Rafida Aulya Rahmi: Menuju Perubahan yang Hakiki

Berita760 Views
Rafida Aulya Rahm
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Banyak terjadi polemik di tahun 2018 kemarin, pasalnya Indonesia masih meninggalkan catatan kelam. Sudah seharusnya menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar senantiasa intropeksi dari berbagai peristiwa yang terjadi. Kini, negara harus dipastikan bahwa isu menonjol seperti bencana alam, pemanfaatan sumber daya alam, dan stabilisasi politik penting untuk menjadi bahan “Assessment”, sekaligus untuk menentukan opsi-opsi kebijakan akan datang yang bernilai tinggi bagi perbaikan kesejahteraan, keadilan dan keamanan Nasional.
Dalam dimensi sosial, tantangan terbesar yang dihadapi selama 2018 adalah banyaknya bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami yang merenggut ribuan nyawa. Tahun kemarin seperti tahun penuh duka bagi bangsa Indonesia mengingat banyaknya bencana massif mencakup kecelakaan transportasi udara dan laut yang menjadi catatan kelam sekaligus peristiwa yang sangat mematikan.
Pada 5 Agustus, gempa berkekuatan 6,9 menghantam Pulau Lombok. Gempa ini didahului dengan gempa berkekuatan 6,4, hingga akhir Juli wilayah ini juga terus dilanda sejumlah gempa susulan. Gempa bumi di Lombok telah menelan 468 korban jiwa.
Selanjutnya, gempa bumi berkekuatan 7,7 dan tsunami setinggi 1,5-3 meter di Donggala, Palu yang membawa kehancuran pada akhir September. Bencana ini meratakan seluruh kota dan membuat lebih dari 330 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Menjelang tutup tahun, kembali lagi terjadi rob-tsunami pada 22 Desember. Jumlah korban tsunami yang menerjang daerah Banten dan Lampung sebanyak 222 meninggal dunia, 843 luka, dan 28 orang hilang (BNPB, 23/12). Akibat tsunami tersebut, sebanyak 558 unit rumah rusak, 9 hotel rusak berat, 60 warung kuliner, dan 350 perahu rusak.
Dari berbagai peristiwa kelam yang menimpa lantas tidakkah kita berfikir bahwa adanya peringatan berupa bencana secara massif, tentu ini seharusnya menjadi pelajaran penting pada kebijakan pemerintah yang selalu bertentangan dengan Islam. Kedzaliman demi kedzaliman serta kedurhakaan terjadi dengan telanjang hingga mengundang berbagai peringatan dr Allah Swt.
Oleh karena itu, wajibnya Umat Islam bersatu agar fokus memperjuangkan Islam sebagai jalan hidup dengan mencampakkan Sistem Sekulerisme Demokrasi. Islam tak sekedar agama namun ia merupakan sebuah ideologi, mengatur aspek dari bangun tidur hingga tidur lagi. Islam memiliki solusi sesuai dengan aturan berdasarkan Al-quran dan As-sunnah. Mengingat dahulu Islam pernah berjaya selama 13 abad lamanya. 
Dalam Khilafah Islam umat Nasrani juga Yahudi diberi ruang untuk berinovasi sambil menimba Ilmu, mereka hidup berdamai dalam satu naungan dan satu komando tak ada sekat di antara keduanya meski berbeda aqidah mereka di berikan kebebasan untuk beribadah asal tidak mengganggu umat Muslim, mereka di berikan tempat tinggal dsb. 
Begitu Indahnya ketika hidup sesuai dengan perintah sang Pencipta, maka keberkahan akan datang dari langit dan Bumi karena ketakwaan Individu kepada Allah Swt juga kepada negara tentunya negara yang menerapkan sistem Islam dalam naungan Khilafah ala Min Haajin Nubuwwah. Wallahu A’lam.[]

Penulis adalah mahasiswi UIN Banten, fakultas ushuluddin semester 4

Comment