Ramadhan Berdarah Di Palestina

Opini1089 Views

 

 

Oleh: Sarah Ainun, S.Kep, M.Si, Perawat

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kaum muslim dunia masih terlelap dalam tidur panjang, sekejap terusik dengan berisiknya dentuman senjata zionis Israel yang diarahkan kepada kaum muslimin Palestina.

Di bulan suci Ramadhan sejatinya setan-setan terbelenggu namun tidak dengan Israel, yang terus menjadikan momentum bulan suci Ramadhan untuk meningkatkan eskalasi serangannya saat muslim Palestina sedang melaksanakan ibadah di Masjid Al Aqsa. Mengapa serangan ini terus berulang?

Sebagaimana dilansir Al-Jazeera (16)4)2922), serangan brutal tentara Israel pada Jum’at (15/04/2022) terhadap ribuan jamaah saat berkumpul untuk melaksanakan sholat subuh, menyebabkan sekurangnya 158 orang terluka, dan menahan ratusan muslim Palestina lainnya. Serangan inipun terus berlanjut saat sekitar 60 ribu warga Palestina melaksanakan sholat Jum’at di Masjid Al Aqsa.

Respon dunia internasional, khususnya negara-negara Barat bahkan Lembaga-lembaga internasional sekelas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap serangan dan kekejaman tentara Israel pada rakyat Palestina Yang telah berlangsung selama 74 tahun.

Respon dunia internasional terhadap kebiadaban dan kejahatan perang/kemanusian ini tidak pernah membuahkan hasil. Justru zionis Israel terus memperluas tanah jajahanya di Palestina dengan seranggan agresi militernya yang telah menewaskan jutaan rakyat palestina.

Hal ini mengundang komentar politisi Partai Gerindra, Fadli Zon yang menilai bahwa Barat memiliki standar ganda, diskriminasi, dan hipokrit. Ungkapan Fadli Zon tersebut dikutip seputartangsel.com (16/04/2022).

Ini memoerlihatkan sebuah standar ganda dan hipokritnya negara-negara Barat. Di satu sisi, negara-negara Barat yang tergabung dan bernaung di bawah organisasi besar dunia PBB yang diklaim sebagai penjaga perdamaian dan keamanan dunia menjadi harapan besar terpecahkannya persoalan negara-negara yang sedang mengalami konfik atau perang seperti Palestina- Israel, mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.

Di sisi lain, organisasi dunia ini tidak lebih hanyalah sebagai topeng untuk menutupi wajah aslinya. PBB yang merupakan bentukan negara-negara Barat yang dimotori oleh salah satu negara adidaya Amerika Serikat merupakan sekutu abadi Israel yang sama-sama memiliki kepentingan politik-ekonomi di negeri-negeri kaum muslim khususnya Timur Tengah.

Seperti sidang Majelis Umum PBB pada 29 November 1947, yang disponsori oleh negara-negara Barat, menghasilkan Resolusi bernomor 181, membagi tanah Palestina menjadi 2 bagian. Dimana pendatang Yahudi mendapat porsi tanah yang lebih luas dari pada sang pemilik tanah rakyat Palestina, yaitu 56% untuk Yahudi dan 44% untuk Arab (Palestina) (buku jejak-jejak Juang Palestina karya Musthafa Abd Rahman).

Resolusi ini, oleh PBB dan negara-negara Barat diklaim dapat menyelesaikan konflik Palestina-Israel. Namun sebenarnya ini menunjukan adanya pengakuan, dukungan dengan menyerahkan sebahagian tanah Palestina kepada Israel. Hal in tentu saja membuka jalan bagi zionis Israel untuk terus menginvasi tanah Palestina, hingga menjadikanya sebagai negara Israel.

Wajar jika PBB tidak pernah memberikan sangsi tegas terhadap zionis Israel yang secara nyata terus menjajah dan mencaplok sejengkal demi sejengkal tanah kaum muslimin ini.

Begitu juga sikap hipokrit pemimpin-pemimpin negeri kaum muslimin, karena menjadi boneka yang terus dikendalikan oleh negara-negara Barat. Di satu sisi mereka berkoar-koar mengecam keras setiap kali Israel menyerang muslim Palestina yang hanya dianggap igauan dan angin lalu oleh Israel dan tidak terbukti membawa dampak apaun bagi zionis Israel.

Di sisi lain, mereka terus menormalisasi hubungan politik luar negerinya dengan Israel melalui kesepakatan Abrahan yang dimotori oleh AS. Kesepakatan ini menjadi penanda bahwa negara-negara Arab itu tidak sekedar memulihkan hubungan dengan Israel, namun juga memulai kerja sama di sejumlah sektor. Bukankah itu sama saja dengan melukai dan menghianati rakyat Palestina? Meninggalkan dan membiarkan rakyat palestina hidup dalam penjajahan Israel.

Itulah kenapa Michael Stephens, peneliti dari Royal United Service Institude yang berbasis di London, menilai bahwa pandangan negara-negara Arab yang jadi peserta kesepakatan Abraham bahwa mereka akan memberi pengaruh bagi Israel dalam membantu perjuangan Palestina, telah pupus (BBCnews Indonesia, 15/05/2021).

Keheningan dan bisunya dunia internasional terhadap apa yang terjadi di Palestina juga merupakan sikap standar ganda dan agenda setting yang diperankan oleh media-media Barat yang membatasi postingan hingga menenggelamkan pemberitaan tentang Palestina, serta adanya sikap diskriminasi negara-negara dan media Barat dalam merespon invasi yang terjadi di negeri kaum muslimin dengan yang bukan negeri kaum muslimin.

Buktinya, sikap berbeda ditunjukan media Barat pada perang Rusia-Ukraina. Pemberitaan media Barat yang begitu deras dan gencarnya memposting invasi yang dilakukan Rusia atas Ukraina, seolah-olah energi media Barat terkuras habis fokus membincangkan invasi Rusia atas Ukraina.

Alhasil, dukungan terhadap Ukraina pun datang dari berbagai penjuru dunia khusunya sebahagian besar Eropa, Australia dan belahan Barat pada umumnya. Namun tidak dengan serangan Israel atas Palestina di Masjid Al Aqsa yang minim pemberitaan.

Agaknya penilaian dan pandangan ini tidak lah berlebihan, seperti dikutip di kolom komentar Facebook Kompas.com tentang berita serangan di Al-Aqsa. “Perang di Ukraina jadi sorotan dunia dan perbuatan Rusia disebut kejahatan terhadap kemanusiaan, sedangkan kejahatan Israel terhadap kemanusiaan sudah berlangsung bertahun-tahun enggak ada yang ributi,’ tulis seorang netizen Siti Mirahjani Sukrisno.

Begitu juga, Ketua Pusat Studi Media, Literasi, dan Kebudayaan (Puspa Melek) Abdul Wahid yang sekaligus menjadi staf Pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya Malang tersebut menerangkan, saat melihat perang di Ukraina beberapa media Barat mengambil sudut pandang kemanusiaan, tetapi saat meliput di Timur Tengah korban diposisikan sebagai teroris, radikal, dan mengancam demokrasi (Kompas.com, 5/03/2022).

Jelas sudah bahwa adanya dukungan negara-negara dan media Barat tidak membuat zionis Israel mundur apalagi menghentikan penjajahan dan invasinya terhadap tanah Palestina. Solusi apapun yang ditawarkan negara-negara Barat khususnya PBB seperti resolusi dua negara tidak akan pernah berhasil menyelesaikan perang Palestina-Israel, karena zionis Israel yang tidak pernah paham dengan kata damai melaikan hanya paham dengan kata perang ini, hanya akan bisa diusir dari tanah kaum muslimin dengan memeranginya. Seperti perintah Allah SWT;

“Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian,” (TQS Al-Baqarah: 191).

Hal ini hanya bisa terwujud ketika muslim dunia berada dalam naungan sebuah institusi politik seperti yang dilakukan panglima besar Salahuddin Al-Ayyubi dengan jihad fisabilillah membebaskan Palestina dari penjajahan tentara Salib ataupun Sultan Abdul Hamid yang teguh mempertahankan meskipun sejengkal tanah Palestina dengan nyawanya dari tekanan dan tawaran uang yang tidak sedikit dari Yahudi Theodore Herzl.

Keberanian yang berasal dan didorong dari aqidah Islam, karena adanya kewajiban menjaga dan melindungi Palestina, yang status kepemilikanya dalam hukum Islam sebagai tanah Kharaj, tanah yang sampai hari kiamat menjadi hak kaum muslimin seluruh dunia ini, hanya bisa dilindungi dan dijaga dengan keberadaan seorang khalifah yang memimpin umat Islam seluruh dunia dibawah satu kepemimpinan sistem Islam.

Maka sudah seharusnya umat muslim seluruh dunia bangun dari tidur panjangnya mengambil solusi bersatu dan memperjuangkan tegaknya kembali khilafah, menghadirkan kembali seorang khalifah yang merupakan junnah atau perisai umat dan akan menggerakan tentara-tentaranya berjihad membebaskan dan mengusir zionis Israel berserta kroni-kroninya dari tanah kharaj (Palestina).

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung dari musuh dengan (kekuasaan) nya.” (HR, Al-Bukhari, Ahmad, Abu Daud, dll).[]

Comment