Sinergi Umat Membimbing Generasi Bertakwa dan Tangguh

Opini164 Views

Penulis: Sri Mulyati | Komunitas Muslimah Coblong, Bandung

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA—Perkembangan teknologi digital yang melaju cepat menempatkan generasi muda hidup di tengah banjir informasi tanpa jeda. Media sosial dan berbagai platform digital kini bukan sekadar ruang hiburan, melainkan arena utama pembentukan opini, sikap, dan pola pikir, kondisi yang menuntut pendampingan serius agar arus informasi tidak menjauhkan mereka dari nilai dan karakter.

Durasi penggunaan gawai yang tinggi perlahan menggeser perhatian generasi muda dari peran nyata dalam kehidupan sosial. Waktu yang habis di depan layar kerap menggerus kualitas interaksi dengan keluarga, lingkungan, serta keterlibatan dalam aktivitas produktif, seperti dicatat UNICEF dalam laporan Children in a Digital World (2017), keadaan yang bila dibiarkan akan melemahkan kedisiplinan dan daya fokus sejak usia dini.

Di sisi lain, dunia maya tidak bekerja secara netral. Algoritma digital menyajikan konten berdasarkan preferensi pengguna sehingga generasi muda mudah terjebak dalam ruang informasi sempit dan berulang, situasi yang membatasi sudut pandang kritis dan mendorong penerimaan gagasan secara instan tanpa proses berpikir mendalam.

Menariknya, di tengah derasnya arus digital tersebut, sebagian generasi muda justru menunjukkan kepekaan terhadap isu ketidakadilan sosial dan dinamika kekuasaan. Fenomena ini tampak dari meningkatnya partisipasi anak muda dalam diskursus publik, baik di media sosial maupun ruang diskusi terbuka, sebagaimana diberitakan Kompas.id edisi 8 Agustus 2023, meski keterlibatan itu kerap berlangsung di luar jalur politik formal dan belum terarah secara sistemik.

Namun demikian, meningkatnya sikap kritis ini tidak selalu dibarengi arah perjuangan yang jelas. Kritik sering berhenti pada luapan emosi dan kemarahan, tanpa diikuti gagasan perubahan yang menyentuh akar persoalan dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Generasi muda dalam arus informasi tanpa arah

Generasi muda hari ini berada pada posisi strategis sekaligus rentan. Mereka adalah pengguna utama sekaligus pasar potensial industri digital. Media sosial, platform hiburan, hingga layanan streaming menjadikan anak muda sebagai target utama karena kreativitas, daya beli, dan pengaruh mereka yang besar, realitas yang menuntut tanggung jawab kolektif untuk melindungi arah tumbuh kembang mereka.

Seluruh konten digital yang dikonsumsi sejatinya menjadi “tabungan informasi” yang secara perlahan membentuk cara berpikir dan sudut pandang terhadap kehidupan. Apa yang terus dilihat, didengar, dan diulang di layar gawai akan memengaruhi cara menilai benar dan salah, sukses dan gagal, bahkan memaknai kebahagiaan, sehingga penguatan nilai menjadi kebutuhan mendesak.

Derasnya ide sekuler dan liberal di media sosial memperkuat persoalan ini. Nilai kebebasan tanpa batas serta pemisahan agama dari kehidupan publik hadir masif dalam kemasan konten yang menarik dan tampak rasional, keadaan yang membuat generasi muda membutuhkan benteng nilai agar idealisme mereka tidak terseret ke arah yang keliru.

Demokrasi kapitalisme membuka ruang kebebasan luas tanpa panduan nilai yang sahih. Semua ide diberi tempat yang sama tanpa menimbang dampak benar atau rusaknya bagi masyarakat, sehingga dalam praktik aktivisme sering melahirkan generasi yang rindu perubahan namun menawarkan solusi parsial dari sistem yang sama. Banyak anak muda lantang mengkritik kezaliman, tetapi masih meniru pola aktivisme liberal yang menjadikan perubahan sebatas pergantian figur atau kebijakan teknis.

Bahkan ketika aktivisme itu dilakukan oleh kaum muslim, tanpa cara pandang hidup yang benar mereka berisiko hanya menduplikasi aktivisme liberal.

Identitas keislaman tidak otomatis menjadikan perjuangan berbeda jika landasan berpikir dan solusi tetap bersumber dari demokrasi kapitalisme, sebagaimana dikritik Yusuf al-Qardhawi dalam Islam dan Sekularisme (2001), persoalan yang menegaskan bahwa masalah utama generasi hari ini bukan kurangnya semangat perubahan, melainkan kaburnya arah perubahan itu sendiri.

Islam mengarahkan potensi generasi
Islam memandang generasi muda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan makhluk Allah yang dianugerahi potensi lengkap berupa naluri, kebutuhan jasmani, dan akal untuk berpikir serta mengambil sikap.

Potensi ini meniscayakan pengarahan yang benar agar akal berfungsi sesuai fitrah dan naluri tidak lepas kendali.
Agar potensi tersebut tumbuh optimal, generasi muda membutuhkan lingkungan yang kondusif dan sarat jawwil iman atau suasana keimanan.

Lingkungan yang dipenuhi nilai Islam akan membantu mereka memaknai kehidupan secara benar, bukan sekadar mengikuti arus popularitas dan algoritma digital yang terus berubah.

Pembinaan generasi tidak bisa dibebankan pada individu semata. Ia menuntut sinergi sistemis seluruh elemen umat. Keluarga berperan sebagai madrasah pertama yang menanamkan akidah dan adab, masyarakat menjaga suasana sosial yang sehat, sementara negara berkewajiban menghadirkan kebijakan yang melindungi akal dan moral generasi.

Di samping itu, keberadaan partai politik Islam ideologis memiliki peran strategis sebagai tulang punggung pembinaan umat, termasuk generasi muda. Parpol ideologis berfungsi melakukan muhasabah lil hukam, mengoreksi penguasa ketika menyimpang, sekaligus menyediakan ruang aman bagi suara kritis kaum muda agar tersalurkan secara bertanggung jawab, seperti ditegaskan Taqiyuddin an-Nabhani dalam At-Takatul al-Hizbi, sehingga perubahan tidak berhenti pada kritik emosional, tetapi bergerak menuju solusi yang berakar pada akidah.

Dengan sinergi keluarga, masyarakat, partai politik ideologis, dan negara, Islam menawarkan solusi yang utuh dan berakar pada wahyu.

Generasi muda tidak hanya diarahkan menjadi kritis, tetapi juga memiliki pandangan hidup yang sahih dan tujuan perubahan yang jelas, bersumber dari Sang Khalik.[]

Comment