Penulis: Poppy Kamelia P., BA(Psych), CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS | Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di negeri yang katanya subur dan kaya raya, justru tersaji pemandangan memilukan yang datang silih berganti. Bukan kabar gembira tentang prestasi anak bangsa yang terdengar, melainkan berita tentang darah, tangisan, dan amarah di jalanan, sekolah, hingga di antara sahabat sebaya. Generasi muda—yang seharusnya menjadi harapan masa depan—kian terperangkap dalam lingkaran kekerasan, narkoba, dan hilangnya arah hidup.
Baru-baru ini publik digemparkan oleh video viral dari Pangkep, Sulawesi Selatan. Seorang siswa dihujani pukulan oleh beberapa pelajar lain tepat di depan sekolahnya, tanpa ada guru atau pihak sekolah yang berusaha melerai, sebagaimana diberitakan BeritaSatu (10 Agustus 2025).
Hanya beberapa hari berselang, polisi di Serpong, Tangerang Selatan, menangkap 54 pelajar dari berbagai sekolah yang hendak melakukan tawuran massal dengan senjata tajam di tangan, sebagaimana ditulis Kompas.com (9 Agustus 2025).
Deretan kasus lainnya pun tak kalah mengerikan. Di Penjaringan, Jakarta Utara, lima pelajar membegal sopir truk dan menganiaya seorang lansia, sebagaimana diberitakan BeritaSatu (10 Agustus 2025).
Di Bandung, seorang siswa SMK tewas ditusuk hanya karena persoalan cemburu, sebagaimana ditulis BeritaSatu (9 Agustus 2025).
Sementara di Simalungun, Sumatera Utara, seorang pelajar ditemukan tewas dengan wajah terbungkus kain dan tubuh berlumuran darah, sebagaimana dilaporkan Detik.com (11 September 2025).
Bahkan di Muratara, Sumatera Selatan, seorang siswa SD tega menusuk pelajar MTs hingga tewas hanya dengan gunting, sebagaimana diberitakan Detik.com (12 Agustus 2025). Fakta-fakta ini terasa terlalu kejam untuk disebut berasal dari negeri yang katanya beradab.
Benang merah dari semua tragedi ini jelas: generasi kita lemah dalam pengendalian diri, mudah terprovokasi, dan kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah secara sehat. Mereka tumbuh di lingkungan sosial yang tak lagi aman, diserbu media dengan tayangan kekerasan serta gaya hidup bebas, sementara sistem pendidikan gagal menanamkan akhlak mulia.
Akar persoalan ini berkelindan dengan sistem sekuler-kapitalis yang kini mengatur hampir seluruh aspek kehidupan. Sistem ini perlahan tapi pasti mengikis nilai moral dan spiritual, menggantikannya dengan orientasi material semata. Pendidikan direduksi menjadi sekadar jalur menuju pekerjaan dan penghasilan, bukan sebagai proses pembentukan manusia berkepribadian luhur.
Pelajaran agama pun kerap direduksi menjadi teori hafalan demi nilai ujian, bukan pedoman hidup yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Akibatnya, banyak anak Muslim tumbuh tanpa memahami jati diri sebagai hamba Allah, apalagi misi besar penciptaannya. Mereka kehilangan kompas moral, sehingga mudah terseret arus budaya kebebasan tanpa batas.
Kapitalisme juga memperlebar jurang sosial. Orang tua sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup yang kian melambung, sementara anak-anak mencari “pendidikan” dari lingkungan dan media sosial yang tak terkendali. Kekerasan, pornografi, dan hedonisme pun menjadi konsumsi sehari-hari, sedangkan nilai Islam hanya terdengar samar di masjid atau di sekolah seminggu sekali.
Padahal, Islam menawarkan solusi menyeluruh. Dalam sistem Islam, pendidikan tidak hanya fokus pada akademis, tetapi juga menanamkan kepribadian Islam yang kokoh. Anak-anak dibesarkan dengan pemahaman bahwa mereka memiliki tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia.
Mereka diajarkan mengendalikan hawa nafsu, menghormati orang lain, dan menyelesaikan masalah dengan musyawarah, bukan kekerasan.
Negara dalam konsep islam bertanggung jawab penuh terhadap urusan umat, termasuk pendidikan generasi. Sekolah menjadi tempat yang aman dan penuh keteladanan, guru berperan sebagai pendidik sekaligus pembimbing moral, sementara media dikontrol agar hanya menayangkan konten mendidik dan membangun akhlak.
Kita harus jujur mengakui, peristiwa yang menimpa generasi kita bukan sekadar masalah individu, melainkan bukti nyata kegagalan sistem yang berjalan saat ini. Jika tetap bertahan dalam sistem yang sama, maka berita tentang pelajar tawuran, pembunuhan, dan narkoba akan terus menghantui linimasa kita. Setiap kali itu terjadi, satu demi satu harapan masa depan bangsa terkubur.
Hari ini kita dihadapkan pada pilihan: membiarkan generasi hancur perlahan dalam cengkeraman kapitalisme, atau bangkit menuntut perubahan menuju sistem yang menjamin kebaikan dunia dan akhirat. Islam bukan sekadar agama, tetapi jalan hidup yang sempurna untuk mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya guna.
Saatnya kita berhenti sekadar mengelus dada setiap kali mendengar berita duka tentang generasi kita. Saatnya berjuang membangun sistem yang benar-benar berpihak pada mereka, sebelum kata harapan benar-benar hilang dari kamus masa depan kita. Wallahu a’lam bisshawab.[]














Comment