Remaja Kian Sadis, Potret Buram Generasi Sekuler

Opini212 Views

 

 

Oleh: Depi Fitriyani, Aktivis Dakwah Kampus

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Anak kelas 2 sekolah dasar (SD) di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat meninggal dunia setelah diduga dikeroyok oleh para kakak kelasnya.

Dikutip dari Kompas.com, korban diduga dikeroyok di sekolah sebanyak dua kali yaitu pada Senin (15/5/2023) dan keesokan harinya, Selasa (16/5/2023). Pengeroyokan itu disebut terjadi pada saat kegiatan pembelajaran masih berjalan. Akibat dari pengeroyokan itu, korban sempat mengalami koma dan kejang sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (20/5/2023).

Subhanallah, untuk kesekian kalinya kita disuguhkan oleh kasus kekerasan yang menimpa generasi muda dan ironisnya lagi pelakunya adalah generasi yang masih duduk di sekolah dasar. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?

Bengis , Tragis dan Miris. Generasi paket Komplit!

Kita menyaksikan setiap hari bahkan bisa dikatakan setiap menitnya, ada saja berita-berita yang mengabarkan tentang betapa sadisnya perilaku generasi pada orang terdekatnya. Lihat saja berita remaja laki-laki yang tega membunuh mantan pacarnya dengan sangat sadis, belum lagi generasi yang terlibat dalam tindak kriminal, menjadi pelaku kekerasan juga menjadi pelaku kejahatan.

Kita yang menyaksikannya seolah tak habis pikir, geleng-geleng kepala – sebenarnya apa yang merasuki generasi kita saat ini?

Di era perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, disertai juga kemudahan hidup seharusnya mampu menjadi peluang besar bagi generasi untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan kemampuan diri.

Namun sayang divtengah pesatnya teknologi ini generasi makin jauh dari kata “prestasi”, ia bahkan bangga bersikap arogan dengan beradu ototnya demi eksistensi diri. Realita seperti ini nyatanya lahir dari kehidupan sekuler yang memisahkan bahkan menjauhkan agama dari kehidupan. Inilah biang kerok dari segala problematika yang menimpa generasi kita saat ini.

Dalam pendidikan, kurikulum yang diterapkan tampak jauh dari Islam sebagai pedoman hidup yang shohih sehingga mustahil menghasilkan generasi yang bertakwa. Jangankan untuk sampai pada level takwa, caranya untuk memanusiakan temannya saja ia tidak paham. Naluri berkasih sayang yang ada pada dirinya terkikis oleh gelapnya hati sehingga dengan begitu tega mengeroyok teman sendiri.

Mirisnya hasil didikan dalam penerapan sekuler ini justru melahirkan generasi-generasi yang lemah iman. Hal ini tampak dari orientasi pencapaian materi. Jika tak didapatkan apa yang ia mau, maka ia mudah rapuh hingga akhirnya frustrasi bahkan tak sungkan untuk menyakiti orang lain.

Generasi yang lemah iman inilah yang siap menebar kejahatannya di mana saja tanpa punya rasa malu dan kasihan sedikitpun. Sehingga mereka tumbuh menjadi insan bermental stowberry, mudah baperan dan seketika akan rusak pada masanya.

Sungguh inilah realita yang kita hadapi jika tetap istiqomah pada penerapan kurikulum sekuler dan liberal.

Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi saat ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi membawa manfaat bagi generasi, namun di sisi lain justru memberikan dampak negatif yang tak terkira jumlahnya. Bukan hanya sekuler dalam segi pendidikan namun juga dalam segala penerapan aturan.  Pengontrolan pada media informasi dalam sistem ini juga tak terbendung. Lihat saja betapa banyaknya informasi-informasi yang bersifat merusak tentang pornografi, pornoaksi, LGBT, berita-berita vulgar dan yang lainnya masuk begitu mudah untuk diakses oleh generasi.

Generasi yang lemah iman tersebut tentu tidak akan bisa memfilternya. Maka tidak heran lagi jika di tengah kita sekarang ini bertebaran generasi yang sudah rusak sejak masa produktifnya.

Islam punya Benteng Penjagaan Generasi

Islam memandang generasi sebagai aset berharga yang harus dijaga dan dilindungi keberadaannya. Maka sesuatu yang berharga tersebut tidak boleh rusak apalagi sengaja dirusak. Dengan aturannya yang sempurna dan paripurna Islam terbukti mampu menjaga generasi dari kerusakan.
Hal ini terbukti dari penerapan Islam secara kaffah selama kurang lebih 13 abad di masakeemasan islam.

Sistem kapitaslime sekuler yang saat ini dipakai sebagai aturan hidup justru menjadi akar masalah dari kerusakan yang menimpa generasi saat ini. Padahal jika dihitung-hitung sistem rusak ini baru berkuasa selama 1 abad saja, namun kerusakan yang dihasilkan tidak main-main.

Bagaimana benteng penjagaan Islam terhadap generasi?

Pertama: Sistem pendidikan yang khas yakni berbasis akidah Islam. Sistem ini berpedoman langsung kepada sumber hukum Islam yang shohih yaitu Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Terhitung sejak kepemimpinan baginda Nabi Muhammad dan berakhir di Turki Ustmani pada tahun 1924. Islam memandang pendidikan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi manusia. Untuk itu paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam bukan justru mengekor pada kurikulum ala barat.

Dalam penyusunan kurikulum dan materi pelajaran terdapat dua tujuan pokok pendidikan yang harus diperhatikan, yakni, membangun kepribadian Islami, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) Islam kepada umat. Dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa akidah, pemikiran dan perilaku Islami ke dalam akal dan jiwa anak didik.

Karenanya harus disusun dan dilaksanakan kurikulum islam untuk merealisasikan tujuan tersebut. Sehingga apabila ini diterapkan, tidak akan kita jumpai kasus-kasus serupa yang seperti ini. Sebab anak didik sudah tertanam rasa takut kepada Allah.

Kemudian, mempersiapkan anak-anak kaum muslim agar di antara mereka menjadi ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu keislaman maupun ilmu terapan. Al hasil dengan penerapan sistem pendidikan berbasis skidah Islam ini akan mampu melahirkan generasi cemerlang seperti yang kita kenal sampai saat ini. Ilmu yang anak didik dapat dalam pendidikan diorientasikan untuk Islam guna mensyiarkan Islam kepada umat.

Kedua: Sistem sosial Islam yang mampu membentuk masyarakat yang beriman dan bertakwa secara keseluruhan. Generasi tidak cukup dijaga di sekolahnya dengan penerapan kurikulum pendidikan Islam, tetapi juga dijaga dalam lingkungan masyarakat.

Di mana lingkungan ini juga sangat berpengaruh besar pada pembentukan jati diri sang anak. Oleh karnanya membentuk lingkungan masyarakat dengan sistem sosial Islam sama pentingnya denagn sistem pendidikan Islam.

Jika masyarakat bertakwa, ketakwaan itu tentu akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian generasi. Anak yang tumbuh dalam masyarakat yang ramah dan anti kekerasan tentu tidak akan mungkin tega melakukan pengeroyokan temannya sendiri. Wallahu’alam.[]

Comment