Satriani: Revolusi Industri 4.0 Dalam Perspektif Islam

Berita894 Views
Satriani
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Menggugah mahasiswa generasi milenial menjadi seorang entrepreneur yang kreatif dan inovatif, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Sembilanbelas November Kolaka menyelenggarakan Seminar Dan Expo Kewirausahaan di Auditorium USN Kolaka pada 9 – 10 Januari 2019 lalu.
Seminar dengan tema “Membangun Jiwa Enterpreneur Generasi Milenial dalam Meningkatkan Kreatifitas dan Inovasi Menuju Revolusi Industri 4.0”. Sedangkan Expo Produk dipamerkan di Lapangan USN kolaka.
Acara tersebut diikuti 150 peserta dari berbagi jurusan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USN. Seminar dan Expo Kewirausahaan ini dibuka oleh Dekan FISIP, Nursamsir. Ia menyatakan, dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan semangat jiwa berwirausa di Era Revolusi Industri 4.0, menciptakan ide kreatif dan inovatif untuk masa depan agar dapat berkontribusi membangun perekonomian bangsa yang lebih maju.
“Sangat luar biasa, semoga berikutnya mahasiswa FISIP bisa menjadi pelopor menyelenggarakan Expo Kewirausahaan antara fakultas,” pesan Nursamsir.
Wilda, ketua BEM Fisip USN mengungkapkan, narasumber yang hadir dalam kegitan ini ada lima orang. Yakni Yudi Agusman salah satu dosen kewirausaahan di FISIP USN, Hakri pegawai Bank Sultra Cabang Kolaka yang membahas proses peminjaman dana Kredit Usaha Rakyat (KUR), ada pula ibu Lili Suaib yang mewakli Dinas Koperasi dan UMKM Pemda Kolaka, dan bapak Muksin General Manager PT. Wings Cabang Kolaka.
Ia juga berharap pada kegiatan ini mahasiswa mampu menumbuhkan kreatifitas dan inovasinya dalam berwirausaha. 
Dilema Revolusi Industri 4.0 
Revolusi industri 4.0 adalah sebuah kondisi abad ke-21 ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi.
Sekilas kemunculan era ini buah manis hasil kemajuan sains dan teknologi. Namun di sisi lain, justru menyisakan sederet permasalahan. Yakni tersingkirkannya peran manusia dan digantikan oleh mesin pintar dan internet. 
Sebuah ironi yang seharusnya tidak terjadi, bahwa era revolusi industri 4.0 muncul di tengah permasalahan ketenagakerjaan seperti banyaknya pengangguran dan tingkat kesejahteraan manusia yang jauh dari standar layak. Betapa tenaga kerja manusia akan dihargai murah bahkan tidak dibutuhkan lagi. Maka dunia harus siap-siap menghadapi problem kemanusiaan yang semakin meningkat, seperti kemiskinan global, kriminalitas meningkat, bunuh diri massal dsb.
Sejatinya teknologi hadir untuk membantu manusia dalam menjalankan fungsi utamanya menjadi khalifatul fil ardh. Dengan peran ini, manusia bisa menjaga alam dan makhluk yang lainnya dengan pengaturan terbaik dari Sang Pencipta. Namun, bila kemajuan teknologi justru mengancam eksistensi manusia, maka selayaknya menjadi evaluasi bersama. Tak ada yang salah dengan teknologi. Tapi pemanfaatan teknologi ini butuh didukung sumber daya manusia dan manajerial yang bijak agar kehadirannya bermanfaat bagi manusia.
Akibat dari sekularisasi melalui kurikulum pendidikan tinggi yang menjadikannya hanya dipandang sebagai alat produksi atau pekerja untuk meraut banyak materi.Inilah dasar dari sistem kapitalis-sekularisme yang hanya sebagai produksi atau pekerja bukan mencetak generasi yang mempunyai syakhsiyah islam atau kepibadian islam dan menjadi ilmuan.
Mahasiswa saat ini di giring menjadi insan untuk menyerahkan loyalitas keahlian dan ilmu pengatahuan kepada kesuksesaan materi dan korporasi bukan lagi sebagai agent of change, yaitu melakukan perubahan untuk mencerdaskan ummat yang bersyaksyiah islam jadi bukan hanya handal dalam akademisi tapi memperbaiki pola pikir dan pola sikap masyarakat dan tidak dituntut hanya menguasai satu bidang saja tapi banyak bidang dengan pendidikannya berbasis saqofah islam bukan berbasis kapitalis-sekularisme jadi tolak ukurnya, dengan konsep knowledge based Economy atau pendidikan berbasis ekonomi yang hanya menjadi produksi dan hanya menjadi pekerja dimana ilmu dan riset diposisikan sebagai jasa yang harus di kapitalisasi dan komersialisasi demi mengejar pertembuhan ekonomi. Selain itu, persoalan identitas dari out put sunggu memperhatingkan kesibukan dan kesombongan. Inilah buah dari sistem kapitalis-sekularisme. Yaitu Agama dijaukan dari ranah ilmu pengatahuan dan kehidupan umum.
Kembali Kepada Islam
Pendidikan islam tidak sama dengan pendidikan barat yang berasaskan sekuler, pendidikan islam pada masa Rasulullah, dibangun dari pondasi dasar ilmu Al-quraan sebelum mempelajari ilmu modern.imam Syafi’i mengatakan, “Eksistensi seorang pemuda-demi Allah-adalah dengan ilmu dan ketaqwaan jika keduanya tidak ada padanya,maka tidak ada jati diri padanya.” Dan menurut imam Al-Ghazali, menuntut ilmu harus dibangun di atas landasan niat yang kokoh, yakni semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Niat mencari ilmu harus benar. Jika sejak awal mencari ilmu diniatkan untuk mencari dunia,maka menurut al-Ghazali, itu adalah awal kehancuran agama.
Karena itu, tujuan pendidikan yang ditetapkan dalam Islam adalah pertama, membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian islam (syakhsiyah islamiyyah) secara utuh yakni pola pikir dan pola sikap didasarkan pada akidah islam. Kedua, menciptakan ulama, intelektual dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat, melayani masyarakat yang berkontribusi besar dalam membangun peradaban gemilang. 
Periode sejarah telah membuktikan bahwa pendidikan di masa peradaban Islam adalah yang paling cemerlang sebut saja, pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah di Baqhdad (750-1285) dan Daulah umayyah di Spanyol (711-1492) pada masa priode ini segala potensi dalam kebudayaan di dasari oleh nilai-nilai islam. Ulama sekaligus ilmuan. Begitulah hasil dari sistem pendidikan islam, di mana agama menjadi pondasi untuk mengembangkan ilmu pengatahuan, ulama di masa kejayaan islam menguasai berbagai ilmu pengatahuan, seperti Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran, Al Khawarizmi yang memecahkan persamaan linear dan kuadrat yang kita kenal dengan nama Aljabar.
Alhasil, Islam sejatinya adalah agama yang sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam pun memberikan apresiasi terhadap perkembangan IPTEK.
Beberapa nash syariat diantaranya: “Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (TQS. Az-Zumar: 9).
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” (TQS. Al-Mujaadilah: 11).
“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (TQS. Al-Baqarah: 269).
Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa ilmu itu harus sejalan dengan ketakwaan seseorang. Sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (TQS. Faathir:28).
Oleh karena itu sudah seharusnya mahasiswa menyadari perannya dan kembali kepada fitrahnya sebagai agen of change yang bisa membangkitkan perubahan hakiki, bukan hanya sekedar revolusi industri 4.0, tapi revolusi Islam jilid 2 dengan menerapkan kembali Islam Kaffah yang akan memimpin dan menaungi seluruh manusia menjadi umat terbaik bahkan menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Wallahu a’lam. []


Penulis adalah Mahasiswa Fak.Hukum USN & Aktivis BMI Kolaka

Comment