Santri Pionir Peradaban: Meneguhkan Spirit Resolusi Jihad dan Merawat Harapan Bangsa di Era Digital

Opini279 Views

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. | Dosen dan Pemerhati Generasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Era digitalisasi dan modernisasi membuat satu hal bisa menjadi kepingan problem yang terus menggelinding tanpa arah. Bak bola salju. Viralnya musibah di Ponpes Khoziny Sidoarjo menjadi bukti nyata.

Banyak pihak yang bersuara lantang dan nyinyir, tetapi lupa etika berkomunikasi. Seakan membongkar aib sendiri yakni minimnya literasi terkait dunia pesantren dan segala hal yang melingkupinya.

Namun, tak dimungkiri banyak pula netizen yang memuji indahnya akhlak santri-santri yang selamat dalam tragedi tersebut.

“Mungkin pesantren gagal membuat fondasi bangunan yang kokoh, tetapi tidak gagal mengokohkan fondasi akidah santri” adalah salah satu kalimat yang juga ramai di media sosial. Pun banyak beredar video dan ungkapan dari orang tua santri menegaskan hal tersebut.

Masyarakat kita sering alpa bahwa perkara yang terlihat di layar gadget belum tentu sesuai fakta di lapangan. Bahkan dominannya sudah tercemar dengan “bumbu penyedap” yang bisa jadi adalah racun jika dosisnya berlebih. Begitupun dunia digital hari ini. Tsunami informasi yang bisa menyeret apapun itu, termasuk etika dan nalar sehat kita.

Momentum HSN 2025 yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, seyogianya menyadarkan semua pihak bahwa santri adalah sosok generasi yang bisa diharapkan dalam memimpin peradaban.

Hal ini karena santri memiliki potensi yang luar biasa dalam banyak aspek, terutama dalam aspek spiritual dan soft skill. Tanpa melupakan aspek saintek. Artinya, kolaborasi kurikulum Diknas, Depag, dan kepesantrenan menjadi indikasi kuat akan asa tersebut.

Saat dikotomi pendidikan akibat penerapan sistem pendidikan sekuler menghasilkan generasi amoral, Ponpes hadir dengan wajah yang tetap utuh. Ilmu dunia berpadu ilmu akhirat adalah potret komprehensifnya didikan pesantren. Wajar jika pemerintah menaruh harapan besar di tubuh para santri. Mungkin dari perspektif inilah tema HSN tahun ini digagas.

Pionir Peradaban Dunia

Jika menilik perayaan HSN dari tahun ke tahun, terlihat hanya sekadar seremonial. Namun, harapan untuk tahun ini semoga bisa diwujudkan. Tersebab di pundak para santrilah asa menjadi pionir peradaban dunia digantungkan. Tentu saja harus di-support secara maksimal dengan beraneka kebijakan yang mengakomodir asa tersebut.

Sangat disayangkan jika peran santri hari ini hanya dijadikan simbol keagamaan belaka, terkesan dikerdilkan. Padahal, semestinya potensi santri dilejitkan dan terus dikembangkan. Dengan itulah mereka siap menjadi generasi yang akan memimpin peradaban dunia di masa depan.

Selanjutnya, kurikulum pendidikan dalam dunia pesantren begitu komprehensif. Dari sana terlahir para penghafal Al-Qur’an, hadits, fiqih, dll. Potensi tersebut merupakan cikal bakal menjadi seorang ulama.

Plus dalam era digitalisasi hari ini, sudah banyak pesantren yang memasukkan materi ajar yang relate dengan teknologi terkini. Sebuah keniscayaan dalam arus perubahan zaman.

Oleh karena itu, potensi santri harus diupayakan untuk diberikan ruang yang luas. Di mana negara memegang peranan sangat urgen, di antaranya perbaikan infrastruktur, kurikulum yang kompatibel dengan zaman, akses yang merata, dan tunjangan pengajar atau guru yang layak. Inilah sebagian perkara yang seyogianya menjadi fokus pemerintah dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Spirit Resolusi Jihad

Sejalan dengan potensi santri di atas, sekilas flash back terkait peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dideklarasikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, di mana resolusi jihad 22 Oktober 1945 oleh para ulama dan santri kala itu, demi mempertahankan tanah kaum muslimin dari segala bentuk penjajahan. Artinya, aksi tersebut bukan saja skala nasional, tetapi global.

Oleh karena itu, spirit yang mendunia tersebut harus terus dipupuk dan dijaga. Bukan malah mem-framing negatif santri, kiai, dan pesantren sebagaimana  yang viral di media sosial saat ini.

Jangan sampai negeri ini menjadi negeri yang tidak pandai menghargai para pahlawannya. Pahlawan yang tidak dikenal dalam sejarah dan buku-buku yang terpampang di rak-rak perpustakaan.

Padahal, tak dimungkiri spirit perjuangan santri bergelora dengan pekikan takbir. Adapun pandangan para ulama dan santri kala itu adalah mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

Fatwa tersebut menjadi dorongan moral dan spiritual bagi rakyat, terutama para santri dan pejuang di Surabaya. Kondisi tersebut kemudian memicu pertempuran 10 November 1945, salah satu momen heroik dalam sejarah bangsa.

Jika menelaah peran strategis santri, semestinya semua pihak bersinergi dalam melahirkan generasi unggul. Generasi yang akan menjadi pionir peradaban dunia sebagaimana tema HSN 2025.

Harapan dan cita-cita luhur itu bukan tanpa akar sejarah, tetapi lahir dari sejarah panjang negeri ini  upaya memberi ruang bagi generasi muda untuk berproses dalam koridor yang benar. Koridor yang sesuai aturan Sang Pencipta yakni menciptakan kemerdekaan hakiki. Merdeka dari penghambaan kepada sesama manusia ke penghambaan kepada Allah Swt. semata. Wallahu a’lam bis Showab.[]

Comment