Penulis: Mochamad Ade Maulidin, S.E, M.IKom | Jurnalis Senior
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ketika hidup terasa berat, kadang kita bertanya: “Kenapa harus aku, ya Allah?” Namun, La Tahzan mengajarkan kita untuk percaya bahwa di balik setiap ujian, Allah tengah menyisipkan hadiah—meski belum terlihat sekarang, kelak kamu akan memahaminya.
Kesulitan bukanlah hukuman. Ia adalah jembatan, bukan jurang. Lewat kesulitan, Allah sedang menguatkan dirimu, menggugurkan dosamu, dan mungkin, sedang mengangkat derajatmu di sisi-Nya.
Saat kamu bersabar, kamu bukan sedang diam—kamu sedang tumbuh. Dan setiap air mata yang jatuh, sedang menyirami taman pahala yang Allah siapkan di akhirat kelak.
Tak semua orang akan mengerti letih dan perjuanganmu. Tapi Allah Maha Tahu. Dia tahu setiap kali kamu menahan kecewa, menahan amarah, bahkan menahan tangis dalam sujudmu. Dia-lah yang akan membalas semua itu dengan sesuatu yang jauh lebih indah dari yang kamu harapkan.
Ucapkan perlahan kalimat ini: “Ya Allah, aku percaya pada rencana-Mu, meski aku belum memahaminya sekarang.”
Biarkan keyakinan itu menuntun langkahmu hari ini. Tenangkan hatimu. Kuatkan dirimu. Karena bersama kesulitan, ada kemudahan. Bukan satu—tapi dua.
Seperti pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Jika engkau menyibukkan hatimu dengan Allah, maka dunia akan datang kepadamu dalam keadaan hina.”
Fokuslah pada-Nya, bukan pada kesulitanmu.
Dan ingat pula petuah dari Ibnu Sina (Avicenna), ilmuwan Muslim besar: “Kekuatan terbesar adalah kesabaran. Karena ia bukan hanya tentang menunggu, tapi tentang tetap tenang dan terus melangkah meski badai datang.”
Yakinlah, kamu tidak sedang berjalan sendiri. Allah bersama setiap langkahmu. Wallahu a’lam bish-shawab.[]











Comment