Pernikahan Dini Dihambat, Perzinahan Diberi Peluang

Opini851 Views

 

 

 

Oleh : Septiana, A.Md. T, Aktivis Dakwah

___________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dilansir antara, pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan berupaya meningkatkan pencegahan pernikahan dini untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan permasalahan terkait lainnya.

“Untuk meningkatkan pencegahan pernikahan dini diinstruksikan petugas Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Palembang menggandeng guru melakukan penyuluhan dampak negatif pernikahan dini,” kata Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda di Palembang, Jumat.

Untuk mencegah terjadinya pernikahan dini, dia mengharapkan guru bisa mengedukasi siswanya mengenai dampak negatif pernikahan di usia muda bagi kesehatan ibu dan anak serta permasalahan sosial akibat pertumbuhan penduduk yang cepat hasil pernikahan usia muda.(sumsel.antaranews.com, 2 September 2022)

Berbagai upaya dilaksanakan untuk meningkatkan pencegahan pernikahan dini di antaranya karena melanggar hak anak, dianggap mendiskriminasikan perempuan dan berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

Pernikahan dini juga dianggap menghasilkan keluarga yang tidak harmonis, karena tidak adanya kesiapan mental bahkan dianggap pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Padahal ketidakharmonisan rumah tangga juga bisa terjadi pada pernikahan usia dewasa. Sehingga problem sebenarnya bukan di usia pernikahan. Karena itu program pencegahan pernikahan dini bukanlah solusi, kebijakan yang sekuler ini terbukti menimbulkan persoalan baru.

Lihat saja pada pergaulan bebas hal inilah akar dari perzinahan, HIV meningkat, perselingkuhan dan rusaknya keharmonisan rumah tangga.

Inilah akibatnya jika sistem kapitalis menjunjung tinggi kebebasan masih digunakan untuk mengurusi rakyat. Bukan memberikan solusi yang tepat, solutif dan benar tetapi mala melahirkan persoalan-persoalan baru. Jika ini berlangsung maka program pencegahan pernikahan dini akan dibenarkan.

Disaat HIV meningkat, pernikahan dini dilarang. Seharusnya negara mempersiapkan anak muda untuk siap menikah, karena banyak anak muda saat ini yang menikah tapi belum siap.

Berbeda sekali dengan anak-anak muda di masa Islam. Di mana mereka sangat produktif dan didorong agar giat beribadah, mentaati Allah SWT, meninggalkan maksiat, berbakti pada orangtua, rajin menuntut ilmu dan mengerjakan berbagai amal salih.

Selain itu anak-anak muda ditempa agar tidak memperturutkan hawa nafsu seperti memakai narkoba, haus popularitas, bergaul bebas dengan lawan jenis, dll.

Syariat Islam adalah satu-satunya rujukan dalam menerapkan hukum termasuk dalam pernikahan. Tidak perlu ada perdebatan dan perselisihan selama syarat dan rukun terpenuhi.

Klaim pernikahan dini berdampak buruk tak akan muncul saat Islam diterapkan secara total dalam kehidupan. Masing-masing calon mempelai sudah mengetahui hak dan kewajiban saat memutuskan untuk menikah meski usia mereka dalam pandangan kapitalis-sekular tergolong anak-anak.

Paham sekuler terus menggerus pemikiran dan pola sikap remaja, wal hasil pernikahan dini dihambat sementara perzinahan diberi peluang dan dilonggarkan. Padahal usia bukanlah problem dalam pernikahan. Tetapi bagaimana orangtua menyiapkan, lingkungan menyiapkan, dan negara dengan sistemnya menyiapkan.

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (HR. Bukhari).

Pernikahan adalah sarana terbesar untuk memelihara manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan Allah, seperti zina dan sebagainya.

Oleh sebab itu seharusnya negara mendukung generasi muda untuk mampu dan siap dalam menghadapi pernikahan. Mendukung program-program mengelola emosi, cara mencari nafkah, kematangan dalam berkomunikasi, dll.

Maka yang dibutuhkan anak itu pemberlakuan sistem pendidikan Islam, agar generasi siap memasuki gerbang keluarga dan sistem Islam yang mencegah pergaulan bebas remaja.

Sistem pergaulan Islam akan menerapkan kurikulum Islam, kurikulum ini akan menghasilkan output yang siap menjalankan hukum syariat dan siap menanggung amanah-amanah besar menjadi orangtua dengan berbagai tanggung jawabnya, menjadi pemimpin bagi masyarakat, serta menyebarkan risalah agung risalah Islam ke seluruh dunia.Wallahu’alam bishowab.[]

Comment