PJMI Gelar Rakernas 2025, Soroti Peran Jurnalis Muslim Hadapi Disrupsi Digital dan AI

Nasional841 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–— Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Diskusi Strategis bertajuk “Tantangan Jurnalis Muslim di Era Disrupsi Digital dan Artificial Intelligence (AI)”, Jumat (25/7/2025), di Aula Alap-Alap, Gedung G, Balai Kota DKI Jakarta, Lantai 22.

Rakernas ini menjadi momentum strategis bagi jurnalis Muslim dari berbagai daerah untuk berkonsolidasi, merumuskan arah gerak organisasi, serta merespons perubahan industri media yang dipicu oleh transformasi digital dan teknologi kecerdasan buatan.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya integritas, etika, dan spiritualitas dalam dunia jurnalisme.

“Di tengah banjir informasi dan potensi manipulasi digital, jurnalis Muslim harus menjadi penjaga kebenaran dan pencerdas umat,” ujar Komaruddin.

Gubernur DKI Jakarta, Dr. Pramono Anung Wibowo, yang berhalangan hadir, diwakili oleh Kepala Bidang Komunikasi Publik Pemprov DKI Jakarta, Koharuddin. Dalam sambutannya, ia menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif PJMI dalam membangun ekosistem media yang sehat dan berpihak pada kepentingan publik.

Turut memberikan sambutan Kepala Bidang Organisasi Kesbangpol DKI Jakarta, Eliezer, yang mewakili tuan rumah kegiatan. Ia mengapresiasi peran PJMI dalam memperkuat nilai kebangsaan melalui perspektif keislaman yang inklusif.

“Sinergi antara organisasi pers dan institusi pemerintah menjadi kunci menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk,” katanya.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam forum tersebut, di antaranya Penasehat KADIN Timur Tengah Mohamad Bawazeer, Ketua Umum Pimpinan Pusat Al-Washliyah KH Masyhuril Khamis, serta sejumlah jurnalis senior dan aktivis organisasi kemasyarakatan Islam. Kehadiran mereka memperkuat posisi Rakernas sebagai forum strategis untuk menyatukan visi umat melalui kekuatan informasi dan literasi.

Ketua Umum PJMI, H. Ismail Lutan, menegaskan urgensi peran jurnalis Muslim dalam membangun ekosistem informasi yang adil dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan universal. “Kami ingin memastikan jurnalis Muslim menjawab tantangan zaman dengan menjunjung jurnalisme profetik: jujur, amanah, menyampaikan kebenaran, dan cerdas,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi publik, hadir sebagai pembicara antara lain Dr. Ika Karlina (pakar komunikasi, Monash University), Dr. H.M. Luthfie (akademisi Universitas Djuanda), serta Emily Magaziner (Public Diplomacy Officer, Kedutaan Besar Amerika Serikat).

Emily menyampaikan bahwa teknologi AI telah mengubah cara berita diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi. “AI juga mengubah cara kerja para jurnalis. Saya berharap diskusi ini memberi ruang untuk memahami potensi AI secara kritis dan produktif,” ujarnya.

Diskusi dipandu jurnalis senior H. Mohammad Anthoni dan diikuti sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Ketua Panitia, Aliyudin Sofyan, menyebut Rakernas kali ini bukan sekadar forum kerja tahunan, melainkan wadah konsolidasi dan pembelajaran bersama. “Kami ingin jurnalis Muslim tak hanya bertahan, tapi mampu memimpin narasi positif di tengah gempuran teknologi dan arus globalisasi informasi,” katanya.

Konsolidasi Nasional: Literasi, Kolaborasi, dan Profesionalisme

Setelah diskusi, Rakernas dilanjutkan dengan Konsolidasi Nasional PJMI. Agenda ini membahas hasil kerja komisi-komisi serta penguatan jejaring antarjurnalis Muslim. Ketua Dewan Pengawas PJMI, Muhammad Bawazeer, membuka sesi konsolidasi dengan menekankan pentingnya kesinambungan visi organisasi.

Rakernas 2025 ini mengusung sejumlah misi utama, antara lain: mendorong produksi konten media yang berkualitas dan mencerahkan umat; meningkatkan kapasitas jurnalis Muslim dalam menghadapi teknologi baru; memperkuat sinergi antara media, akademisi, dan lembaga publik; serta meneguhkan nilai-nilai jurnalisme profetik sebagai landasan kerja jurnalistik.

“Media harus menjadi mitra masyarakat, bukan sekadar mesin klik. Dan jurnalis Muslim memiliki tanggung jawab moral sebagai penjaga nurani publik,” ujar Ismail Lutan.

Sebagai simbol komitmen terhadap peningkatan literasi dan akhlak jurnalistik, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) turut menyerahkan mushaf Al-Qur’an kepada seluruh peserta.[]

Comment