Representasi Gangguan Kecemasan pada Remaja dalam Hegemoni Sekularisme-Kapitalisme

Opini39 Views

Penulis: Eno Fadli | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Generasi Z digadang-gadang sebagai penopang masa depan bangsa dan calon pemimpin menuju Indonesia Emas 2045. Namun, harapan besar tersebut berhadapan dengan kenyataan yang memprihatinkan.

Tidak sedikit remaja yang justru bergulat dengan persoalan kesehatan mental. Apabila kondisi ini tidak ditangani sejak dini, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.

Masa remaja semestinya menjadi fase untuk mengembangkan potensi, membangun optimisme, serta menumbuhkan harapan terhadap masa depan.

Namun, fakta menunjukkan bahwa Generasi Z justru menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan hampir 10 persen anak Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa.

Dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala gangguan kecemasan (anxiety disorder), sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak mengalami gejala depresi (depression disorder).

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan jika dikaitkan dengan data Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan peningkatan jumlah anak yang pernah mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Fakta ini menjadi alarm serius yang tidak boleh diabaikan.

Gangguan kecemasan yang dialami Generasi Z tentu tidak muncul tanpa sebab. Fenomena ini dipandang sebagai bagian dari krisis multidimensi yang lahir dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme.

Ketidakstabilan ekonomi, perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, krisis lingkungan, hingga ketidakpastian masa depan menjadi faktor yang memperbesar tekanan psikologis remaja.

Survei Deloitte menunjukkan bahwa kekhawatiran utama Generasi Z berkaitan dengan tingginya biaya hidup. Mereka menghadapi realitas mahalnya kebutuhan dasar di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Selain itu, perubahan iklim ekstrem menjadi kekhawatiran 21 persen responden, kesehatan mental 19 persen, keamanan pribadi 17 persen, dan sulitnya memperoleh pekerjaan mencapai 22 persen (Mojok.com, 30 April 2026). Berbagai persoalan tersebut semakin memperkuat rasa cemas terhadap masa depan.

Dalam perspektif penulis, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari kehidupan yang dibangun di atas asas sekularisme-kapitalisme. Sistem ini membentuk pola pikir dan perilaku yang semakin menjauh dari akidah Islam.

Akibatnya, terjadi pergeseran orientasi hidup. Kesuksesan diukur berdasarkan pencapaian materi, sehingga remaja terdorong mengejar standar hidup yang tinggi. Ketika standar itu gagal diraih, muncul perasaan gagal, rendah diri, kehilangan makna hidup, hingga kecemasan berkepanjangan.

Di sisi lain, terjadi komodifikasi jati diri melalui media sosial. Remaja menjadi sasaran berbagai strategi pemasaran yang mendorong mereka mengejar gaya hidup yang tidak realistis.

Pada saat yang sama, sekularisme memisahkan agama dari kehidupan sehingga melahirkan kekosongan makna dan krisis eksistensial. Akibatnya, banyak remaja kehilangan arah ketika menghadapi kegagalan ataupun musibah.

Kapitalisme juga melahirkan budaya kompetisi yang sangat individualistik. Setiap orang diposisikan sebagai pesaing sehingga hubungan sosial menjadi semakin renggang. Ironisnya, seseorang dapat merasa sangat kesepian meski hidup di tengah keramaian.

Kondisi tersebut diperparah oleh komersialisasi layanan kesehatan mental. Dalam sistem kapitalisme, gangguan mental lebih banyak dipandang sebagai persoalan individu, bukan sebagai dampak dari sistem sosial yang bermasalah.

Karena itu, solusi yang diberikan umumnya hanya bersifat kuratif melalui pengobatan, tanpa menyentuh akar persoalan yang melatarbelakanginya.

Padahal, gangguan mental tidak semata-mata dipicu oleh kelemahan pribadi. Lemahnya fungsi keluarga juga memiliki kontribusi besar. Kesibukan orang tua dalam memenuhi tuntutan ekonomi membuat banyak remaja kehilangan kehangatan keluarga.

Mereka lebih banyak memperoleh pendidikan karakter dari gawai dan lingkungan pergaulan yang sama-sama dipengaruhi nilai-nilai sekuler.
Persoalan ini memerlukan penyelesaian yang bersifat sistemis.

Dibutuhkan sinergi seluruh pilar kehidupan agar mampu mengatasi persoalan kesehatan mental secara menyeluruh.

Pada level individu, ketakwaan menjadi benteng utama. Kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi Allah SWT akan membentuk pribadi yang memahami tujuan hidup sebagai hamba yang beribadah kepada-Nya.

Dengan demikian, setiap persoalan akan dihadapi berdasarkan tuntunan syariat serta keyakinan bahwa seluruh amal akan dimintai pertanggungjawaban.

Pada level masyarakat, Islam menempatkan kontrol sosial sebagai mekanisme penting dalam menjaga kehidupan bersama.

Masyarakat memiliki kewajiban menjalankan amar makruf nahi mungkar, termasuk mencegah perundungan (bullying), pergaulan bebas, maupun konsumsi konten negatif yang berpotensi merusak kesehatan mental generasi muda.

Kepedulian masyarakat juga memungkinkan deteksi dini terhadap remaja yang mengalami tekanan mental. Dukungan dari keluarga, tetangga, guru, maupun komunitas akan membantu mereka merasa didengar dan memiliki tempat untuk berbagi. Sikap saling peduli seperti ini menjadi faktor penting dalam mencegah depresi akibat rasa kesepian.

Di saat yang sama, masyarakat juga berkewajiban melakukan amar makruf kepada penguasa agar menjalankan tanggung jawab melindungi generasi muda dari berbagai bentuk kerusakan.
Adapun negara memiliki peran strategis sebagai ra’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung).

Dalam pandangan Islam, negara bertugas menyelenggarakan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam guna membentuk kepribadian Islam yang kokoh sejak usia dini.

Pendidikan yang berkualitas, didukung tenaga pendidik profesional, sarana memadai, dan kurikulum yang tepat, diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, mental, maupun spiritual.

Islam juga memandang bahwa penyelesaian suatu persoalan tidak dapat dilakukan secara parsial. Gangguan kesehatan mental pada remaja, misalnya, berkaitan erat dengan kecemasan terhadap masa depan.

Karena itu, negara berkewajiban menciptakan stabilitas ekonomi, menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat berupa pangan, sandang, dan papan, serta menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan yang mudah diakses.

Ketika beban ekonomi dapat diminimalkan, tekanan mental akibat kekhawatiran memenuhi kebutuhan hidup, biaya pendidikan, maupun layanan kesehatan juga akan berkurang. Orang tua pun memiliki kesempatan lebih besar untuk mendampingi anak-anaknya tanpa harus disibukkan oleh tuntutan pekerjaan yang berlebihan.

Pada akhirnya, sistem Islam dirancang untuk membangun keterikatan manusia dengan Allah SWT. Keterikatan tersebut melahirkan ketenangan batin dan ketahanan mental sehingga seseorang lebih mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan emosi yang stabil.

Oleh karena itu, persoalan gangguan kesehatan mental pada remaja tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan kuratif semata.

Dibutuhkan perubahan yang bersifat mendasar dengan menjadikan Islam sebagai asas berpikir dan bersikap dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment