Resistensi Gen Z di Tengah Depresi Akibat Sistem Kapitalis

Opini69 Views

Penulis:  Zahra Tenia | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gangguan kesehatan mental kini menjadi persoalan yang semakin banyak dialami Generasi Z. Berbagai hasil survei menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi tekanan psikologis yang memerlukan perhatian serius.

Penyebabnya beragam, mulai dari sempitnya lapangan pekerjaan, pengaruh media sosial, hingga tekanan sosial yang semakin kompleks.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagaimana dilaporkan tirto. id (12)3)2026) mengungkapkan bahwa hasil Program Cek Kesehatan Gratis periode 2025–2026 terhadap sekitar 700 ribu anak Indonesia menunjukkan sekitar 10 persen di antaranya mengalami gejala gangguan kesehatan jiwa.

Temuan serupa juga dipublikasikan GoodStats melalui survei aplikasi Jakpat. Dari 1.158 responden Gen Z, sekitar 60 persen mengaku mengalami gangguan kesehatan mental berupa kecemasan terhadap masa depan (GoodStats, 8 April 2026).

Menariknya, meski sering dilabeli sebagai generasi yang rapuh, Gen Z justru memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Hal itu terlihat dari meningkatnya kepercayaan mereka terhadap layanan konseling, terapi, maupun pengobatan sebagai upaya untuk pulih secara psikologis.

Di sisi lain, Gen Z juga semakin berani menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Mereka turun ke jalan menyampaikan aspirasi, termasuk memprotes kebijakan yang dinilai mempersempit kesempatan memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak.

Beragam respons tersebut menunjukkan adanya kesadaran untuk melawan kondisi yang dianggap tidak adil. Namun, pertanyaannya, perlawanan seperti apa yang mampu membawa Gen Z menuju perubahan yang hakiki? Apakah cukup dengan terapi kesehatan mental dan aksi demonstrasi semata?

Kapitalisme sebagai Akar Persoalan

Realitas yang dihadapi Gen Z saat ini tentu memprihatinkan. Padahal, merekalah generasi yang diproyeksikan menjadi penerus estafet kepemimpinan bangsa. Jika kondisi ini terus berlangsung, cita-cita Indonesia Emas 2045 berpotensi hanya menjadi angan.

Kesadaran yang tumbuh di kalangan Gen Z patut diapresiasi. Namun, kesadaran tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan yang menyebabkan meningkatnya gangguan kesehatan mental.

Upaya bertahan, mencari bantuan profesional, hingga mengkritisi kebijakan pemerintah masih bersifat kuratif. Persoalan mendasar yang melahirkan tekanan tersebut belum terselesaikan.

Dalam pandangan Islam, akar persoalan itu terletak pada sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini membentuk pola pikir materialistis sehingga keberhasilan diukur melalui standar duniawi, seperti pekerjaan bergengsi, kekayaan, pendidikan tinggi, gaya hidup mewah, maupun prestasi akademik. Ketika standar tersebut sulit dicapai, tekanan psikologis pun semakin meningkat.

Di bidang ekonomi, kapitalisme menempatkan negara lebih sebagai regulator daripada penjamin kesejahteraan rakyat. Akibatnya, berbagai kebijakan dinilai sering tidak menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.

Tingginya beban pajak, meningkatnya pemutusan hubungan kerja, mahalnya biaya pendidikan dan layanan kesehatan menjadi tekanan yang tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga.

Kondisi tersebut berdampak pada melemahnya ketahanan keluarga sebagai tempat berlindung dan memperoleh ketenangan.

Rumah yang semestinya menjadi ruang nyaman justru dipenuhi berbagai persoalan ekonomi, yang akhirnya turut memengaruhi kesehatan mental anak-anak dan remaja, termasuk Gen Z.

Islam Melejitkan Potensi Pemuda

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dalam sejarah peradaban, penerapan syariat Islam selama berabad-abad diyakini telah melahirkan masyarakat yang maju dan sejahtera.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap peran pemuda. Masa muda dipandang sebagai fase kekuatan yang berada di antara dua masa kelemahan, yaitu masa kanak-kanak dan masa tua. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 54 yang artinya:

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban….”

Masa muda bukanlah fase yang dihabiskan untuk kesenangan semata, melainkan masa ketika manusia memiliki puncak kekuatan fisik, energi, daya pikir, dan semangat berkarya. Pada fase inilah pemuda memikul amanah besar untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Karena itu, Gen Z semestinya tidak menyia-nyiakan potensi yang dimiliki. Potensi tersebut perlu diarahkan untuk menjadi generasi pemimpin yang membawa perubahan sesuai tuntunan Islam secara kaffah.

Sejarah Islam menghadirkan banyak teladan pemuda inspiratif. Ali bin Abi Thalib ra. rela menggantikan Rasulullah saw. di tempat tidur beliau ketika kaum Quraisy berencana membunuhnya.

Mush’ab bin Umair ra. dipercaya menjadi duta pertama Islam ke Madinah saat masih berusia sekitar 20 tahun. Sementara Usamah bin Zaid ra. telah dipercaya memimpin pasukan kaum Muslimin ketika usianya baru menginjak 18 tahun.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab menciptakan sistem yang mendukung lahirnya generasi berkualitas. Melalui kebijakan ekonomi, negara menerapkan hukum-hukum Islam, termasuk pengelolaan kepemilikan umum untuk kemaslahatan rakyat, membuka lapangan pekerjaan, serta melindungi generasi dari pengaruh negatif media melalui mekanisme yang sesuai syariat.

Di bidang pendidikan, kurikulum dibangun di atas landasan akidah Islam sehingga mampu membentuk kepribadian yang kokoh. Dengan demikian, generasi memiliki visi hidup yang jelas, tidak mudah terbawa arus tren maupun fenomena viral yang melalaikan mereka dari tujuan utama penciptaannya.

Persoalan kesehatan mental yang dialami Generasi Z tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan kuratif semata. Menurut pandangan penulis, perubahan mendasar memerlukan penerapan sistem yang berlandaskan Islam secara kaffah dalam tata kelola kehidupan dan pemerintahan.

Dengan sistem tersebut, diharapkan lahir Generasi Z yang tangguh, berkepribadian Islam, memiliki arah hidup yang jelas, serta mampu bangkit menjadi generasi pemimpin, bukan generasi yang terpuruk oleh dampak sistem kapitalisme sekuler. Wallāhu a’lam bish-shawāb.[]

Comment