Redaksi Manfaatkan AI, Verifikasi Tetap Jadi Kunci

Teknologi126 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kian meluas di ruang redaksi media daring. Namun, di tengah percepatan adopsi teknologi ini, prinsip dasar jurnalisme—terutama verifikasi—tetap dipertahankan.

Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, mengatakan tantangan terbesar media saat ini bukan lagi sesama perusahaan pers, melainkan “blank space”, yakni ruang digital tempat audiens dapat mencari dan mengolah informasi secara mandiri.

“Kompetitor paling mengerikan adalah blank space. Di sana orang bisa bertanya dan riset apa saja,” ujarnya dalam kegiatan Showcasing Google AI Tools di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Menurut Amir, ketergantungan media pada infrastruktur digital, termasuk Google, menghadirkan dilema tersendiri seiring perubahan algoritma dan lanskap distribusi informasi.

Meski demikian, redaksi tetap mengembangkan berbagai produk berbasis AI, mulai dari morning brief hingga konten audio-visual.

Ia menegaskan, AI hanya digunakan sebagai alat bantu, bukan sumber utama dalam kerja jurnalistik. “AI alat bantu, bukan sumber berita. Kalau dijadikan sumber, berisiko dan berbahaya,” katanya.

Prinsip human in the loop, kata Amir, menjadi batas penting dalam penggunaan AI. Setiap hasil olahan teknologi harus melalui proses verifikasi oleh jurnalis sebelum dipublikasikan. Tanpa tahapan ini, risiko kesalahan hingga penalti dari platform distribusi bisa terjadi.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Pemimpin Redaksi IDN Times, Umi Kalsum. Ia mengatakan redaksinya telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem manajemen konten (content management system/CMS), termasuk untuk menyederhanakan bahasa berita agar lebih mudah dipahami pembaca.

Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap memerlukan kehati-hatian. “Editor wajib membaca. Kalau jurnalis tidak teliti, bisa menyesatkan,” ujarnya, merujuk pada kasus ketika AI menghasilkan informasi keliru tentang seorang tokoh.

Selain membantu penulisan, AI di IDN Times juga digunakan untuk merekomendasikan visual yang relevan dan menganalisis data guna meningkatkan keterlibatan audiens. Bahkan, pemanfaatan AI telah menjadi bagian dari target kerja redaksi.

Kendati demikian, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan dalam integrasi teknologi tersebut. Baik Kompas.com maupun IDN Times mengakui bahwa penerapan AI, terutama dalam sistem internal, tidak selalu berjalan mulus.

Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat, Citra Dyah Prastuti, menilai AI seharusnya diposisikan sebagai “asisten intern” di ruang redaksi.

“Dalam pekerjaan newsroom, manusianya tetap harus terlibat,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sekitar 40 media telah mengikuti program fellowship sebagai bagian dari upaya transformasi industri.
Dari sisi teknologi, Google News Partner Manager, Yos Kusuma, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendukung jurnalisme berkelanjutan melalui kolaborasi dengan Dewan Pers dan AMSI.

“Tujuan utama kami adalah membantu jurnalis dan profesional media,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi Digital Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan pentingnya menjaga esensi jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Menurut dia, pers tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjalankan fungsi kontrol sosial.

“Tanpa pers, tidak ada kontrol sosial dan tidak ada mekanisme koreksi dalam masyarakat,” ujarnya.

AMSI sebelumnya menyelenggarakan pelatihan Google AI Tools bagi 40 media pada Oktober 2025, yang dilanjutkan dengan program fellowship hingga Januari 2026.

Hasil dari program tersebut dipaparkan dalam kegiatan ini, termasuk manfaat penggunaan AI dalam mendukung kerja redaksi.[]

Comment