by

Siti Aisah, S. Pd*: Islam Halalkan Poligami Fan Haramkan Poliandri

-Opini-26 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PANRB), Tjahjo Kumolo, mengungkapkan adanya fenomena baru pelanggaran yang dilakukan oleh aparatur sipil negara (ASN). Fenomena tersebut berupa ASN perempuan yang memiliki suami lebih dari satu atau poliandri. Setali tiga uang, saat laki-laki dibolehkan untuk berpoligami, maka perempuan ingin diberikan kewenangan untuk bisa melakukan poliandri. Poligami saat ini masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian perempuan.

Namun tak dinyana, bahwasanya kasus poliandri ASN ini cukup menggegerkan. Hal ini disebabkan dalam kurun waktu satu tahun ini ada sekitar lima laporan kasus poliandri. Setiap bulan, Kementerian PANRB bersama Badan Kepegawaian Nasional (BKN) hingga Kementerian Hukum dan HAM menggelar sidang untuk memutuskan perkara pelanggaran ASN, termasuk masalah keluarga tersebut. Masih dilansir dalam laman yang sama, Tjahjo mengungkapkan bahwa dalam memutuskan masalah keluarga, kami tidak mau hanya katanya, tidak mau pengaduan dari temannya. Harus ada bukti, harus izin suami atau sebaliknya. (republika.co.id, 29/08/2020)

Miris, sistem saat ini memberikan kebebasan dalam membina keluarga tanpa ada pengaitan dengan agama. Perlu ditekankan bahwasanya Islam menghalalkan poligami tapi mengharamkan poliandri. Sayangnya, pemerintah saat ini seperti menggeneralisasi kasus ASN yang melakukan poligami ataupun poliandri. Tindak pengajuan yang dilakukan agar terhindar dari pelanggaran ASN. Hanya melayangkan setidaknya dua surat izin. Yaitu, surat izin dari pimpinannya dan jika ASN pria berpoligami maka harus ada izin dari istri pertama. Sebaliknya, jika ASN wanita yang ingin berpoliandri maka harus memiliki izin dari suami pertama. Sungguh ironis, bagaimana bisa wanita berpoliandri, hal ini akan merusak garis nasab anak yang dikandung wanita berpoliandri tersebut.

Makin terjerumus saja ide-ide yang beredar di masyarakat. Di tengah kriminalisasi ide khilafah dan pengembannya, problem ASN yang berpoliandri berdampak buruk pada tatanan sosial masyarakat. Terutama mengenai ketahanan keluarga. Tak ayal juga kasus ini terjadi di sistem sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan. Masalah yang menimpa perempuan dan anak makin masif terjadi. Variasi persoalannya pun makin beragam dan tingkat kompleksitas penyelesaiannya makin berat.

Salah satunya kasus poliandri ASN ini yang semestinya benar-benar harus diharamkan. Faktor sulitnya mewujudkan ketahanan keluarga dan minimnya pemahaman syariah adalah sebagian besar pemicu munculnya kasus poliandri ataupun poligami. Poliandri haram hukumnya dalam Islam, berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunah. Dalil Al-Qur’an adalah firman Allah Swt., yang artinya:

“Dan (diharamkan juga atas kalian menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.” (QS an-Nisa [4]: 24)

Ayat ini menunjukkan salah satu kategori wanita yang haram dinikahi laki-laki, adalah wanita yang sudah bersuami. Adapun dalil Sunah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, yang artinya :

“Siapa saja wanita yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka pernikahan yang sah bagi wanita itu adalah yang pertama dari keduanya.” (HR Ahmad)

Hadis di atas secara manthuq (tersurat) menunjukkan jika dua orang wali menikahkan seorang wanita dengan dua orang laki-laki secara berurutan, maka yang dianggap sah adalah akad nikah yang dilakukan wali yang pertama (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, Juz III/123).

Padahal poligami yang dihalalkan sering dijadikan kambing hitam saat terjadi keretakan rumah tangga. Praktik poligami yang salah menyebabkan banyak wanita yang masih belum bisa sepenuhnya menerima poligami. Sebagian dari mereka merasa khawatir jika suami tidak mampu bersikap adil, ketidakmampuan untuk melakukan proses penyesuaian dengan istri yang lain, ataupun ketidaksiapan mereka untuk menerima segala perubahan setelah suaminya menikah lagi.
Sejatinya sebagai seorang muslim, memandang berbagai persoalan harus selalu dikaitkan dengan Islam. Hal ini adalah konsekuensi dari pancaran keimanan seorang. Poligami adalah bagian dari syariat Islam yang hukumnya boleh-boleh saja. Namun jika ketetapan perempuan (baca: istri) mendapati suaminya menikah lagi. Maka, jalan terbaik adalah dapat menerimanya dengan ikhlas.

Selain itu sebagai bentuk ketaatan pada suami, serta menjadi ladang pahala sekaligus kepedulian yang sangat terhadap sesama perempuan. Sebab, tidak sedikit pasangan poligami yang hidup rukun, harmonis, dan sakinah.

Pemicu sistemisnya terhadap kebijakan rumit negara (khususnya ASN) untuk berpoligami dan berbagai pro dan kontranya, membuat berbagai permasalahan keluarga menjadi lebih runyam.

Masyarakat lebih diarahkan memahami kondisi suami berselingkuh ataupun jajan sembarangan, daripada memahami kehalalan berpoligami. Hal ini disebabkan poligami yang berhasil memang tidak hanya karena keikhlasan istri saja. Namun lebih kepada niat dan sikap yang baik dari suami (baca : ASN) ketika memilih berpoligami.

Suami harus mampu bersikap ma’ruf saat menyampaikan keinginannya berpoligami kepada istri, walaupun hal ini bukan merupakan syarat ataupun rukun nikah. Sebab, andai dilakukan dengan diam-diam pun sejatinya tidak menjadi batalnya rukun nikah. Namun, jika sebuah kebaikan diawali dengan hal yang baik, maka hal ini akan mendatangkan keberkahan.

Selain itu, tingkah laku istri baru pun harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan rumah tangga yang selama ini sudah dijalani oleh keluarga lama suaminya.

Ketika semua anggota keluarga bisa saling menjaga, menghargai, menerima kekurangan masing-masing serta bisa mengingatkan jika ada yang salah agar bisa menjadikan semuanya lebih baik. Dengan begitu Insya Allah keluarga sakinah akan bisa diraih dalam keharmonisan poligami.

Perlu dipahami dalam memandang setiap persoalan, termasuk poligami, sangat dipengaruhi oleh sebuah pemahaman.

Hal ini karena sebuah pemahaman/pemikiran akan dijadikan sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap. Fakta di tengah masyarakat tentang adanya praktik poligami yang salah. Tidak bisa dijadikan landasan hukum.

Hukum Islam yang membolehkan poligami. Baik bisa dipandang sebagai suatu yang baik ataupun tidak oleh masyarakat, tidak bisa berubah hukum.

Konsekuensi keimanan terhadap Sang Pencipta memberikan pilihan bahwa poligami adalah bagian dari ajaran Islam titik, tidak ada koma dalam memilah hukum yang sesuai hawa nafsu. Perlu diyakini bahwa setiap aturan yang Allah tetapkan akan menjadi solusi terhadap problem kehidupan manusia.

Adanya contoh praktik poligami yang benar merupakan langkah yang tepat untuk pembelajaran agar bisa menerima poligami dengan ikhlas. Selain itu melakukan sharing dengan mereka yang telah sukses menjalani kehidupan berpoligami juga akan membantu belajar akan manisnya kehidupan mereka.

Selain itu hubungan antaranggota keluarga yang menyenangkan ataupun bermasalah bisa muncul dari keluarga monogami ataupun poligami.

Hal ini karena yang terpenting adalah bagaimana setiap anggota keluarga mampu menemukan solusi yang tepat terhadap setiap berbagai persoalan dengan selalu mengaitkan kepada Islam sebagai satu-satunya solusi kehidupan. Semoga setiap pemahaman yang sudah tertanam akan mengiringi setiap langkah dalam berpikir dan berbuat.

Sesungguhnya tidak ada syariat Allah yang akan mendatangkan keburukan bagi manusia dan hanya Islamlah yang mampu menyejahterakan perempuan. Wallahu ‘alam bishawab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 16 =

Rekomendasi Berita