Siti Rahmah: 10 Year Challenge Nostalgia untuk Muhasabah

Berita889 Views
Siti Rahmah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hai gaes, iya kamu yang ngaku anak mileneal. Yang paling senang dengan hal-hal baru yang mengandung unsur tantangan. Benar nggak sich? Benar donk. Nyatanya setiap ada ide atau gagasan yang muncul walaupun tidak diketahui apa yang menjadi latar belakangnya selalu sukses menarik perhatian kaum milenial. Padahal,  sejatinya ide tersebut jelas tak muncul tiba-tiba. Ide muncul dengan sederet stimulan. Sebagai contohnya adalah tren yang tengah berkembang. Bukan semata-mata mengikuti hype, tren diperlukan sebagai acuan dengan harapan karya yang dibuat bakal diterima publik. 
Kamu masih ingatkan gaes, di tahun 2018 juga berbagai macam challenge ramai disosial media. Ada kiki challenge (turun dari mobil terus membiarkan pintu mobil kebuka, kemudian dia menari sambil mengikuti mobil yang berjalan). Ada juga momo challenge yang ini adegannya lebih serem, lebih ekstrim. Karena tantangannya menyakiti diri sendiri bahkan sampai pada perintah untuk  bunuh diri. Kemudian ada juga challenge yang memamerkan foto yang sedang terjatuh ketika turun dari mobil terus belanjaan atau barang-barang bawaannya diberantakin. Dan segudang challenge lain yang tentunya banyak yang mengikutinya. 
Begitupun ketika memasuki tahun baru 2019. Seperti halnya di Indonesia Awal tahun 2019 diramaikan dengan challenge baru di media sosial, yakni “10 Years Challenge. Tantangan ini berupa keberanian untuk mengunggah foto kita 10 tahun lalu, disandingkan dengan foto kita saat ini.
Dalam pantauan Merdeka.com pada Rabu (16/1/2019), 10 Years Challenge muncul di Twitter dengan sebutan “2009 vs 2019”. Lalu merambah ke feed dan sotry Instagram juga dengan ditambahkan tagar #10yearschallenge. Di Twitter sendiri, tagar ini menjadi trending global.
Untuk membuat tantangan semacam ini cukup mudah. Biasanya mereka hanya tinggal mencari foto-foto lawas  di album Facebook  atau album yang tersimpan di smartphonenya. Biasanya jika telah terkoneksi dengan aplikasi Google Photos ataupun Timehop, brwosing foto lawas pun makin mudah. Dengan kemudahan itu membuat pengguna akun sosila berlomba-lomba untuk mengikuti challange ini.
Ya, kemunculan ten years challenge baru-baru ini cukup disukai oleh pengguna aktif media sosial, terutama Instagram. Termasuk kamu, kan? Sebenarnya bukan hanya kamu kaum milenial yang suka challenge ini. Tapi semua elemen masyarakat. Mulai dari artis, emak-emak, pakar pendidikan, tokoh-tokoh politik. Sampai pada dibawanya challenge ini kepanggung perpolitikan tentu dengan konten yang sama, yaitu perubahan 2009-2019.
Menurut catatan Spredfast, di Indonesia, tagar #10yearschallenge mulai digunakan pada Senin (14/1) dan masih meningkat terus penggunaannya sampai tulisan ini dibuat. Dalam empat hari terakhir, tercatat ada sekitar 105 ribu cuitan terkait tagar tersebut.
Masih ada beberapa tagar lain yang juga digunakan terkait tantangan ini antara lain #2009vs2019 dan #10yearsagochallenge. Namun tagar yang paling banyak digunakan tetap #10yearschallenge. Di pencarian Google pun, ’10 Years Challenge’ menjadi urutan nomor satu pencarian pada Selasa (15/1). Penggunaan tagar #10yearschallenge di kalangan warganet Indonesia menurut catatan Spredfast.
Tantangan ini memang pada dasarnya membandingkan foto-foto pribadi dari para warganet, namun kemudian ada yang menggunakannya untuk tujuan penyadaran lingkungan. Seperti salah satu unggahan yang populer adalah perbandingan antara volume es kutub yang mencair sebagai salah satu dampak pemanasan global. Ada pula yang menyoroti ‘penampilan’ kurs rupiah.
Akun foto-foto sejarah @potretlawas juga menggunakan kesempatan tantangan ini untuk mengunggah foto dan kisah tentang apa yang terjadi pada pandangan politik Bung Karno antara 1946 dan 1956. Namun kemudian tantangan ini juga digunakan untuk  mengkampanyekan agenda politik menjelang pemilihan presiden. Kalau kamu post apa waktu ngikutin challeng ini?
Aku Di masa Lalu Dan Sekarang
Nah ternyata gaes, besarnya peminat challenge ini. Menjadikan akun-akun di sosmed dibanjiri nostalgia. Untuk para remaja millenial dan remaja masa lalu biasanya hanya menggunakan challenge ini untuk memasang foto jadul dan disandingkan dengan foto sekarang. Dijelaskanlah perbedaannya. Yang lebih miris lagi tuch biasanya yang emak-emak dan remaja putri yang baru hijrah, terdorong mengikuti challenge ini tanpa mengikuti rambu-rambu (lalu lintas kali ah). Misalnya gimana? Gini lho dear, ga sedikitkan diantara kaum hawa yang baru meniti jalan hijrah di tahun-tahun ini. Sehingga otomatis fotonya 10 tahun yang lalu yang belum hijrah, belum menutup aurat. Nah itu malah di upload.  
Atau ada juga yang upload kehidupan masa lalu yang masih senang dengan seabreg kemaksiata. Miris kan ya gaes. Padahal tau nggak sich? Situs WIRED menurunkan tulisan Kate O’Neill yang mengajukan kemungkinan bahwa meme yang sedang populer ini adalah cara untuk membantu teknologi pengenalan wajah bekerja lebih baik dalam mengidentifikasi pertambahan usia pada seseorang.
Perbandingan antara 2009 dan 2019 membantu teknologi tersebut dengan ‘memperjelas konteks’. “Dan karena meme ini, kini ada set data yang sangat besar, dan dipilih secara hati-hati oleh orang-orang dari 10 tahun lalu dan sekarang.”
O’Neill juga menegaskan bahwa teknologi ini tak sepenuhnya negatif, karena pengenalan wajah bisa membantu polisi di New Delhi, India, menemukan kembali sekitar 3.000 anak hilang. Yang terpenting, menurutnya, adalah bahwa “kita harus menjadi lebih sadar akan data yang kita buat dan ciptakan, akses yang kita berikan terhadap data itu, dan implikasi penggunaannya.”
Nah gaes, ini sebagai tambahan informasi buat kamu. Jadi sebelum ikutan challange ini, nggak ada salahnya mempertimbangakannya terlebih dahulu. Apalagi bagi kita seorang muslim, harus punya batasan dalam mengikuti sebuah tren. Bukan asal ikutan. Karena bagi setiap muslim, setiap amal perbuatan yang dilakukan semua ada konsekuensinya. Ada balasannya. Jadi nggak asal senang, nggak asal fun, nggak asal ikutan. 
Ikut Challange Yuk
Jadi, boleh nggak sich kita ikutan challenge ini? Tentu saja boleh selama tidak menjebak kamu dalam kemaksiatan. Karena kaidah fiqih menyatakan “apa saja yang dapat terlaksananya perbuatan haram, maka hal itu juga haram.” Lho ko bisa? Bisa. Contohnya kayak tadi ikut challenge ini dengan mengumbar foto-foto yang ga menutup aurat. Kalau sudah diposting (upload) kebayangkan seluruh dunia melihat bagian tubuh yang tidak boleh dilihat oleh orang lain atau  melihat bagian auratmu. Belum lagi kalau orang yang melihatnya, di hatinya ada penyakit terus memunculkan inspirasi-inspirasi berbuat buruk. Maka hal itu jelaslah terlarang.
Atau ada juga yang ikutan challenge ini menjadikannya ajang untuk pamer kesuksesan. Mengangkat foto masa lalu dengan segala keterbatasan ekonominya kemudian disandingkan dengan foto masa kini yang sudah bergelimang kekayaan. Nah jika itu dilakukan semata-mata untuk pamer atau untuk riya jelaslah ini juga terlarang. 
Sebenarnya sich bernostalgia dengan masa lalu, silahkan saja. Hanya saja hendaklah semua itu disandarkan semata-mata untuk sekedar muhasabah. Karena sejatinya masa lalu hanyalah kenangan, esok hanyalah rencana dan saat ini adalah kenyaataan. So janganlah terlarut  dengan nostalgia, janganlah terpaku dengan masa lalu. 
Kita tidak boleh terlena dengan permainan karena sejatinya besok adalah misteri, kemarin adalah histori dan hari ini adalah anugerah. Karena itulah hari ini disebut sebagai hadiah. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh baginda Rasulloh saw bersabda; Barangsiapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat”. Hadist marfu
Atau dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”
Sehingga boleh saja ikut tren 10 year challeng, bahkan itu bisa mendatangkan pahala. Kalau semua itu dijalankan semata-mata dalam menyambut seruan atau perintah Allah. Sebagaimana firmanNya;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (QS. Al Hasyr 18) 
Namun apabila perbuatan-perbuatan tersebut, atau challenge yang diikuti tidak memberi kebaikan atau tidak menjadikan kita menjadi lebih baik. ya kita rugi, kita terlaknat, kita celaka! Hidup kita hari ini, bukan kemarin, bukan esok. Siapa yang bisa menjamin hidup kita 10 tahun kedepan? Berapa banyak orang yang dipagi harinya masih bisa tersenyum namun di sore hari dia ditangisi orang karena kepergiannya (telah wafat). 
Untuk itu pahamilah bahwa kemarin adalah muhasabah, esok hanyalah rencana dan hari inilah yang benar-benar nyata. Maka wujudkanlah saat ini juga sebagai sebenar-benar orang yang mendapat keberuntungan. Caranya bagaimana? Allah swt berfirman,”bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr 18). 
Ayat ini merupakan asas dalam melakukan muhasabah dir dan bahwa sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus (taubatan nashuha). Dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin malu kepada-Nya. 
Sungguh rugi seorang yang lalai terhadap masalah ini dan mirip dengan orang-orang yang lupa kepada Allah; lalai dari mengingat-Nya serta lalai dari memenuhi hak-Nya dan mendatangi keuntungan terbatas bagi dirinya dan hawa nafsunya sehingga mereka tidak mendapatkan keberuntungan, bahkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan mereka lupa terhadap maslahat diri mereka, maka keadaan mereka menjadi melampaui batas, mereka pulang ke akhirat dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat serta tertipu dengan tipuan yang sulit ditutupi, karena mereka adalah orang-orang yang fasik.[]

Penulis adalah founder Komunitas Remaja Mujahidah Karawang

Comment