Sepi Tanpa Makna di Tengah Hiruk Pikuk Media Sosial

Opini411 Views

 

Penulis : Rizki Utami Handayani, S.ST. | Pengajar di Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sejak lama kita memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Dalam kesehariannya, ia selalu membutuhkan orang lain. Ironisnya, di era digital yang tampak kian menghubungkan manusia, justru semakin banyak yang merasa kesepian.

Klik, komentar, dan notifikasi seolah mendekatkan jarak, tetapi tidak selalu menghadirkan kehangatan. Seseorang bisa begitu aktif di TikTok atau Instagram, namun tetap minim interaksi nyata.

Fenomena ini menjadi perhatian para akademisi. Penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY bertajuk “Loneliness in the Crowd” menunjukkan bagaimana literasi media digital berkelindan dengan kesepian di ruang maya. Teori hiperrealitas menjelaskan, representasi digital kerap dianggap lebih “nyata” daripada realitas itu sendiri.

Emosi yang terbentuk melalui media audiovisual bahkan dapat memengaruhi kesehatan mental hingga relasi sosial seseorang. Tak heran, di tengah riuh media sosial, banyak orang justru merasa hampa.

Generasi muda, terutama Gen Z, adalah kelompok yang paling merasakan paradoks ini. Mereka sering dilabeli generasi paling kesepian dan paling rapuh secara psikologis. Rasa cemas, insecure, bahkan depresi, kian menguat.

Persoalan ini bukan semata akibat lemahnya literasi digital atau manajemen gawai, tetapi juga dampak sistem kapitalisme yang menjadikan media sosial sebagai instrumen industri. Ruang digital dikelola untuk menumbuhkan keterikatan, namun sering kali mengikis kualitas interaksi nyata.

Akibatnya, tumbuh sikap asosial. Hubungan dalam keluarga pun renggang karena masing-masing larut dengan gawainya. Padahal, keluarga adalah unit sosial terkecil yang seharusnya menjadi tempat bertumbuhnya kasih sayang. Bila dibiarkan, generasi muda yang mestinya memiliki potensi besar justru tumbuh rapuh, kehilangan solidaritas, dan tercerabut dari kepedulian sosial.

Di sinilah Islam menawarkan jawaban. Identitas sebagai Muslim seharusnya menjadi jangkar utama di tengah derasnya arus digital. Islam mengajarkan bahwa relasi manusia bukan sekadar eksistensi pribadi, melainkan kontribusi nyata bagi umat.

Generasi muda perlu diarahkan agar tidak sekadar hadir di dunia maya, tetapi mampu berkarya, menyelesaikan problem sosial, dan menghadirkan peradaban rahmatan lil ‘alamin.

Dalam bukunya Anak-Anak Langit, Tun Kelana Jaya (Coach Kelana) menguraikan The Hidden Power of Youth. Ia menekankan pentingnya keluar dari zona rapuh menuju zona kokoh dengan memaksimalkan 17 potensi pemuda: kejernihan visi hidup, energi tak terbatas, daya serap ilmu yang cepat, kepekaan sosial, kreativitas, hingga keberanian menggugat narasi dunia.

Coach Kelana juga menegaskan bahwa setiap krisis global, ledakan komunitas, dan era digital justru membuka peluang kepemimpinan serta dakwah yang luas bagi anak muda.

Sejarah dakwah Rasulullah SAW pun membuktikan, para pemuda tangguh menjadi pilar utama perjuangan. Begitu pula kini, generasi muda harus mengambil peran strategis, bukan larut dalam kesepian digital.

Namun, peran negara juga sangat krusial. Negara tidak boleh membiarkan ruang digital sepenuhnya tunduk pada logika kapitalis. Ia harus hadir memastikan teknologi digunakan untuk kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan. Negara juga berkewajiban menumbuhkan generasi muda yang kuat, produktif, dan peduli terhadap umat.

Kesepian di tengah keramaian adalah paradoks dunia modern. Tetapi dengan identitas Islam yang kokoh, didukung negara yang berfungsi sebagai pengayom, generasi muda dapat tumbuh sehat, berdaya, dan kembali menghidupkan solidaritas umat. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment