Pola Hasbara Israel Melalui Retorika Gencatan Senjata

Opini203 Views

Penulis: Reni Apriani, S.Sc., Gr. | Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebagaimana dikenal dalam studi komunikasi politik, hasbara merupakan strategi sistematis Israel untuk memengaruhi opini publik internasional agar memandang negara tersebut dalam citra positif.

Strategi ini dijalankan melalui berbagai cara, mulai dari pengendalian narasi media hingga manipulasi wacana politik global. Media arus utama kerap menjadi saluran penting dalam penyebaran informasi yang bias, bahkan menyesatkan, sehingga jika tidak disikapi dengan analisis kritis, kesalahan informasi tersebut berkembang menjadi opini publik yang dianggap sebagai kebenaran.

Dalam konstruksi narasi tersebut, Israel berusaha mengubah posisinya dari penjajah menjadi pihak yang “membela diri”. Setiap agresi militer dibingkai sebagai respons atas ancaman, bukan sebagai tindakan pendudukan dan penindasan.

Pola inilah yang kemudian dipakai untuk memperkecil kritik internasional dan meredam tekanan global terhadap pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan di Palestina.

Kebingungan masyarakat internasional semakin nyata ketika Israel terus melancarkan serangan ke Gaza meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan.

Pelanggaran yang berulang ini memicu pertanyaan serius tentang ketulusan komitmen perdamaian yang diklaim Israel. Bahkan, tidak sedikit pihak yang menilai gencatan senjata tersebut hanya sebagai bentuk kejahatan baru dengan kemasan diplomasi.

Fenomena ini sejatinya telah disinggung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai” (QS. Al-Isra: 7).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebohongan dan kezaliman tidak akan pernah bertahan lama.

Berdasarkan ayat tersebut, dapat dipahami bahwa pola hasbara Zionis sejatinya merupakan upaya sistematis untuk mengaburkan kebenaran yang telah ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an.

Pola ini dijalankan secara konsisten, terutama ketika tekanan internasional meningkat atau ketika sekutu Israel mulai merasakan kerugian politik dan ekonomi akibat terbongkarnya fakta genosida di Gaza.

Seperti diberitakan berbagai media internasional dan laporan masyarakat sipil, gelombang protes global muncul untuk mendesak Israel menghentikan agresi dan memprioritaskan pembebasan sandera.

Dalam situasi inilah skenario gencatan senjata digulirkan, bukan sebagai jalan menuju perdamaian, melainkan sebagai alat untuk meredam tekanan dan memulihkan citra di mata dunia.

Gencatan senjata dijadikan instrumen hasbara untuk mengubah fokus media mainstream, dari kejahatan perang menuju klaim Israel sebagai pihak yang patuh terhadap hukum internasional.

Namun, narasi ini bertolak belakang dengan laporan citizen journalism yang memperlihatkan fakta di lapangan. Genosida tetap berlangsung tanpa jeda, bahkan ketika gencatan senjata diumumkan, sehingga membuka kebohongan yang selama ini disembunyikan.

Upaya penyelamatan “wajah” Israel melalui diplomasi simbolik tersebut tidak lagi efektif. Fakta-fakta lapangan telah tersebar luas, dan masyarakat global semakin menyadari strategi propaganda yang dijalankan.

Hal ini menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat ditutupi selamanya, sebagaimana kehancuran kedua yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Akibat kebohongan melalui skenario gencatan senjata, rakyat Palestina terus menjadi korban. Saudara-saudara kita syahid akibat agresi yang tidak berhenti, fasilitas publik yang baru dibangun kembali hancur, bantuan kemanusiaan dibatasi bahkan dihalangi masuk ke Gaza, dan penderitaan tetap berlangsung seolah tidak pernah ada gencatan senjata.

Reaksi masyarakat sipil dunia terhadap pelanggaran ini didominasi kecaman dan protes keras. Rekaman pelanggaran yang tersebar luas di media sosial menjadi bukti kuat untuk menuntut pertanggungjawaban hukum Zionis Israel.

Generasi Z dan kaum muda secara aktif mengkritik narasi resmi Israel yang tidak sesuai dengan fakta lapangan, bahkan menyebut gencatan senjata sebagai window dressing diplomacy—diplomasi pencitraan yang bersifat simbolik tanpa penyelesaian substansial.

Di sisi lain, sikap para pemimpin negara dan elit politik dunia menunjukkan kontras yang mencolok. Kecaman disampaikan, namun resolusi untuk menghukum pelanggaran gencatan senjata kerap kandas.

Lembaga internasional pun terkesan lumpuh, terbelenggu kepentingan politik dan hegemoni kekuatan besar, sehingga gagal menghadirkan keadilan yang nyata.

Dalam kondisi ini, kritik, protes, dan analisis kritis terhadap pemberitaan media mainstream menjadi langkah kecil namun strategis. Jika dilakukan secara konsisten, upaya ini mampu membentuk kesadaran kolektif umat. Melawan propaganda hasbara berarti menyebarkan fakta dan kebenaran secara berkelanjutan.

Edukasi tentang Baitul Maqdis menjadi bagian penting dari perlawanan intelektual tersebut. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW terlebih dahulu membangun kesadaran umat melalui pendidikan sebelum pembebasan dilakukan.

Edukasi hari ini adalah strategi jangka panjang untuk mempersiapkan pembebasan Baitul Maqdis—sebuah ikhtiar nyata menuju keadilan dan kemerdekaan yang hakiki.[]

Comment