Sekolah Sungai Ciliwung, Ruang Belajar yang Membasuh Akhlak dan Alam

Pendidikan904 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di antara riak air dan akar pepohonan di bantaran Sungai Ciliwung, berdiri sebuah ruang belajar tak biasa. Namanya Sekolah Sungai Ciliwung (SSC), sebuah komunitas pendidikan berbasis lingkungan yang telah hadir sejak 2006. Digagas oleh Usman Firdaus, SSC menjadi oase pendidikan alternatif di tengah kebuntuan sistem pendidikan formal.

Di Sekolah Sungai Ciliwung, tidak ada bel masuk, tidak ada papan tulis atau laporan nilai. Yang ada adalah desir angin, suara gemericik sungai, tanah yang basah, dan anak-anak yang belajar langsung dari alam. Mereka belajar bukan hanya tentang sains, tapi juga akhlak, tanggung jawab, dan cinta terhadap bumi.

“Di sini, peserta didik bukan hanya murid. Mereka adalah penjaga sungai, penanam harapan, dan agen perubahan,” ujar Dr. H. J. Faisal, dosen Pascasarjana Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor yang juga menjadikan SSC sebagai lokasi penelitian disertasinya.

Faisal menilai SSC sebagai bentuk pendidikan sejati yang membebaskan. Kurikulumnya tidak dibatasi oleh silabus nasional, tetapi lahir dari realitas sosial, kebutuhan ekologis, dan potensi lokal masyarakat. Kegiatan seperti membuat kompos, menanam tanaman obat, mendaur ulang sampah, hingga wisata susur sungai menjadi bagian dari proses pembelajaran yang utuh.

“Di SSC, sains bukan hanya teori, tapi praktik. Akhlak bukan hanya materi, tapi pengalaman. Dan alam bukan sekadar objek belajar, melainkan guru sejati,” tambah Faisal.

Banjir Bukan Musibah, Tapi Sapaan Sungai

Tak jarang, Sekolah Sungai Ciliwung diterpa banjir. Namun, bagi Bang Usman dan timnya, banjir bukanlah gangguan, melainkan bentuk sapaan dari sungai yang mereka cintai. Sikap mereka bukan pasrah, melainkan penerimaan aktif yang menyatu dengan kesadaran spiritual dan ekologi.

“Kadang kita mengira alam marah, padahal ia hanya sedang berbicara. Tinggal bagaimana kita mendengar,” ucap Usman Firdaus, yang juga dikenal sebagai pendiri Komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci).

Pendidikan yang Hidup, Bukan Sekadar Hafalan

Faisal menyebut SSC sebagai bukti nyata bahwa pendidikan yang menyatu dengan akhlak dan alam bukan sekadar idealisme. Di tengah kaku dan birokratisnya kurikulum nasional, SSC menjadi ruang yang memberi kebebasan berpikir dan berimajinasi.

“Anak-anak belajar menyentuh embun di daun, merasakan lumpur sungai, mendengar nyanyian burung. Di sanalah imajinasi, sains, dan pengalaman nyata bertemu,” jelas Faisal.

Ia menambahkan, SSC bukan untuk menyaingi pendidikan formal, tapi melengkapinya. Menyempurnakan aspek yang sering kali hilang: spiritualitas, ekologi, dan akhlak.

Menanam Benih Peradaban di Tepian Sungai

Selama hampir dua dekade, SSC telah menerima berbagai penghargaan bergengsi. Di antaranya Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup (2011 dan 2014), serta pengakuan sebagai Komunitas Peduli Sungai terbaik oleh Kementerian PUPR (2018). Namun, bagi Usman, semua penghargaan itu hanyalah titipan.

“Alam tidak butuh penghargaan. Alam hanya ingin dihormati,” katanya lirih.

Bagi Faisal, Bang Usman telah menanam benih peradaban. Pendidikan yang hidup, menyentuh jiwa, dan menumbuhkan kesadaran akan peran manusia sebagai khalifah bumi.

“Jika pendidikan adalah cahaya, maka Sekolah Sungai Ciliwung adalah lentera di tepian sungai. Menyinari pelan-pelan, tapi pasti. Dan saya merasa terhormat pernah menjadi bagian dari cahaya itu,” pungkasnya.[]

Comment