Rojali dan Rohana Antara Pencitraan dan Ketimpangan Sosial

Opini746 Views

 

 

 

Penulis: Nisrina Nitisastro, S.H | Konsultan Hukum

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) belakangan mencuat di ruang publik. Dua istilah ini menjadi sindiran halus bagi mereka—umumnya masyarakat urban—yang kerap hadir di mal atau pusat perbelanjaan, namun bukan sebagai konsumen aktif.

Mereka datang hanya untuk melihat-lihat, bertanya harga, duduk santai, atau sekadar berfoto. Hadir di ruang konsumsi, namun tak benar-benar terlibat dalam proses konsumsi.

Fenomena ini seringkali menjadi bahan lelucon di media sosial. Tapi jika ditelisik lebih dalam, di balik candaan itu tersimpan potret sosial yang menyentuh: kerinduan akan kemewahan di tengah keterbatasan, tekanan untuk terlihat eksis, dan ketimpangan sosial yang membuat sebagian orang hanya bisa menjadi penonton dalam pesta kapitalisme.

Ketimpangan Akses di Ruang Konsumsi

Salah satu akar munculnya fenomena ini adalah ketimpangan ekonomi yang kian mencolok. Banyak warga kota tinggal bersebelahan dengan simbol kemewahan, namun tak sanggup menjangkaunya secara ekonomi. Ketika ruang publik semakin mengecil dan mal menjadi satu-satunya tempat “rekreasi murah”, maka jalan-jalan tanpa belanja pun menjadi pelarian.

Rojali dan Rohana tidak lahir dari kekosongan moral, tapi dari realitas sistem yang gagal mendistribusikan kesejahteraan secara adil. Banyak dari mereka bekerja keras sepanjang hari, namun hasilnya bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka tinggal di kota, tapi terasing di dalamnya—hidup di tengah gemerlap, tapi tak punya daya untuk menikmati.

Konsumsi Simbolik dan Eksistensi Virtual

Teori Jean Baudrillard dalam kajian budaya menyebut bahwa masyarakat modern tidak lagi mengonsumsi barang karena fungsinya, melainkan karena simbol yang melekat padanya. Dalam konteks ini, berfoto di depan toko bermerek global menjadi bentuk pengakuan sosial. Tidak harus membeli, cukup terlihat ‘pernah berada di sana’.

Media sosial memperkuat tren ini. Apa yang kita unggah—lokasi, penampilan, gaya hidup—menjadi alat ukur eksistensi. Maka, aktivitas Rojali dan Rohana bukan sekadar wisata murah, tapi juga upaya membangun citra diri di tengah dunia yang bising oleh pencitraan.

Standar Kebahagiaan yang Dipaksakan

Di balik fenomena ini, tersimpan juga standar kebahagiaan palsu yang dipaksakan oleh sistem sekuler-kapitalistik. Di dalam sistem ini, nilai seseorang ditakar dari apa yang dimiliki, dikenakan, atau dipamerkan.

Padahal, Islam memandang manusia dari ketakwaan dan kontribusinya, bukan dari penampilan atau harta:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Islam: Antara Tujuan Hidup dan Solusi Sistemik

Islam tidak melarang manusia menikmati dunia, berjalan-jalan, atau bersantai. Namun Islam mengingatkan bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih agung: beribadah kepada Allah, bukan sekadar tampil menarik di hadapan manusia:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dalam pandangan Islam, identitas sejati tak diukur dari likes atau views, melainkan dari makna dan amanah hidup. Mal bukan kuil pencitraan, melainkan ruang kebutuhan yang seharusnya inklusif dan adil.

Karena itu, penyelesaian persoalan Rojali dan Rohana tak cukup berhenti pada nasihat “jangan ikut-ikutan FOMO”. Harus ada perubahan sistemik untuk membongkar akar masalahnya:

1. Distribusi kekayaan yang adil, agar semua warga punya akses layak terhadap kebutuhan dasar.

2. Pendidikan dan media yang membentuk kesadaran makna hidup, bukan sekadar mempromosikan gaya hidup glamor.

3. Penyediaan ruang publik non-komersial sebagai tempat rekreasi dan interaksi sosial tanpa beban konsumsi.

4. Ekonomi Islam yang menolak riba dan menyalurkan zakat sebagai instrumen pemerataan kekayaan.

Semua solusi ini hanya dapat diterapkan secara efektif dalam kerangka sistem pemerintahan Islam yang menyeluruh (kaffah)—yakni Khilafah. Bukan sistem tambal-sulam yang meniru kapitalisme sambil menyisipkan jargon religius.

Dari Ilusi Menuju Makna

Fenomena Rojali dan Rohana menyiratkan jeritan diam dari masyarakat yang terpinggirkan. Mereka hadir di ruang-ruang kemewahan, tapi tak benar-benar dimiliki. Mereka difoto, ditertawakan, tapi jarang dipahami.

Daripada menyalahkan atau mencela, mungkin lebih bijak jika kita bertanya: apakah kita sedang hidup dalam kenyataan, atau sedang larut dalam ilusi yang diciptakan zaman?

Islam hadir bukan sekadar sebagai pembatas, tapi penunjuk jalan keluar dari tekanan sosial menuju hidup yang bermakna. Dari mengejar citra menjemput izzah sejati.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2).

Kini saatnya kembali menjadikan Islam sebagai standar hidup. Bukan pelengkap gaya, tapi sebagai pemandu menuju kebahagiaan hakiki dan keadilan sejati. Wallaahu a‘lam.[]

 

Comment