Santri dan Jejak Perubahan: Dari Resolusi Jihad ke Tantangan Peradaban Modern

Opini365 Views

Penulis: Poppy Kamelia P. B.A (Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS |
Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, dan Pegiat Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu tonggak sejarah yang lahir dari rahim perjuangan ulama dan santri. Peringatan Hari Santri, yang diisi dengan upacara, kirab, festival sinema, hingga pembacaan kitab, sejatinya bukan sekadar perayaan simbolik.

Ia adalah napas panjang dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945—seruan suci untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Namun, delapan dekade kemudian, gema semangat itu seolah kehilangan arah. Hari Santri kini lebih banyak berhenti pada seremoni, tanpa menyentuh esensi perjuangan santri sebagai agen perubahan dan penjaga agama.

Sebagaimana diberitakan Kompas (25/10/2025), Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada peringatan Hari Santri mengajak para santri menjadi penjaga moral dan pelopor kemajuan bangsa. Ia menegaskan bahwa santri merupakan kekuatan moral yang menjaga bangsa agar tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.

Seruan itu terasa menghangatkan, namun juga meninggalkan pertanyaan yang menggantung: apakah semangat jihad dan perubahan itu masih benar-benar hidup di tubuh santri masa kini?

Di berbagai daerah, peringatan Hari Santri berlangsung meriah. Ada festival film, bazar, lomba pidato, hingga pawai obor yang memikat perhatian masyarakat.

Namun di balik gemerlap acara itu, tumbuh kegelisahan di hati mereka yang merindukan ruh perjuangan sejati. Santri kini lebih sering digambarkan sebagai bagian dari program pemerintah—sebagai agen moderasi beragama atau pelaku ekonomi kreatif.

Padahal sejarah mencatat, santri bukan pelengkap sistem, melainkan penggerak perubahan yang menentang segala bentuk penindasan, baik fisik maupun ideologis.

Sebagaimana dirilis Sekretariat Negara (setneg.go.id, 22/10/2025), Presiden Prabowo menyebut pesantren sebagai benteng moral bangsa dan mengajak santri meneruskan semangat perjuangan ulama terdahulu.

Namun pujian ini akan terasa hampa jika tidak dibarengi langkah nyata memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang faqih fiddin, peka terhadap persoalan umat, dan berani menentang ketidakadilan global.

Santri sejati bukan sekadar simbol moralitas, tetapi pejuang intelektual yang menolak penjajahan dalam bentuk baru.

Tantangan umat hari ini jauh lebih kompleks daripada sekadar ancaman kolonial bersenjata. Penjajahan modern hadir dalam bentuk penguasaan sumber daya alam oleh korporasi global, ketimpangan ekonomi, hegemoni budaya Barat, dan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan publik.

Dalam situasi demikian, santri seharusnya tampil sebagai pelopor kebangkitan intelektual Islam yang melawan dominasi ideologi tersebut.

Perjuangan mereka tak cukup berhenti pada diskusi moderasi atau kegiatan seremonial, melainkan harus menyalakan kembali semangat jihad intelektual dan sosial demi menjaga kemurnian ajaran Islam dan kemaslahatan umat.

Sayangnya, arah pembinaan santri masa kini cenderung pragmatis. Banyak program difokuskan pada pemberdayaan ekonomi pesantren atau pelatihan digitalisasi—hal baik, tetapi berisiko menjauhkan santri dari ruh keilmuan agama yang mendalam.

Jika orientasi keilmuan itu kabur, pesantren dapat kehilangan jati diri sebagai pusat lahirnya pemimpin umat yang berani menegakkan kebenaran.

Sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi Kementerian Agama (kemenag.go.id, 22/10/2025), peringatan Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan peran santri sebagai agen perubahan menuju peradaban dunia yang berkeadilan.

Santri dibentuk bukan hanya untuk pandai membaca kitab, tetapi juga memahami realitas sosial dan menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Negara pun memiliki tanggung jawab besar menjaga eksistensi pesantren sebagai pusat lahirnya generasi faqih fiddin, bukan sekadar peserta program seremonial.

Nilai jihad yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari sejatinya tidak berhenti pada pertempuran fisik melawan penjajah. Jihad sejati adalah perjuangan menegakkan kebenaran di tengah sistem yang menindas dan menyesatkan.

Jika santri masa kini hanya diajarkan menjadi “moderat” tanpa keberanian menentang kemungkaran struktural, maka mereka kehilangan warisan paling berharga dari para pendahulu.

Jihad hari ini menuntut keberanian berpikir kritis, menyuarakan keadilan, dan memperjuangkan nilai Islam yang menyelamatkan manusia dari kerusakan moral dan sosial.

Hari Santri hendaknya tidak berhenti pada perayaan tahunan. Ia harus menjadi momen refleksi untuk menyalakan kembali semangat perubahan.

Santri perlu menyadari bahwa mereka memikul amanah besar sebagai penjaga iman, pelindung umat, dan pejuang peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Negeri ini membutuhkan generasi santri yang bukan hanya pandai berbicara tentang moral, tetapi juga berani menegakkan keadilan di tengah sistem yang kian jauh dari nilai ketuhanan.

Santri sejati adalah mereka yang menjadikan ilmu sebagai cahaya penuntun umat, bukan sebagai hiasan untuk mencari pengakuan. Mereka tidak berhenti pada gelar atau seremoni, melainkan terus berjalan di jalan dakwah yang panjang dan melelahkan.

Maka, di Hari Santri ini, marilah kita tidak hanya bertepuk tangan menyambut pidato, tetapi juga menundukkan kepala dan bertanya: sudahkah kita benar-benar mewarisi semangat jihad para ulama yang menjadikan Islam sebagai arah perubahan? Wallahu A’lam Bishshawab.[]

Comment