Resonansi CDCC 2026: Merajut Kerukunan, Menjaga Bangsa

Nasional169 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA- — Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) menegaskan bahwa kemajemukan bangsa Indonesia merupakan ketetapan sekaligus karunia Ilahi yang wajib dirawat secara sadar dan berkelanjutan demi kemajuan nasional.

Kerukunan, menurut CDCC, tidak hadir dengan sendirinya, melainkan harus dibangun melalui rekayasa sosial, dialog, dan kebijakan yang adil.

CDCC menyampaikan keprihatinan atas munculnya berbagai gejala retaknya kohesi sosial akibat sentimen primordial berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan, yang kerap berkelindan dengan kepentingan sosial, ekonomi, dan politik.

Jika konflik bernuansa primordial ini bertemu dengan disharmoni relasi antara pemerintah dan rakyat, stabilitas dan integrasi bangsa dinilai berada dalam ancaman serius.

Fenomena gelombang demonstrasi masyarakat yang terjadi pada Agustus hingga awal September 2025 lalu, menurut CDCC, mencerminkan akumulasi ketidakpuasan sosial yang tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele.

Unjuk rasa di berbagai daerah dipicu oleh ketidakadilan ekonomi dan sosial, kecemasan kelas menengah, serta tekanan ekonomi yang kian berat di sektor informal dan kelompok masyarakat bawah.

Beberapa kebijakan, seperti pemberian tunjangan baru bagi anggota DPR, kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan di sejumlah wilayah, serta lemahnya kinerja pemerintah dalam menekan kesenjangan ekonomi, pengangguran, dan kenaikan biaya hidup, menjadi faktor pemantik protes publik.

Dalam perspektif ekonomi politik, kondisi ini mencerminkan persoalan distribusi ekonomi dan persepsi keadilan publik.

CDCC menilai, meskipun secara makro ekonomi Indonesia relatif stabil dengan inflasi yang terkendali, kualitas pertumbuhan masih menjadi persoalan mendasar.

Pertumbuhan ekonomi dinilai belum sepenuhnya menciptakan lapangan kerja formal, produktivitas masih tumbuh lambat, serta ketergantungan pada konsumsi domestik dan komoditas masih tinggi. Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam.

Kondisi tersebut terjadi karena sektor strategis, seperti industri, manufaktur, dan teknologi, belum sepenuhnya menjadi mesin pertumbuhan baru.

CDCC memandang prospek ekonomi nasional 2026 dengan harap cemas, karena perbaikan tidak akan terjadi secara otomatis tanpa reformasi kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan berkeadilan dan kepemimpinan ekonomi yang berkualitas.

Dalam konteks politik, CDCC mengingatkan bahwa stabilitas nasional hanya dapat dijaga jika reformasi ekonomi mampu mendorong pertumbuhan yang adil dan inklusif.

Ketimpangan ekonomi yang berlarut-larut berpotensi menggerus kohesi sosial dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menciptakan kekacauan politik.

CDCC juga menilai lanskap politik nasional masih memiliki kerentanan laten, sebagaimana tercermin dalam sejarah perubahan politik besar pada 1966 dan 1998.

Liberalisasi politik pasca-amandemen UUD 1945, sistem multipartai, serta pertautan kekuasaan ekonomi dan politik dinilai belum sepenuhnya melahirkan budaya politik yang berorientasi pada kemajuan bersama.

Sebaliknya, pragmatisme dan materialisme politik masih kuat, sementara partisipasi publik kerap terpinggirkan.

Dalam pernyataannya, CDCC menyatakan dukungan terhadap upaya perbaikan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. CDCC menaruh harapan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah-langkah strategis dan konstruktif guna mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan bermartabat, sejalan dengan visi Trisakti: berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.

Selain isu domestik, CDCC juga menyoroti dinamika global yang ditandai krisis kemanusiaan berlapis, konflik bersenjata berkepanjangan, serta menguatnya politik kebencian berbasis identitas, termasuk Islamofobia dan berbagai bentuk diskriminasi.

CDCC menegaskan bahwa jalan keluar hanya dapat ditempuh melalui dialog yang jujur, kolaborasi global yang berkeadilan, serta keberpihakan tegas pada nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ke depan, CDCC telah menyiapkan sejumlah agenda strategis. Setelah sukses menyelenggarakan The Ninth World Peace Forum pada 9–11 November 2025, CDCC akan menggelar peringatan World Interfaith Harmony Week dan International Day of Human Fraternity pada 8 Februari 2026 bersama Inter Religious Council Indonesia dengan fasilitasi DPD RI.

Selain itu, CDCC akan menyelenggarakan Dialog Pemuda Lintas Agama ASEAN di Dili, Timor Leste, pada Mei 2026, serta Majelis Cendekiawan Madani Malaysia–Indonesia (MCM Malindo) yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada Agustus 2026.[]

Comment