Oleh: Aisah Oscar, Pengiat Literasi
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — “Secerdas-cerdasnya kecerdasan adalah takwa. Sebodoh-bodohnya kebodohan adalah durhaka. Sejujur-jujurnya kejujuran adalah amanah. Sebohong-bohongnya kebohongan adalah khianat.” (Abu Bakar As-Shiddiq, Khalifah dan Sahabat Rasulullah saw.)
Benarlah apa yang disampaikan mertuanya Rasulullah saw., orang cerdas akan berusaha menjadi lebih baik, maka takwa adalah jawaban terbaik atas segala perbuatannya. Sambut bulan suci dengan persiapan menambah ketakwaan dari kebiasaan ibadah harian. Pasalnya ibadah di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya.
Demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa pemerintah meluncurkan Program Smartren Ramadhan Tahun 2022. Tujuannya adalah sebagai inovasi yang dapat menambah semangat dan memotivasi kaum milenial untuk lebih memperdalam Agama Islam.
Dalam kesempatan ini pun Uu Ruzhanul selaku wakil gubernur Jawa Barat menuturkan bahwa dalam dunia pendidikan, tidak hanya mencerdaskan generasi dari sisi kurikulum, tapi meningkatkan keimanan dan ketakwaan itu sama pentingnya.
Berikut ini isi dari materi program adalah seputar bagaimana pelaksanaan puasa, tata cara salat, sejarah para Nabi, menghormati orang tua, tauhid dan belajar Al-Qur’an. Selanjutnya bagi siswa putri juga ada pendidikan tambahan terkait perempuan. Inilah hal yang akan didapatkan siswa jika mengikuti program ini. (jabar.go.id, 30/03/2022)
Tinta emas mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab: “Tahukah kamu apa itu takwa?“ Ubay bin Ka’ab lalu balik bertanya: “Pernahkah kamu berjalan di suatu jalan yang penuh dengan duri? Lalu apa yang akan kamu lakukan?“ Umar menjawab: “Tentu saja saya akan sangat berhati-hati dan teliti agar tidak terkena duri“. Ubay berkata: “Itulah takwa“. Dari penjelasan ini tergambar bahwa jalan menuju takwa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi proses menuju takwa dalam pendidikan, bukan sekedar transfer ilmu saja. Namun lebih ke arah pembinaan terarah.
Perlu diketahui pendidikan -dalam sejarah manusia- tentu bertujuan melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal. Tapi, lewat pendidikan pula, kualitas sosok atau pribadi pembangun ini ditentukan. Negara dengan peradaban yang maju dan berkesejahteraan sebagaimana Khilafah Islam dahulu juga ditentukan oleh pengelolaan dan sistem pendidikan islam.
Dengan demikian, untuk mencetak SDM andal, maka sistem pendidikan tersebut harus disiapkan secara benar, baik dari sisi paradigma membangun pendidikan dan metode-metode penilaiannya. Sistem ini pun tidak terpengaruh oleh penilaian Indeks barat, mulai dari isi dan persiapan implementasinya di lapangan.
Sayangnya, pendidikan di Indonesia menganut asas sekularisme. Ini dilihat dari dipisahkannya sekolah agama dan sekolah umum. Sekularisme itu sendiri adalah pemisahan agama dari kehidupan. Yakni, antara keduanya dipisahkan dengan jurang perbedaan. Proses pendidikannya tidak berdasarkan kepada Islam (sebagai agama yang sahih). Jika pun mengambil dari Islam, itu hanya sekadar untuk melengkapi pendidikan keagamaan (peribadahan) dan pembentukan akhlak saja.
Sedangkan dalam perkara lainnya, peserta didik tidak dididik dengan panduan Islam. Tak ada sistem pendidikan, politik, pemerintah, sosial budaya, hukum, ekonomi yang benar-benar sesuai syariat islam. Tak ayal antara sains – sosial humaniora dengan aspek akidah Islam itu tidak mudah dikaitkan.
Konsep ajaran Islam yang telah mengalami sekularisasi pun dijauhkan pula dari risalah Islam yang hakiki. Akidah Islam dijadikan hanya sebatas membahas masalah keahiratan saja tidak menjadi asas dalam kehidupan dunia. Syariahnya hanya dibatasi dalam masalah ibadah ritual dan akhlak. Tidak dipakai untuk mengatur bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan negara. Karena pada dasarnya Indeks pembangunan manusia ditinjau dari seberapa takwanya keimanan seseorang.
Pada faktanya distorsi makna takwa ini hanya membuat kehati-hatian dalam beramal saja. Sehingga semakin hari makna takwa pada Allah SWT. kian pudar dalam kehidupan. Sedangkan praktik riba masih merajalela.
Penyelenggaraan ujian nasional dan bisnis tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) terus terjadi. Perzinaan dan LGBT menjadi-jadi di tengah-tengah remaja milenial ini.
Kezaliman dan kebohongan dalam politik dan pemerintahan tak kunjung henti Jika yang digunakan masih menggunakan standar barat maka, lihatlah bagaimana kondisi remaja saat ini di sana (baca: negara maju) sebut saja negara-negara di Eropa yang memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk bertingkah laku, berpendapat dan hak kepemilikan.
Tak jarang pula saat kebebasan dijunjung tinggi, maka kriminalisasi pun meningkat tajam. Istilah ‘my body it’s mine’ adalah salah satu pendapat yang membebaskan pengeksplorasian terhadap tubuh. Sehingga jangan ada aturan tentang kewajiban menutup aurat dan pernikahan sejenis pun harus bisa dilindungi pemerintah.
Demikian dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan akibat sekularisme hingga orang tidak merasa berdosa dan hilang rasa takutnya kepada Allah SWT. Padahal dalam ajaran Islam, negara itu ada untuk menjaga dan melindungi masyarakat dan melindungi ketakwaan mereka.
Semoga momen Ramadan ini bisa dijadikan sebagai perubahan agar semakin bertakwa. Langkah yang bisa dilakukan untuk memelihara dan menyempurnakan ketakwaan kepada Allah SWT antara lain:
Pertama, menjadikan akidah Islam bukan sekadar akidah ruhiyyah, tetapi juga akidah siyasiyah, yakni asas dalam kehidupan dunia. Dengan itu semua urusan dunia maupun akhirat selalu dilandasi oleh dorongan keimanan kepada Allah SWT.
Kedua, senantiasa menjadikan Islam sebagai standar untuk menilai perbuatan terpuji-tercela dan baik-buruk. Pertimbangan dalam beramal hanyalah halal dan haram, bukan manfaat atau madarat; bukan pula rida atau benci manusia, apalagi berdasarkan penilaian IPM ala manusia. Seharusnya yang di cari semata-mata adalah keridaan Ilahi sekalipun orang-orang mencaci dirinya.
Ketiga, bersabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT sebagaimana para nabi dan rasul, juga orang-orang salih dalam menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Nabi saw. Bersabda:
فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلاً يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ
Artinya : “Sungguh di belakang kalian adalah masa kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Pahala bagi yang melakukannya seperti 50 orang yang mengerjakan amalnya” (HR Abu Daud).
Keempat, berdakwah mengajak umat untuk sama-sama meniti jalan ketakwaan dan menghilangkan kemungkaran. Ia takut bila berdiam diri justru akan mendatangkan bencana dari Allah SWT (Lihat: QS al-Anfal [8]: 25).
Kelima, segera memohon ampunan kepada Allah SWT. dan kembali pada ketaatan manakala telah melakukan kemungkaran (Lihat: QS Ali Imran [3]: 135).
Keenam, menumbuhkan kerinduan pada rida Allah dan surga-Nya. Dengan begitu sandaran yang dijadikan bukan hanya sebatas penilaian manusia saja.
Kehidupan kapitalis saat ini telah menyandera umat agar segera kembali menerapkan sistem pendidikan yang sahih melanjutkan kehidupan islam.
Maka wajarlah ketika berbagai persoalan pendidikan terus saja bermunculan saat jauh dari sistem buatan Sang Pencipta, Problem guru yang tak kunjung selesai. Lalu ditambah permasalahan siswa yang terus mengelus dada.
Sampai kapan umat dan insan pendidikan di Indonesia menyadari kekeliruannya. Sehingga tidak terpaku pada penilaian barat yang notabene tidak akan melahirkan sistem pendidikan yang sahih.
Di sinilah perjuangan itu harus selalu digelorakan. Kerinduan akan adanya perisai umat, yaitu Khilafah Islamiyah semakin menggeliat. Lewat dakwah Islam, mulai tulisan ataupun lisan terus-menerus disampaikan opini tentang penerapan kehidupan Islam kepada masyarakat. Semoga Allah segera menurunkan pertolongan-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam bishshawab.[]









Comment