Rakyat Tumbang, Negara Gagap Menopang

Opini279 Views

 

Penulis: Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS. | Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hujan deras yang turun hampir tanpa jeda dalam beberapa pekan terakhir kembali menunjukkan bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk berbicara. Seperti dilaporkan mediaindonesia.com (15/11/2025), tanah jenuh air di Cilacap tak lagi mampu menahan beban.

Dalam satu hentakan yang tak terduga, longsor menimbun rumah dan warga yang tengah beristirahat. Hingga memasuki hari kesepuluh, dua korban masih belum ditemukan, sementara medan licin dan cuaca tak menentu membuat proses pencarian berjalan sangat lambat.

Sebagaimana diberitakan cnnindonesia.com (17/11/2025), situasi serupa terjadi di Banjarnegara. Sekitar 27 warga diduga masih tertimbun material longsor, sementara keluarga menunggu dalam kecemasan dan harapan yang kian tipis. Ketidakpastian menjadi teman sehari-hari mereka.

Di sisi lain, sebagaimana dirilis antaranews.com (23/11/2025), banjir rob kembali melanda Kepulauan Seribu, memaksa warga menyelamatkan barang-barang berharga ke tempat lebih tinggi.

Laporan dari cnnindonesia.com (23/11/2025) juga mencatat banjir besar di Sulawesi Tengah, Aceh, dan Sumatera Barat akibat curah hujan ekstrem yang melumpuhkan aktivitas harian warga.

Tim BNPB dan BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan telah bekerja keras di lapangan. Namun seperti diberitakan mediaindonesia.com (15/11/2025), keterbatasan alat berat, minimnya personel, serta lemahnya kesiapan mitigasi membuat evakuasi berjalan lamban dan tidak sebanding dengan kebutuhan.

Banyak warga menunggu berjam-jam hanya untuk mengetahui kabar tentang keluarganya sendiri. Kesungguhan petugas patut diapresiasi, tetapi persoalan yang tampak di lapangan menggambarkan adanya kelemahan struktural dalam tata kelola kebencanaan nasional.

Bencana alam memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika manusia menjaga keseimbangan lingkungan. Sayangnya, ulah manusia justru memperparah kondisi hari ini.

Lereng hijau dibangun menjadi permukiman, hutan penyangga ditebang tanpa kendali, dan daerah resapan diubah menjadi kawasan industri tanpa kajian risiko memadai. Ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusialah yang pertama merasakan akibatnya.

Lebih jauh, lambannya penanganan bencana memperlihatkan bahwa mitigasi kita masih setengah hati. Edukasi kebencanaan belum merata, simulasi evakuasi belum menjadi budaya, dan keputusan tata ruang kerap lebih mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek daripada keselamatan masyarakat.

Padahal, keselamatan rakyat bukan tambahan, tetapi kewajiban utama negara.

Dalam perspektif Islam, bencana bukan semata peristiwa alam, tetapi mengandung pesan ruhiyah agar manusia kembali bermuhasabah. Bumi adalah amanah. Merusaknya berarti mengingkari tanggung jawab sebagai khalifah. Ketika keseimbangan alam diabaikan, manusia sendirilah yang merasakan balasannya.

Perspektif ini bertemu dengan dimensi siyasiyah dalam ajaran Islam: negara memiliki kewajiban utama menjaga jiwa rakyat. Tata ruang harus berbasis risiko, bukan kepentingan sesaat.

Sistem mitigasi harus kuat, rencana tanggap darurat jelas, dan kapasitas evakuasi memadai. Penanganan bencana tidak boleh bersifat insidental, apalagi reaktif.[]

Comment