Sitti Komariah, S.Pd. I: Antrean Eksekusi Mati TKI, Rezim Sekuler Tak Punya Hati

Berita939 Views
Siti Komariah,S.Pd.I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tuti Tursilawati, Tenaga
Kerja Wanita (TKW) asal Majalengka, Jawa Barat kembali menambah daftar panjang Tenaga
Kerja Indonesia (TKI) yang dieksekusi mati oleh Arab Saudi dengan tuduhan
membunuh majikannya, padahal sejatinya ia hanya ingin melindungi diri dari
perilaku bejak majikannya yang kerap melakukan pelecehan terhadapnya. Sebelum
Tuti Tursilawati, ada beberapa TKI yang juga telah mengalami hal serupa, yakni
eksekusi mati oleh Arab Saudi, TribunManado.co.id, (31/10/2018).
Yang sangat
disayangkan, dalam kasus Tuti Tursilawati ini dilakukan tanpa ada pemberitahuan
lebih terhadap pemerintah Indonesia. Sebagaimana dilansir kompas.com, (31/10/2018),
presiden Joko Widodo pun menyesalkan tindakan eksekusi mati yang dilakukan oleh
Arab Saudi terhadap TKI asal Majalengka, Tuti Tursilawati. Namun presiden Joko
Widodo pun tak menampik bahwa ini bukanlah pertama kalinya Arab Saudi
mengeksekusi mati WNI yang bekerja di sana tanpa ada pemberitahuan terlebih
dahulu, Tribunnews.com, (31/10/2018).
Maraknya buruh migran
perempuan yang bermasalah di luar negeri tak akan pernah muncul jika ada
jaminan kesejahteraan dari negara  di
dalam negeri. Karena mereka tidak perlu mencari kesejahteraan di luar negeri
dengan meningalkan keluarga mereka, terlebih bagi seorang wanita yang harus
meningalkan tangung jawabnya sebagai ummu wa robatul bait.
Pemerintah telah
gagal menjamin kesejahteraan rakyatnya karena sistem yang diterapkan merupakan
sistem hidup yang salah, dan rusak, serta tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Sistem yang hanya bersandar pada aspek manfaat saja, di mana apabila suatu
aktivitas tidak memiliki manfaat terhadap mereka (para penguasa), maka aktivitas
tersebut tidak akan dipedulikan lagi, dan begitu sebaliknya. Bahkan mereka rela
mengorbankan kesejahteraan rakyatnya demi menggapai apa yang mereka inginkan
dengan membuat kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang.
Sebagaimana yang kita
rasakan bersama, banyak kebijakan yang dilahirkan oleh sistem saat
ini terbukti telah menyengsarakan rakyat, dari mulai impor beras di tengah meluapnya
ketersediaan beras di dalam negeri, semakin melemahnya rupiah, bahan-bahan pokok
terus naik, biaya pendidikan tinggi, biaya kesehatan yang mahal, sehingga muncul
slogan “orang miskin dilarang sakit”, hutang yang terus bertambah, dan
lain  sebagainya, yang semua itu menambah beban hidup di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini makin rumit dan
sulit.
Sistem kapitalisme
memang tak bisa diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya karena
sistem ini tegak di atas asas dan pilar yang batil. Di mana kapitalisme menjadi biang
kerok dari segala permasalahan yang ada di negeri ini. Kapitalismelah yang
justru melahirkan kemiskinan, gap sosial, bahkan eksploitasi wanita, di mana
wanita dituntut harus bekerja di luar rumah untuk mencari tambahan nafkah
keluarga, bahkan tak sedikit dari mereka menjadi tulang pungung keluarga, dan
mengabdikan dirinya di luar negeri dan mempertaruhkan nyawanya demi tercukupinya
kebutuhan hidup keluarganya.
Hal ini jelas berbeda
dengan Islam yang telah terbukti mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara
keseluruhan, dengan memberikan pelayanan pendidikan murah bahkan gratis,
kesehatan gratis, dan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Islam juga
melindungi kaum perempuan dari segala bentuk eksploitasi, dengan mengembalikan
kiprah sejati mereka yaitu menjadi ummu wa rabatul bait, pencetak generasi unggul,
dan cerdas.
Dalam Islam
perlindungan perempuan difasilitasi dengan diterapkannya hukum-hukum Islam
secara kaffah. Di dalamnya terdapat aturan-aturan terkait perempuan yang
menjamin terjaganya kehormatan mereka, baik dalam ranah domestik maupun ranah
publik.
Dalam ranah publik, interaksi
perempuan dan laki-laki sangat dijaga, dengan tidak membiarkan perempuan dan
laki-laki melakukan ikhtilat (campur baur), berboncengan dengan bukan mahram,
dan sebagainya. Interaksi antara laki-laki dan perempuan hanya dibolehkan dalam
hal-hal tertentu seperti, jual beli, pendidikan, dan kesehatan. Begitupun saat
perempuan keluar rumah, mereka diharuskan untuk menutup aurat, dan mereka
dilarang bertabaruj.
Dalam ranah domestik,
Islampun menjaga kehidupan perempuan dengan baik, dan memerintahkan para suami
untuk menafkahi mereka, serta melindungi dan mendidik mereka, serta
memperlakukan dengan baik. “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya
terhadap istri-istrinya,
(HR. At-Thirmidzi). Sehingga tanpa kewajiban
mencari nafkah serta adanya penerapan sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan
rakyatnya, maka para perempuan berpeluang besar untuk hidup nyaman di dalam
rumah mereka, tanpa bingung memikirkan kebutuhan yang tak terpenuhi, dan mampu
menjalankan kewajiban mereka menjadi ummu wa rabbatul bait, pencetak generasi
yang unggul demi peradaban yang lebih baik. Bahkan merekapun masih memiliki
waktu luang untuk melakukan dakwah.
Kemudian bukan hanya
itu saja, Islampun akan memberikan sanksi yang tegas dan keras terhadap semua
jenis tindak kejahatan, termaksud tindak pelecehan terhadap perempuan.
Sebagaimana kisah heroik pada masa kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah, khalifah
kedelapan dinasti Abbasiyah dalam membela kehormatan muslimah dan kehormatan
Islam. Pada saat itu ada seorang muslimah dengan pakaian rapi dan menutup
seluruh auratnya sedang berbelanja. Namun orang Romawi mengaitkan pakaian
wanita tersebut kepada sesuatu, sehingga pada saat wanita itu bergerak, tersingkaplah
auratnya. Kemudian wanita tersebut berteriak dan memangil, Waa Mu’tasimaah!,
yang artinya “dimana kau Mu’tasim, tolonglah aku”.
Saat teriakan wanita
tersebut sampai ketelinga khalifah Al-Mu’Tasim. Beliau langsung memerintahkan
panglima perang untuk mengumpulkan pasukan untuk memenuhi panggilan wanita itu.
Beribu-ribu pasukan
diturunkan, banyak sekali sehingga apabila saat pasukan itu berbaris, maka
pasukan terdepan sudah sampai di kota Ammuriyah, sedangkan pasukan yang ada di
belakang masih di perbatasan kota Baghdad. Sebegitu seriusnya khalifah
Al-Mu’tasim dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala negara yang harus
melindugi rakyatnya. Dan masih banyak lagi kisah-kisah heroik yang tercatat oleh
tinta emas dalam pemerintahan Islam guna mensejahterakan rakyatnya, karena
kepemimpinan dalam Islam merupakan tangung jawab yang akan dimintai pertangung
jawaban, dan seorang pemimpin merupakan perisai dan pelindung bagi rakyatnya “seorang
imam (khalifah) memelihara dan mengatur urusannya terhadap rakyatnya”
(HR.
Bukhari dan Muslim).
Dengan mekanisme yang
sempurna tersebut yang berlandaskan oleh syariah Allah, baik melalui pendekatan
kolektif (oleh negara), maupun pendekatan individual (sistem penafkahan), serta
penegakkan hukum secara konsisten oleh negara, Islam akan mampu mewujudkan
kesejahteraan hakiki bagi seluruh manusia tanpa terkecuali, dan tidak akan
membiarkan semua bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Wallahu a’lam
Bish-shawab.
 []

Penulis adalah anggota komunitas Muslimah Media Konda, Konawe Selatan

Comment

Rekomendasi Berita