdalam ilmu melalui berbagai literatur.
Pada 2021, Luky mengikuti Permaculture Design Course (PDC) secara resmi setelah mendapat dukungan dari seorang perwira tinggi TNI AL yang mendorongnya memperoleh sertifikasi tentang akademi rakyat mandiri pangan, dengan pengampu Anam Masrur dan Chandra.
Menjawab Krisis Pertanian
Luky menilai pertanian organik merupakan langkah baik, tetapi belum cukup menjawab berbagai persoalan pertanian modern.
Menurut dia, permakultur menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh karena tidak hanya berfokus pada hasil panen, melainkan juga memulihkan ekosistem.
“Tanah kita sekarang banyak yang rusak karena ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia. Permakultur mengajarkan bagaimana membuat pupuk sendiri, memperbaiki tanah, dan membangun ekosistem yang sehat,” katanya.
Ia mencontohkan, saat lahan di sekitarnya mengering pada musim kemarau, kebun yang dikelola dengan prinsip permakultur tetap hijau.
“Permakultur itu meniru cara kerja hutan. Karena itu air bisa tersimpan lebih baik dan tanah tetap lembap,” ujarnya.
Berangkat dari Tiga Etika
Luky menjelaskan, permakultur dibangun di atas tiga etika utama, yakni Earth Care, People Care, dan Fair Share.
Menurut dia, ketiga prinsip tersebut sangat selaras dengan nilai-nilai Islam, yakni menjaga bumi sebagai amanah Allah, membangun hubungan baik dengan sesama manusia, serta berbagi dengan seluruh makhluk hidup demi menjaga keseimbangan ekosistem.
“Ini yang membuat saya merasa, ‘wah, ini saya banget’. Nilai-nilainya sangat dekat dengan kehidupan yang ingin saya jalani,” katanya.
Tidak Ada Sampah yang Terbuang
Dalam praktiknya, Rumah Kayu Permakultur menerapkan prinsip produce no waste atau tidak menghasilkan sampah.
Luky menjelaskan seluruh limbah rumah tangga diolah kembali menjadi sumber daya baru.
Air hujan ditampung, limbah air rumah tangga difilter untuk mengairi kebun, sedangkan kolam ikan dimanfaatkan sebagai sumber pupuk cair setelah melalui berbagai tahapan.
“Di permakultur, limbah dari satu sistem menjadi sumber daya bagi sistem yang lain,” ujarnya.
Ia juga menerapkan panen air hujan, penggunaan pompa air bertenaga aliran sungai, hingga pengolahan limbah organik menjadi pupuk.
Keanekaragaman sebagai Kunci
Luky mengatakan salah satu kekuatan permakultur adalah keberagaman tanaman.
Menurut dia, berbagai jenis tanaman dengan strata yang berbeda membuat ekosistem lebih stabil sekaligus mengurangi serangan hama secara alami.
Ia mencontohkan penerapan konsep hutan pangan sintropik yang menggabungkan pohon tinggi, tanaman buah, kopi, kakao, sayuran hingga tanaman penutup tanah dalam satu kawasan.
“Kalau tanamannya beragam, hamanya bingung. Mereka tidak mudah menyebar karena habitatnya tidak seragam,” katanya.
Keanekaragaman tersebut juga menghadirkan kembali berbagai satwa liar seperti burung hantu, katak, capung, lebah, hingga ular yang menurutnya memiliki fungsi ekologis masing-masing.
Tantangan Terbesar
Meski manfaatnya besar, Luky mengakui penerapan permakultur masih menghadapi tantangan besar.
Menurutnya, pola pikir yang menginginkan hasil instan menjadi hambatan utama.
“Orang ingin tanam hari ini, besok langsung panen. Padahal permakultur itu proses. Tanah harus dipulihkan dulu, ekosistem dibangun dulu,” ujarnya.
Ia mencontohkan lahan sawah permakultur di Jember yang mampu menghasilkan hingga 12 ton gabah per hektare setelah ekosistemnya matang, jauh di atas rata-rata produktivitas sawah konvensional.
Membawa Perubahan Nyata
Luky mengaku manfaat permakultur tidak hanya dirasakan pada lingkungan, tetapi juga kesehatan dan kehidupan keluarganya.
Ia bercerita, setelah menerapkan pola hidup yang lebih alami, kondisi kesehatannya membaik meski telah mengalami stroke hingga sebelas kali.
Selain itu, aktivitas edukasi permakultur yang dijalaninya kini menjadi sumber penghidupan keluarga melalui berbagai pelatihan dan kunjungan belajar dari dalam maupun luar negeri.
“Rezeki selalu datang. Banyak orang datang belajar ke sini, dari Indonesia sampai Italia, Jepang, India, dan negara lainnya,” ujarnya.
Mimpi untuk Indonesia
Di akhir wawancara, Luky menyampaikan harapannya agar permakultur menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional.
Ia membayangkan Indonesia dapat memanfaatkan setiap lahan kosong untuk menghasilkan pangan, tanpa harus terus membuka hutan baru.
Menurut Luky, jika prinsip-prinsip permakultur diterapkan secara luas, Indonesia mampu menghadapi krisis iklim, memperbaiki lahan yang rusak, sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
“Kalau semua orang mulai mengembalikan air ke dalam tanah, menanam pohon, dan merawat lahannya dengan benar, saya yakin Indonesia akan jauh lebih hijau, lebih subur, dan lebih mandiri pangannya,” katanya.
Ia pun menutup wawancara dengan optimisme.
“Permakultur bukan hanya soal bertani. Ini tentang bagaimana manusia kembali hidup harmonis dengan alam sebagai khalifah di muka bumi.” Imbuh Luky. []













Comment